My Read Lists

Rabu, 14 November 2012

Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 9

Oktober 2011

Emelly segera turun dari angkot di depan pintu masuk RS Gatot Subroto, panas terik begitu menyengat kulit. Tas ransel penuh dengan buku dan media mengajarnya tadi bahkan tidak terasa berat lagi baginya. Yang dia pikirkan adalah segera bertemu dengan ibunya, ibunya yang baru saja tadi pagi ditemuinya.

"Bu, Nida berangkat dulu. Doain Nida ujian ngajar nanti sukses ya bu." Emelly menggenggam erat tangan ibunya.
"Allah selalu bersamamu Da." tangan ibu yang satunya membelai lembut kepala Emelly, lalu tersenyum.

Koridor sepanjang rumah sakit tidak terlalu ramai, mungkin karena jam bezuk belum dibuka. Emelly melangkah cepat, melihat setiap papan nama ruangan rawat inap yang dia lewati. Setelah melihat papan bertuliskan Cendrawasih 17, Emelly memutar kenop pintu. Dilihatnya Dira yang masih memakai seragam putih abu-abu sedang berdiri disamping ayahnya. Beliau sedang mendekatkan wajahnya kepada sang ibu yang terbaring. Sisa air mata masih terlihat jelas di wajah Dira.
Nafas Emelly semakin memburu, peluh yang menetes di dahi tak dihiraukannya saat Pak Fauzi melambaikan tangan, memberi isyarat agar Emelly segera mendekat. Emelly mendekatkan wajahnya kepada sang ibu yang ternyata telah dipanggil menghadap-Nya. Pak Fauzi mengelus punggung Emelly, berbisik, "Tabahkan hatimu. Tawakal."

"Ibu." Emelly membelai lembut wajah ibunya yang tersenyum, terlihat bahagia diakhir menutup usia. Emelly tak sanggup membendung air matanya lagi, dipeluknya sang ibu dengan erat seolah tak ingin ibunya pergi.
"Ibuuuu... jangan tinggalin Nida buu.. Bangun buu, banguuuun..." Emelly mulai histeris, mengguncang-guncangkan tubuh ibunya. Dira memegang tubuh kakaknya yang mulai kalap. Emelly berusaha melepaskan tangan adiknya, memberontak.
"Da, ikhlaskan. Ibumu sudah tenang." Pak Fauzi mengambil alih tubuh Emelly yang tidak mau disentuh adiknya.
"Lepasin yah! Lepasin! Ayah jahat, kenapa nggak kasih tau Nida sebelum ibu pergi. Kenapa yah? Ibu jahat, ibu nggak nungguin Nida pulang dulu." Emelly kian lepas kendali, tak mau melepas pelukannya pada sang ibu.
"Mbak, jangan kaya gitu. Ini udah kehendak Allah, ikhlasin ibu mbak." Dira memeluk Emelly dari belakang. Emelly tak menghiraukannya, terus terisak sambil memeluk ibunya yang telah tutup usia.

***

Emelly berlarian menuju lobi RSCM, segera menghambur ke bagian resepsionis dan bertanya dimana ruang ayahnya sedang dirawat. Lalu Emelly menarik tangan Dira menuju lift dan segera ke lantai 11. Koridor rumah sakit yang berwarna putih, lampu neon berpendar dimana-mana menyilaukan mata. Pun terasa begitu sempit bagi Emelly saat dia menghambur keluar dari lift yang membuatnya susah untuk bernafas, seluruh pikirannya tadi kembali ke satu tahun yang lalu, saat ibunya meninggal. Dia mulai cemas, mulai khawatir. Dari kejauhan, dilihatnya Ray yang masih berseragam POLRI duduk di luar ruangan operasi.

"Ray, Ayah dimana?" Emelly bertanya dengan nafas terengah-engah. Dira mengangguk saat Ray memandangnya.
"Sabar Em, ayahmu sedang di ruang operasi." Ray membimbing Emelly untuk duduk, menenangkan diri.
"Mas, aku pergi beli air minum dulu buat mbak Nida bentar ya." Ray mengangguk saat Dira meminta izin padanya.
Ray memandang Emelly yang tidak melepaskan pandangannya dari pintu ruang operasi, berharap pintu itu segera terbuka. Emelly tidak henti-hentinya menggerakkan kaki seperti orang yang sedang menjahit, sedang tangannya dikepalkan di atas lutut. Wajah Emelly terlihat sangat cemas, kerudung abu-abunya terlihat sedikit berantakan, beberapa helai rambut menyembul keluar di bagian pipi. Ray berusaha akan membetulkannya, tapi saat baru akan menyentuh pipi Emelly, Emelly bangun dari duduknya. Pintu ruang operasi terbuka.

Emelly segera menghambur ke arah sang dokter, "Gimana keadaan ayah saya Dok?"
"Anda keluarga pasien?" tanya dokter.
"Ya Dok, saya putrinya."
"Kami kehabisan stok darah golongan AB rhesus positif, apa ada dari anggota keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama?"
"Golongan darah saya sama dengan ayah Dok, silakan bisa diperiksa." jawab Emelly dengan mantap.
"Baik, silakan ikuti saya, kita lakukan pemeriksaan dulu apakah darah saudara bisa didonorkan ke pasien atau tidak."
Emelly mengangguk, lalu menatap Ray. "Gue tunggu disini Em." Ray menyentuh bahu Emelly. Kemudian Emelly bergegas mengikuti sang dokter untuk menjalani pemeriksaan.

Tak lama berselang, Dira muncul membawa kantong plastik berisikan beberapa botol air mineral.
"Mas, mbak Nida kemana? Operasinya belum selesai?" Dira duduk disebelah Ray, memberikan sebotol air mineral.
"Tadi dokter udah keluar, tapi butuh donor darah AB positif. Mbak mu sedang menjalani pemeriksaan dulu, di cek dulu bisa didonorin atau nggak." jawab Ray sambil membuka tutup botol, menenggak hampir separuh dari isi botol.
"Hmm.. semoga keadaan ayah cepet membaik. Ehh mas, gimana ceritanya kok ayah bisa ketembak gitu?" tanya Dira penasaran.
"Uhuk..huk.." Ray tersedak, kaget mendengar pertanyaan Dira.
"Mas, ceritain dong. Gue pingin tau kronologinya." desak Dira.

"Ray..!!"

Belum sempat Ray menjawab pertanyaan Dira, tiba-tiba Han muncul bersama Kinanti. Menghampiri Ray yang beranjak dari duduknya, disusul oleh Dira.
"Lo nggak papa Ray?" tanya Han.
"Iya tenang aja Han, gue nggak papa." jawab Ray.
"Kinanti? Ngapain lo disini?" tanya Dira bersamaan saat Ray menjawab pertanyaan Han.
"Lho? Kalian saling kenal?" tanya Ray dan Han bersamaan, menuding Kinanti dan Dira.
"Iya mas, Anti sama Dira satu kelas. Nah kakak Dira itu yang guru Bahasa Inggris di kelas Anti ." Kinanti menjelaskan.
"Oh, jadi mas Ray dan Briptu Handika itu kakak lo?" tanya Dira.
"Iya Ra."
"Kamu... kayaknya saya pernah lihat, tapi dimana ya?" Han mengingat-ingat wajah Dira.
"Saya yang dulu pernah mas tolongin pas ada kecelakaan."
"Oh iya ya, inget saya. Anti juga cerita pernah nengokin temen sekelasnya, dia bilang saya yang nolongin pas kecelakaan. Ternyata kamu toh cowok yang di.."
Kinanti langsung mencengkeram lengan Han, "Mas Han!"
"Eh maap, hampir aja keceplosan.. hehe" Han terkekeh.

Sementara Kinanti dan Dira melanjutkan perbincangan mereka, Ray mengajak Han sedikit menjauh ke arah pintu keluar darurat, sepertinya ada hal yang ingin mereka bicarakan.
"Kronologinya gimana Ray?" Han mulai menginterogasi kakaknya.
"Tadi siang, Pak Fauzi kirim gue SMS, gue mesti segera ke kantor. Gue bingung, tumben banget beliau suruh gue segera ke kantor. Apalagi hari ini bukan giliran gue piket, gue juga masih jalan sama anaknya waktu itu."
"Oh, yang guru Bahasa Inggrisnya Anti?" Han memastikan.
"Iya, dia temen SMA gue. Gue langsung pulang dan ganti seragam, terus meluncur ke kantor. Ternyata ada laporan dari warga, ada rumah yang udah beberapa bulan terakhir ini digunakan orang-orang yang nggak dikenal. Kita langsung koordinasi sama Densus 88 buat gerebek tuh lokasi.
"Terus?" Han menunggu lanjutan cerita Ray. Tanpa disadari, dari balik tembok ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.

"Semuanya bener-bener di luar dugaan gue Han. Lo tau kan, jaringan teroris yang akhir-akhir ini marak muncul. Mereka mulai berani menunjukkan diri secara terang-terangan, dan sasarannya aparat kepolisian. Kayaknya mereka dendam banget karena pemimpin-pemimpin mereka satu persatu udah masuk ketangkep, bahkan ada yang udah dihukum mati."
"Hmm.. gue rasa, pelakunya itu anggota rekrutan mereka yang baru. Beberapa komplotan mereka yang notabene masih buron, kayaknya mulai nyiapin bibit baru." Han berspekulasi.
"Mungkin. Setelah kita datengin lokasinya, ya ternyata bener itu sarang teroris baru. Baku tembak sama mereka nggak terhindarkan lagi, mereka berani melawan Han. Persenjataan mereka lengkap, beberapa bom rakitan dan senjata juga udah diamankan."
"Kok bisa Pak Fauzi ketembak gitu?"
"Gue.. waktu itu gue hampir aja ketembak. Pak Fauzi nyoba buat nyelametin gue dan nembak tuh teroris duluan, tapi beliau kalah cepet. Beliau ketembak di dada kanan." Ray terlihat sangat merasa bersalah. Seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
"Astaghfirullah, terus gimana?"
"Ya gue langsung tembak tuh teroris lah, pas kena paha kiri. Sekarang dia lagi di interogasi."

Emelly tiba-tiba muncul dari arah belakang Ray dan Han, "Ray."
Ray terkejut bukan main, wajahnya terlihat bingung, takut Emelly mendengar semua pembicaraannya dengan Han barusan.
"Ehh, iya Em. Kenapa?" Ray berusaha menutupi kegugupannya.
"Tekanan darahku terlalu rendah, jadi nggak bisa didonorin ke ayah. Golongan darah Dira B. Gue mesti gimana Ray?" Emelly bingung, matanya mulai berkaca-kaca.
"Butuh golongan darah apa?" Han langsung bertanya.
"AB positif." Ray dan Emelly menjawab hampir bersamaan.
" Saya bisa bantu Miss." celetuk Kinanti yang muncul bersama Dira.
"Beneran kamu bisa?"
"Iya Miss, ayo cepetan kita periksain. Jangan buang waktu." desak Kinanti. Tanpa pikir panjang, Kinanti menggandeng Emelly untuk segera memeriksakan darahnya.

***

"Ra, ngapain lo disini?" Kinanti mendekati Dira yang sedang duduk sendiri di lobi lantai 11.
Dira memandang Kinanti dengan tatapan tajam, dingin. "Duduk, lo liatnya gue lagi ngapain?" ucap Dira ketus. Kinanti kaget dengan apa yang baru saja Dira ucapkan. "Dira kenapa jadi ketus gini sama gue?" ucap Kinanti dalam hati.
"Kalo nggak ada yang lo mau omongin, mending lo pulang aja deh An." usir Dira setelah Kinanti lama berdiam diri disebelahnya.
"Lo kenapa jadi berubah gini Ra? Padahal gue nggak bikin salah sama lo. Malahan gue donorin darah buat ayah lo."
"Ohh, jadi karena lo udah donorin darah buat ayah gue, gue mesti gimana? Gue mesti bilang 'makasih ya Anti, lo udah nolongin ayah gue. Gue nggak tau mesti gimana ngebales semua kebaikan lo.' Iya?" perkataan Dira baru saja melukai perasaan Kinanti.
"Lo.. kenapa tiba-tiba jadi berubah gini Ra? Tadi juga lo baik-baik aja." Kinanti berusaha sabar, menyentuh lengan Dira.
Dira menepis tangan Kinanti dengan kasar lalu berdiri dari duduknya, "Iya! Sebelum gue tau penyebab ayah gue sampe ketembak kaya gitu gara-gara kakak lo!!" mata Dira menatap tajam, api kemarahan terpancar sangat jelas dimatanya.
"Maksud lo apa?" mata Kinanti mulai berkaca-kaca.
"Tanya sendiri sana sama si brengsek Ray!!"

Plaakkk!!

Kinanti menampar Dira. Dia tidak tahan lagi dengan semua ucapan kasar Dira. Beberapa suster yang bertugas dan orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.
"Lo boleh marah sama gue Ra, tapi lo nggak perlu sampe ngomong kaya gitu tentang Mas Ray. Gue nggak ngerti apa maksud lo ngomong kaya gitu." air mata mulai membasahi wajah Kinanti.
"Nggak usah deh lo nangis gitu, air mata buaya. Lo sama Ray tuh sama aja, munafik. Gue tau lo naksir gue kan? Terus lo pikir, setelah lo donorin darah buat ayah, gue bakal suka sama lo? Nggak usah mimpi deh lo!"
"....." Kinanti tercekat mendengar perkataan Dira, hatinya terluka dalam.
"Sampe kapanpun gue nggak bakalan maafin abang lo yang brengsek itu, dan jangan harap gue bakal suka sama lo. Ngerti...!!" mata Dira menyala-nyala, penuh kebencian.

"Zan... Ayah..." Emelly tiba-tiba muncul, dengan wajah penuh kesedihan. Air mata membanjiri wajahnya.
Dira menghambur mencengkeram lengan Emelly, "Ayah kenapa mbak?"
Emelly tak mampu berkata-kata lagi, hanya terisak. Dira berlari menuju ruangan dimana ayahnya dirawat. Saat Dira hendak membuka pintu, bersamaan dengan Ray yang membuka pintu dari dalam.
"Minggir lo...!!" ucap Dira kasar, menabrak bahu Ray.
Emelly menangis tertunduk, Kinanti mendekati dan mengenggam tangannya. Emelly memeluknya, menangis sejadi-jadinya. Ray memandang mereka dari depan kamar rawat Pak Fauzi. Dia merasa sangat bersalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar