My Read Lists

Senin, 10 September 2012

Bosan ber-Tere Liye lagi

Sudah hampir setengah tahun aku membaca novel-novel karangan Tere Liye, yang sebenarnya belum aku miliki satupun novelnya. Novel pertama beliau yang aku baca adalah Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, aku baca novel itu sekitar akhir tahun 2011 lalu.
Menemukannya di perpustakaan kampus, dan segera membawanya pulang. Ternyata cukup menyentuh, bercerita tentang kelam rumitnya hidup Rey sejak kecil sampai dia tua. Selesai membaca novel itu, aku lanjutkan dengan membaca Bidadari-bidadari Surga dan Hafalan Shalat Delisa. Dua novel ini pun aku masih meminjamnya di perpustakaan kampus, well, novel-novel itu pun sukses membuatku nangis sesenggukan di tengah malam. Cerita hidup Kak Laisa dan Delisa bener-bener mengharukan. Aku semakin kagum dengan penulis satu ini, bagaimana bisa dia menghipnotis pembacanya hingga bisa ikut merasakan apa yang terjadi pada karakter yang dikarangnya. Padahal si Tere Liye ini ternyata seorang laki-laki, nama aslinya Darwis. Tere Liye ternyata hanya nama pena-nya sebagai seorang penulis. Kok bisa ya??

Kemudian aku lanjut membaca novel-novel beliau lainnya seperti Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin; Ayahku (Bukan) Pembohong; Burlian; Pukat; dan Eliana. Aku ulangi sekali lagi, semuanya aku pinjam dari perpustakaan kampus. Cukup satu kata buat mewakili semua karyanya, keren! Tapi masih banyak novel-novel beliau yang belum aku baca, kaya Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah; Sunset Bersama Rosie; Sang Penandai; Moga Bunda Disayang Allah; dan yang terbaru Negeri Para Bedebah dan Berjuta Rasanya
Hampir sering aku mengutip kata-kata yang aku rasa bermakna dari novel-novel Tere Liye ke postingan jejaring sosialku, karena (memang) aku pikir beliau itu pintar memilih kata dan meramunya agar menjadi enak dibaca dan mudah dipahami. Cerita-ceritanya (pun) penuh nilai-nilai kehidupan yang bisa dibilang jarang dimiliki oleh penulis-penulis lain (yang seringnya membuat cerita berkisar tentang cinta-cintaan anak muda jaman sekarang tanpa mengindahkan nilai-nilai moral kehidupan).
Aku pun tidak sengaja menemukan fan page Tere Liye di jejaring sosial yang biasa ku pakai. Tanpa pikir panjang, aku langsung klik icon "Like". Menyenangkan sekali rasanya bisa berinteraksi dengan beliau lewat dunia maya, membaca postingannya, catatannya, pokoknya semua yang ada di fan page nya itu. Aku pun akhirnya bisa mengenal karakter beliau itu seperti apa lewat tulisan-tulisannya di fan page itu, tidak hanya lewat novelnya saja.
Sampai akhirnya aku sering sekali share atau copy paste postingan beliau di status jejaring sosialku, hampir setiap postinganku adalah kutipan dari tulisan-tulisan beliau. Teman-teman pun sampai apal dan komen "sekali-kali jangan Tere Liye ngapa?". haha lucu sekali, suka-suka aku doooongg...
Tapi lama-lama aku berpikir, bener juga kali ya temenku yang komen itu, kenapa juga postinganku selalu kutipan Tere Liye. Aku pun mulai malas ber-Tere Liye lagi. Alasannya ada dua. Pertama, aku mulai tersaingi oleh teman-temanku yang lain, yang notabene sekarang ikut-ikutan aku posting dengan mengutip dari Tere Liye fan page. Kedua, aku pingin lah bikin kata-kata yang sekiranya satu tipe macam buatan Tere Liye tanpa menghilangkan bahwa itu adalah ciri khas tulisan ku.
Bukan si lagi sok ngeksis pingin ikut-ikutan macam penulis profesional kaya beliau, karena tujuanku sebenarnya mengutip tulisan-tulisan beliau itu agar teman-teman di jejaring sosialm bisa mendapatkan satu nilai kehidupan yang mungkin belum terbersit dalam pikiran mereka. Agar mereka tidak berpikir bahwa tulisan Tere Liye itu "wah, ini sih gue banget." Tapi lebih ke.. ehmm, gimana ya?? Biar aku dan teman-teman semua semakin lebih baik lagi ke depannya, lebih menghargai dan menerima apa yang udah Tuhan takdirkan, tentu saja tanpa mengabaikan nilai-nilai dan prinsip kehidupan yang baik.
Hal-hal yang Bang Tere Liye ajarkan dan sangat mengena buatku tuh pesan beliau yang ini nih:
1. Jangan suka bergunjing. Bergunjing itu sama aja dengan memakan bangkai saudara sendiri. (bisa dibaca di novel Pukat atau Burlian, aku rada lupa.)
2. Kejujuran adalah hal yang nggak boleh dilupakan. Dalam keadaan apapun, kita harus senantiasa jujur.
Well, mulai sekarang aku nggak akan ber-Tere Liye lagi, aku mau bikin pesan-pesan yang bernilai kehidupan, tapi dari pemikiranku sendiri. Makasih Bang Darwis..



Cc: https://www.facebook.com/darwistereliye

2 komentar: