My Read Lists

Jumat, 04 Januari 2013

Susah Senang Menjadi Anak Semata Wayang

Kalian pernah denger sama istilah yang disebut dengan anak semata wayang?
Atau mungkin anak tunggal?
Ya, sebenernya sih sama aja, intinya tentang seorang anak dalam keluarga inti yang nggak punya saudara kandung, baik kakak maupun adik. Dan itulah yang aku rasakan sampai saat ini.

Sebenernya, aku nggak yang bener-bener jadi anak tunggal sih. Waktu aku umur 6 tahun, Mom pernah mengandung adikku sampai umur kandungannya berapa bulan itu aku lupa. Tapi yang jelas nggak nyampe 5 bulan deh kayaknya, terus Mom keguguran deh. 3 tahun kemudian, Mom hamil lagi. Aku seneng laah, udah kepingin banget rasanya punya adik. Apalagi Mom bilang setelah di USG janinnya laki-laki. Rasanya kaya dapet permen satu truck. :D
Tapi Tuhan berkehendak lain, pas kandungan udah umur berapa bulan tuh, Mom keguguran lagi. Ya sudah, sejak saat itu aku udah nggak kepingin punya adik lagi. Selain umur Mom yang udah nggak memungkinkan untuk hamil lagi, aku juga udah kelewat nyaman dengan statusku sebagai anak semata wayang.

Sekarang langsung aja deh kita kupas tuntas, apa sih susah senangnya jadi anak tunggal a.k.a anak semata wayang?? So pasti, ini versi diriku sendiri. Cekidot!

SENANG-nya, karena:
1. Dapetin seluruh perhatian dari orang tua. Secara yaaa, aku nggak punya temen yang disebut kakak atau adik. Padahal kayaknya enak kali yee punya kakak yang bisa nganterin kemana-mana (lo kira tukang ojek?), atau adik yang bisa disuruh-suruh (lo kira pembantu??). Hahaha, pantes aja Tuhan nggak kasih aku kakak atau adik, habisnya tujuanku udah jahat gitu. (yang ini cuma mengada-ada kok, beneran.)
2. Hampir semua yang diinginkan sama anak tunggal tuh diturutin. Ya iyalah mau buat siapa lagi coba orang anaknya cuma satu doang. Tapi yah temen-temen, ortu ku nggak kaya gitu, mereka emang tetep mencukupi segala kebutuhanku. Hanya saja, mereka nggak membiasakanku untuk selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Mereka mengajarkanku bahwa nggak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga, tapi melihat dari skala prioritas. Ingin belum tentu butuh. Selain itu, mereka mengajarkan aku buat bersabar, dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hal yang aku inginkan.

SUSAH-nya, karena:
1. Apa-apanya serba sendiri. Itu sih pengalaman aku pribadi ya, karena ortu nggak membiasakanku buat apa-apa minta bantuan. Harus dicoba sendiri dulu, kalo udah maksimal usahanya tapi tetep nggak bisa baru deh minta bantuan sama orang lain. Tapi nggak papa sih, toh aku juga udah terbiasa apa-apanya serba sendiri. Lebih nyaman malah.
2. Dapet predikat sebagai anak manja. Huh, ini nih yang aku rada nggak suka. Tiap kali ketemu sama orang yang kemudian baru mengetahui kalo aku ini anak tunggal, pasti mereka melontarkan perkataan, "Wah, manja dong!". Enak aja, nggak semua anak tunggal kaya gitu kali. Banyak anak tunggal yang udah dilatih mandiri sejak kecil sama orang tuanya. #kok jadi gue yang sewot?
3. Di cap egois. Yah, untuk yang satu ini aku nggak bisa mengelak lagi. Well, aku akuin selama menjadi anak tunggal (sampai saat ini malah) aku emang rada sulit buat mengekang keinginan pribadiku, karena aku terbiasa sendiri dan nggak pernah merasakan yang namanya berbagi. Intinya, aku sering mengabaikan orang-orang disekitarku. Ya nggak peduli lah, mau mereka marah, benci, atau sakit hati karena sikapku.
4. Sulit beradaptasi, sehingga terkesan eksklusif. Mungkin bagi kebanyakan orang yang mengenal aku, mereka pikir aku orang yang supel, mudah bergaul, dan ramah. Padahal ya, aku susah banget buat beradaptasi sama lingkungan dan orang-orang baru. Rasanya tuh kaya terdampar di planet lain, jadi canggung dan bingung buat memulai obrolan dari mana dulu. So, buat yang belum kenal aku, maaf aja kalo aku terkesan jutek dan jahat karena nggak mau senyum atau nyapa duluan. Itu karena aku emang bingung, bukan karena aku sombong. #membela diri sendiri
5. Jadi orang yang introvert dan pencemburu. Lagi-lagi mesti ku akuin, beginilah yang ku dapat setelah menyandang gelar anak tunggal. Rasanya bukan hal yang mudah buat menumpahkan keluh kesah sama orang lain, mendingan buat diri sendiri aja gitu. Lagian penting yah ngebagi masalah sama orang lain? Nggak nyelesein masalah itu juga kan? (Tuh kan, keluar lagi deh sifat egoisnya!) Pencemburu, nggak akan lengkap mewakili diriku tanpa kata "banget". Gimana ya? Ya balik lagi karena aku ini anak tunggal, semua perhatian biasa cuma buat aku. Terus tau-tau muncul orang lain yang hadir, dan otomatis membagi perhatian orang-orang disekitarku. Ihh, nggak enak banget!!

Ya, kira-kira begitulah yang ku rasakan selama menyandang status anak semata wayang.
Namun begitu, semua yang udah aku paparin semua diatas kan murni subjektif menurut sudut pandangku, secara aku sendiri yang mengalaminya.
Sedangkan menurut Dian Ibung, Psi, seorang psikolog lulusan Psikologi Klinis, UNPAD dan penulis beberapa buku seperti ‘Stres pada Anak’ dan ‘Mengembangkan Nilai Moral pada Anak’, mengakui bahwa menjadi anak tunggal memang memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri. Berikut pemaparannya:

Kelebihan si anak tunggal:
  • Undevided attention from the parents. Kondisi ini membuat anak tunggal merasa aman, penuh kasih sayang, dan percaya diri sehingga memudahkannya untuk mengembangkan sikap mandiri.
  • Perhatian orangtua yang terfokus memberi kesempatan pada anak tunggal untuk menemukan dan mengembangkan potensinya secara optimal.
  • Secara umum, anak tunggal kemungkinan juga lebih mudah terpenuhi kebutuhan materinya. Kondisi finansial orangtua akan dialokasikan untuk kebutuhan anak tersebut.
Kekurangan jadi anak tunggal:
  • Ia harus berjuang agar tidak dianggap sama dengan stereotip anak tunggal yang manja, egois, atau sulit beradaptasi dengan lingkungan. Misalnya saat ia ‘sedikit’ manja, ia sudah dianggap benar-benar anak manja, padahal jika anak lain yang bukan anak tunggal melakukannya, belum tentu akan diberi label demikian.
  • Secara psikologis, ia butuh bantuan stimulus dari lingkungan di luar keluarga inti dalam hal bersosialisasi, terutama dengan teman sebaya karena di rumah tidak ada saudara kandung.
  • Perhatian yang terpusat dari orangtua memberi beban psikis bagi anak tunggal yang merasa harus selalu menunjukkan bahwa dirinya memang yang terbaik (overachiever). 
Ternyata apa yang aku rasain juga udah diamatin sama psikolog, jadi mungkin udah umum dan nggak heran kali ya apa yang aku rasain sebagai anak tunggal tuh kaya gitu. Hmm, terlepas dari semua sudut pandang itu, aku sedang berusaha kok mengurangi sifat egois, introvert, pencemburu dan sulit beradaptasi. Toh semua bawaan itu nggak memberikan efek yang baik buat hidupku. #tolong dibantu ya teman-teman :)

Well, aku harap si buat kalian yang sama-sama anak tunggal, kita nggak sendirian kok. Jangan pernah merasa kesepian cuma karena kita nggak punya saudara kandung. Kita masih punya orang tua, keluarga, saudara, teman dan juga sahabat. Kita juga mesti berusaha buat jadi yang terbaik, yang bisa dibanggakan oleh orang tua kita. Secara ya, cuma kita satu-satunya harapan mereka, nggak ada yang lain gitu. Buat yang punya kakak dan adik, bersyukurlah. Karena kalian bisa ngrasain senangnya punya saudara kandung, nggak kesepian macam kita.   

4 komentar:

  1. Biarpun aku bukan anak tunggal, tapi dari sononya kau introvert dan nggak gampang percaya orang. Yah gimana nyamannya aja deh, sodara itu nggak cuman butuh darah

    BalasHapus
    Balasan
    1. gimana yaa??
      kan ini postingan soal anak tunggal, bukan mslah introvert..
      gimana sih lo?

      Hapus
  2. setelah baca yang menurut Dian Ibung, Psg, aku jadi males baca. Jadi inget referensi.

    tapi menurutku beban psikologi jadi anak tunggal lebih ringan dari anak terakhir. (emang siapa yang lagi ngomongin beban sih?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... itu ak masukin sbg referensi cz buat buktiin aja kalo ternyata apa yg aku alamin itu nggak subjektif, udah diteliti dan itu emang dialamin hampir sama semua anak tunggal..

      gmna bs lebih ringan???
      secara jadi harapan satu2nya???

      Hapus