"Mbak, orang yang biasa di saung nomor 13 nggak dateng?" tanyaku pada si pramusaji.
"Enteu Neng, udah dua hari ini dia nggak keliatan." si pramusaji menjelaskan, menyodorkan buku menu padaku. Aku menolaknya.
"Pesen yang kaya biasa aja mbak."
"Oh, uluketeuk leunca ya neng.
Sama bandrek, terus pepes ikan nila?" si pramusaji mengulang pesanan ku
setiap makan siang. Aku mengangguk. Dia berlalu dari hadapanku.
Ya,
aku sangat menyukai masakan Sunda di restoran ini. Dengan desain yang
sangat Sunda, menggunakan saung dan aku bisa menikmati makan siangku
sambil melihat pemandangan sawah. Hampir setiap hari aku menikmati santap siang ku. Sembari menunggu pesananku datang, aku selalu mencuri-curi foto disekitar saung dengan kamera profesional yang selalu ku bawa.
Dan, sampai pada akhirnya aku melihatnya disini, di tempat yang sama. Dia selalu menempati saung lesehan nomer 13, ditemani oleh secangkir kopi. Dia menerawang, memandang ke sawah diseberang. Kemudian menggoreskan pensil pada buku sketsa dihadapannya.
Pertama kali aku menangkap
sosoknya, tentu saja lewat lensa kamera ku. Aku agak lupa kapan
tepatnya, mungkin sekitar satu bulan yang lalu. Saat itu dia memakai
jeans abu-abu, dan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku.
Dia tidak terlalu tampan, tapi tidak bisa dibilang jelek juga. Kulitnya yang sawo matang, matanya agak sipit, bibirnya tipis berwarna merah muda.
Setelah aku amati, sepertinya dia setiap hari ke saung ini. Ya, setiap aku makan siang, aku selalu mendapati sosok yang sama di saung nomor 13 itu. Dengan secangkir kopinya, dan tentu saja buku sketsanya. Sungguh aku sangat penasaran, sketsa seperti apa saja yang sedang dia buat. Masa iya setiap hari dia membuat sketsa pemandangan sawah diseberang saung? Di buku sketsa setebal itu?
Ingin rasanya aku memberanikan diri, mendatangi tempat dimana dia sedang menggambar, berkenalan. Tapi rasanya aku tidak seberani itu. Sampai saat ini aku hanya berani memperhatikannya lewat kamera ku. Mata kedua ku.
Hanya saja sudah 3 hari ini aku tidak melihatnya, entahlah. Mungkin dia bosan harus memandangi dan menggambar pemandangan yang sama.
***
Setelah hampir 3 bulan aku tidak melihatnya, aku mendapati sosok itu lagi. Hanya saja sekarang dia menempati saung nomor berapa aku tidak tahu, bukan di nomor 13 lagi. Yang aku heran, kenapa dia selalu ada sebelum kehadiranku. Ingin rasanya aku melihat saat pertama kali dia datang dan memilih di saung mana dia akan menggambar lagi. Tak apa lah, aku jadi bisa mengamatinya lagi, dari kejauhan. Lewat kamera lagi tentunya.
Pernah berulang kali aku menggunakan fasilitas kamera agar aku bisa mencuri foto apa yang sedang dia gambar. Tapi sulit sekali, sampul dari buku sketsa selalu dia gunakan untuk menutupi sketsa-sketsanya. Ah, hampir aku mati penasaran dibuatnya. Mungkin karena aku biasa menangkap semua gambar-gambar yang aku inginkan, menyimpannya dalam mata lensa kamera ku. Ya, aku sangat menyukai tema human interest. Sehingga aku hampir menjadi seperti paparazzi, tapi kenapa yang satu ini sulit sekali.
Dia benar-benar misterius, dan aku penasaran karenanya.
***
Hampir tiga bulan ini aku tergila-gila karena laki-laki itu. Si pembuat sketsa, si misterius yang sungguh ingin sekali ku kenal. Aku ingin sekali bisa berbincang dengannya, duduk disampingnya, melihatnya menggambar. Tapi masa cewek dulu sih yang ngajakin kenalan? Kan malu?
Tapi, aku lelah hanya bisa mengamatinya lewat kamera seperti ini terus. Aku ingin benar-benar bisa berinteraksi langsung dengannya.
Sampai pada suatu saat, aku beranjak dari tempat dudukku. Aku seruput jus manggaku, kemudian menghela nafas. Memberanikan diri, melangkah menuju saung dimana dia sekarang sedang menggambar. Namun, tinggal 5 meter lagi aku sampai, dia beranjak dari duduknya.
Oh tidak, aku malu. Aku kembali berbalik arah dan kembali menuju saung tempat dudukku semula. Jantungku berdebar cukup kencang saat itu. Sayangnya saat aku berbalik melihatnya, dia telah pergi. Aku hanya bisa melihat punggungnya, saat dia berjalan meninggalkan restoran. Aku ambil foto punggungnya. Aku tersenyum memandang foto yang baru saja aku ambil, punggungnya bagus. Tegap, yang hari ini memakai kemeja warna biru tua.
Aku heran, bagaimana bisa? Aku baru pernah melihat foto tampak belakang dari seseorang yang menurutku, indah.
***
Aku telah memutuskan, hari ini aku harus berani untuk mendatanginya, berkenalan dengannya. Sudah hampir mau meledak rasanya memendam rasa penasaran ini. Bosan aku harus menguntitnya setiap hari. Tapi...
Kenapa aku sampai sepenasaran ini ya? Apa iya cuma karena ingin melihat gambar sketsanya? Atau karena orangnya? Entahlah..
***
Ahh, kecewa aku.
Hari ini dia malah tidak datang. Disaat aku sudah mengumpulkan keberanian untuk menemuinya, kenapa dia malah tidak memunculkan batang hidungnya?
Baiklah, hari ini aku belum beruntung. Mungkin aku mesti mencoba lagi besok. Seperti sedang menggosok undian berhadiah saja.
Saat ku langkahkan kakiku meninggalkan saung yang ku tempati, Seorang pramusaji memanggilku.
"Neng, tunggu."
Aku berbalik, dan mbak pramusaji mengejarku. Dia memberikan sebuah buku, buku sketsa lebih tepatnya.
"Ini neng, ada yang nitipin buku ini untuk neng."
"Nuhun." Aku menerimanya, lalu segera meninggalkan restoran.
***
Aku terhenyak saat membuka lembar demi lembar buku sketsa yang aku pegang saat ini. Ini miliknya. Milik laki-laki yang aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Tapi aku penasaran karenanya.
Dan yang lebih membuatku terkejut, isi daripada buku sketsanya adalah sketsa ku. Ya, seluruhnya sketsa ku. Sketsa saat aku baru saja memasuki saung, sedang memesan makanan, sedang makan, sedang menyedot jus apa lah aku lupa, sedang menyendok bandrek, sedang melihat hasil jepretanku, dan saat melihatnya. Semuanya terekam indah di buku sketsanya, dibuat langsung oleh tangannya.
Bagaimana mungkin? Ternyata dia telah lebih dulu mengetahui aku, mengamati aku, dan merekamnya dalam goresan-goresan indah ini.
Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Semoga saja besok aku dapat bertemu dengannya.
***
Sudah hampir lebih dari dua jam aku menunggu kehadirannya, tapi dia belum muncul juga. Aku harus menunggunya. Aku ingin mengucapkan terimakasih atas seluruh goresan tangannya yang indah itu.
Untuk membunuh rasa bosan menunggu kedatangannya, kembali aku meraih kamera ku. Aku potret beberapa kejadian, seperti saat seorang pengunjung sedang menyeruput kopi panas dihadapannya, lalu seorang ibu yang membantu anaknya mencuci tangan selepas makan siang kali ini.
Kemudian, lewat mata lensa ini lagi, aku menangkap sosoknya lagi. Aku terkesiap. Dia datang, mengenakan jeans hitam, kemeja abu-abu, seperti biasa digulung sampai siku.
Sejenak otakku berfikir, bagaimana bisa dia merekam semua kegiatanku saat di saung? Padahal waktu itu aku seperti belum melihatnya, atau lebih tepatnya saat aku melihatnya, dia terlihat sibuk sekali memandang dan menggoreskan pensilnya. Sepertinya dia tidak pernah sekalipun menyadari keberadaanku, apalagi memandangku.
Ahh sudahlah, lebih baik aku segera menghampirinya. Dan menanyakannya langsung.
"Hai, boleh duduk disini?" Aku memberanikan diri menyapanya, menghampiri saung dimana dia berada. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Sepertinya dia sedang mendengarkan musik, terlihat dari earphone yang terpasang di telinga kirinya.
Aku terdiam cukup lama, kemudian merogoh isi dalam tas ku. Mengeluarkan buku sketsa miliknya, lalu menyodorkannya.
"Ini, milik kamu?"
Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Aku baru pernah melihat mata seindah itu. Selama sepersekian detik aku terbius oleh tatapannya.
"Errr... Gambarnya bagus sekali, apa ini untukku?" aku bertanya sekali lagi, masih berbasa basi. Sumpah, saat ini posisi duduk ku nggak nyaman banget, aku grogi saat menatapnya.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk, lalu tersenyum.
Aku mulai bingung, kenapa dia belum mengeluarkan sepatah kata pun?
Atau dia sedang batuk? Suaranya serak? Atau mungkin radang tenggorokan?
Sesaat kemudian datanglah mbak pramusaji, menyodorkan buku menu kepadanya. Dia hanya menunjuk tulisan "HOT CHOCOLATE". Oh, aku baru tahu sekarang, ternyata yang selama ini dia minum bukan kopi, melainkan cokelat panas.
Sembari menunggu pesanan kami datang, aku dan dia hanya saling berdiam diri. Oh ya, aku sampai lupa. Aku belum memperkenalkan diri.
"Err, namaku Iko." Dia cuma tersenyum, lalu mengambil handphone. Mengetik sesuatu, lalu memberikannya padaku. Tertera di layar, "NANDA".
Aku tersenyum, namanya bagus. Nanda, sesuai sama wajah dan perawakannya yang lumayan tinggi. Tapi, masih ada yang mengganjal. Kenapa dia belum mengeluarkan sepatah kata pun?
"Kamu lagi sakit?" Dia hanya menggeleng.
"Terus kenapa kamu dari tadi nggak ngomong?" tiba-tiba raut wajahnya berubah. Dia memandang ke arah sawah diseberang saung. Masih terdiam. Aku merasa tidak enak.
"Ya udah, maaf. Kalo kamu nggak bisa jawab nggak papa. Aku pergi aja ya, maaf udah ganggu waktu kamu. Makasih banget untuk gambar-gambarnya." Aku mengambil buku sketsa yang diberikan olehnya, lalu beranjak dari dudukku.
Tiba-tiba tangannya mencengkeram lenganku, mencegahku untuk pergi dari situ. Aku menoleh, memandangnya. Tatap matanya seolah-olah menyuruhku untuk tetap duduk disitu. Aku pun mengurungkan niat untu pergi. Tak lama, pesanannya datang. Dengan segera dia menyeruput cokelat panasnya. Kemudian meraih handphonenya lagi, mengetik sesuatu. Memberikan handphonenya kepadaku.
"AKU BAKAL NGOMONG, ASAL KAMU JANJI SATU HAL. KAMU MASIH MAU JADI TEMENKU."
Aku tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil lagi handphonenya. Kemudian, senyumku memudar.
Dia menggerakkan tangannya di ruang kosong, yang jelas aku tidak tahu apa maksudnya. Hanya saja saat dia melakukannya, suaranya tidak jelas, Ya, dia menggunakan bahasa isyarat. Dia seorang tunarungu dan tuna wicara. Earphone itu ternyata alat bantu dengar. Seketika duniaku terasa gelap.
Jadi? intinya Iko nggak suka lagi sama nanda karena dia tunarungu atau dunia gelap karena kasian?
BalasHapusya...
Hapusdia kaget karena Nanda tuh punya kekurangan, gitu aja.
aku kira sii gitu, coba besok aku tanyain sama si Iko.
bener kan kalo Iko itu cewek, Nanda itu cowok?
BalasHapuspertanyaan bodoh! -___-
Hapus