12.02 am
Di sebuah ruangan bercat putih, gadis berkacamata itu memandang layar laptop, sibuk memikirkan apa yang akan ditulis dalam akun blognya. Sesekali memandang jam dinding, membetulkan kacamatanya yang melorot, dan mendecakkan lidah tanda kehabisan ide. Memandang telepon selularnya, seperti mengharapkan ada bunyi SMS atau seseorang yang ditunggu akan meneleponnya. Namun sepertinya tidak ada satupun yang membuat handphone itu menjerit. Dia menghela nafas, lalu berpangku tangan.
Dia benar-benar kehabisan ide, lalu beralih membuka jejaring sosial di jendela browser yang lain, chatting dengan kakak angkatannya semasa kuliah. Sibuk membicarakan kapan akan bertunangan dengan si itulah, yang sebenarnya sama sekali tidak membuatnya tertarik. Tapi sekedar menghormati saja, kasihan kalau tidak ditanggapi, mengingat saat jaman kuliah dulu mereka begitu akrab.
Dia kembali menghela nafas, seakan-akan seluruh beban di pundaknya akan menjadi lebih ringan. Dalam benaknya dipenuhi begitu banyak hal. Mulai dari galau karena belum mendapat pekerjaan, rindu kekasih hatinya, rindu akan sahabat-sahabatnya, membayangkan jika seandainya memiliki rumah, sampai flash back masa sekolah dulu. Dia memang sedikit pengkhayal, namun khayalannya itu seperti menjadi mimpi yang harus diperjuangkan untuk diwujudkan di masa depan.
"Nem, kamu nggak tidur?" terdengar suara wanita memanggil gadis itu.
"Ya mah, ntar aku nyusul." suara ayahnya menguap bertabrakan dengan jawabannya.
Lagi-lagi menghela nafas, dia membetulkan letak kacamatanya yang lagi-lagi melorot. Matanya yang hitam kecoklatan di hiasi kacamata berbingkai separuh. Mengerutkan dahi, dan jemarinya sibuk mengetik tuts keyboard, menuliskan semua unek-uneknya. Sesekali bergumam, mendendangkan lagu yang diputarnya, menemaninya begadang malam itu.
Kembali teringat olehnya percakapan dengan sang kekasih beberapa jam lalu via telpon, dia tersenyum. Dia sangat merindukannya, padahal baru dua hari dia pulang ke rumah orang tuanya. Dia mulai terbiasa mendengar suara kekasihnya sebelum tidur, kadang melihat fotonya di handphone untuk sedikit mengobati rasa rindunya. Dia kembali tersenyum, mengingat bahwa kekasihnya itu adalah sahabatnya. Sahabat yang sejak semester satu bersamanya, berbagi suka duka, tertawa dan menangis bersama. Lucu sekali, benar-benar tidak menyangka bahwa ceritanya akan jadi seperti ini. Sahabat jadi cinta. Yang dia harap akan menjadi teman hidupnya kelak.
12:37 am
Ternyata sudah setengah jam berlalu sejak dia mulai menulis di akun blognya. Angin malam terasa dingin, matanya terasa berat, namun masih enggan beranjak dari depan laptop. Masih banyak hal yang ingin dia tulis, mumpung ide dalam pikirannya segar mengalir. Lama sekali dia tidak membuka akun blognya, sampai harus mereset ulang kata sandi. Dia menggaruk kepalanya, menata poni yang menganggu pandangannya. Kembali berpikir apa yang akan dia lakukan selepas wisuda nanti. Orang tuanya berharap dia segera melanjutkan studinya, namun dalam hatinya ingin sekali untuk segera bisa bekerja sebagai teller bank. Sebenarnya sangat melenceng dari ilmu yang dia tekuni, tapi entahlah. Dia juga rindu mengajar, rindu tingkah polah siswanya, tapi rasanya ada yang mengganjal. Karena lowongan sebagai guru pun sulit dia dapatkan, kalaupun untuk sekedar wiyata bhakti di sekolah swasta sepertinya belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya kelak. Sedangkan dia semakin malu untuk meminta jatah uang saku pada orang tuanya, walaupun dia sebenarnya anak semata wayang. Untuk siapa lagi kalau tidak untuknya. Namun dia tidak berpikir aji mumpung, dia ingin segera lepas dari orang tuanya. Memiliki rumah sendiri, menabung untuk segera menyekolahkan adik sepupunya.
Kembali menghela nafas, dia tersadar. Pikirannya terlalu muluk-muluk. Ah, tentu saja dia ingin begini dan begitu. Dia belum tahu bagaimana realita susahnya orang mencari pekerjaan dan penghasilan. Yah walaupun dia dulu pernah merasakan bagaimana lelahnya menjadi tentor privat di sebuah bimbel yang masih merintis usaha. Dengan penghasilan yang bisa dibilang tidak menutup uang transport, dia hanya berniat mencari pengalaman dan mengisi waktu luang saat masih kuliah semester lima dan enam. Tentu saja saat ini berbeda, lain sekali dengan saat itu. Dia perlu mendapatkan pekerjaan yang penghasilannya dapat dia sisihkan untuk segala macam rencananya ke depan.
01:02 am
Kepalanya mulai terasa pening, lagu yang di putarpun tidak lagi terdengar menyenangkan. Sepertinya dia akan menyudahi postingannya malam ini, mungkin akan melanjutkannya lain waktu. Saat dia ingin menuliskan segala unek-uneknya lagi. Dia mulai membaca apa yang ditulisnya tadi, mengoreksi barangkali ada yang salah ketik. Melirik jam, ternyata sudah hampir pagi. Kembali menghela nafas untuk yang terakhir kalinya, memandang layar laptop dan tersenyum. Dia mulai mengukir harapan esok akan lebih baik lagi dari hari ini. Kemudian menutup laptop, mematikan lampu di ruangan itu. Beranjak dari tempat duduknya, beralih ke kamar dan mulai merebahkan badan. Dia mulai memejamkan mata, berdoa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar