"Ternyata selama ini lo yang sering kasih bunga buat kakak gue?"
Dira memergoki seseorang yang sangat dikenalnya sedang bersiap menaruh setangkai bunga mawar merah di atas jok motor matic milik kakaknya.
"Gu..gue..." laki-laki itu tergagap, salah tingkah. Bunga mawar merah yang dipegangnya terjatuh.
"Gue kira malah Arga dibalik semua ini, ternyata lo." Dira tersenyum mengambil bunga mawar dan menyerahkannya kembali pada sosok yang dia kenal sebagai Agung, teman yang duduk sebangku dengan Arga, di depan bangkunya.
"Gue.. gue bisa jelasin sama lo Ra." Agung benar-benar terkejut, tak menyangka Dira memergokinya. Dari kejauhan Dira melihat Emelly menuju parkiran, hendak pulang.
"Sini lo." Dira cepat menarik Agung untuk bersembunyi, sebelum Emelly memergoki mereka berdua. Setelah kepergian Emelly, Agung mengajak Dira ke lapangan basket, dia ingin menjelaskan semuanya.
"Gu..gue..." laki-laki itu tergagap, salah tingkah. Bunga mawar merah yang dipegangnya terjatuh.
"Gue kira malah Arga dibalik semua ini, ternyata lo." Dira tersenyum mengambil bunga mawar dan menyerahkannya kembali pada sosok yang dia kenal sebagai Agung, teman yang duduk sebangku dengan Arga, di depan bangkunya.
"Gue.. gue bisa jelasin sama lo Ra." Agung benar-benar terkejut, tak menyangka Dira memergokinya. Dari kejauhan Dira melihat Emelly menuju parkiran, hendak pulang.
"Sini lo." Dira cepat menarik Agung untuk bersembunyi, sebelum Emelly memergoki mereka berdua. Setelah kepergian Emelly, Agung mengajak Dira ke lapangan basket, dia ingin menjelaskan semuanya.
"Ra, ini nggak seperti yang lo pikirkan." Agung memulai percakapan, wajah tirusnya terlihat tegang, walaupun begitu dia tetap rupawan, mirip Chef Juna di Master Chef Indonesia.
"Biasa aja kali bro, lo nggak usah tegang gitu. Gue ngerti kok, gue cuma nggak nyangka aja kalo ternyata itu lo. Gue sempet mikir kalo yang kasih bunga buat kakak gue tuh si Arga." Dira mencoba menenangkan Agung yang masih terlihat cemas.
"Gue... gue..." Agung bingung mencari kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Dira.
"Lo suka sama kakak gue?" pertanyaan Dira langsung menohok hati Agung, dia terkesiap.
"Love at the first sight mungkin lebih tepatnya. Waktu Ms. Em pertama kali masuk ke kelas kita." Agung menunduk, tak berani memandang Dira.
"Tapi, sikap lo waktu itu biasa aja kayaknya. Malah justru sikap si Arga yang bikin gue curiga. Dia tuh pernah senyum-senyum gitu waktu tanya Mbak Nida."
"Dia... gue yang suruh. Gue nggak berani nanya langsung sama lo. Gue emang berusaha nutupin, biar sikap gue terlihat biasa aja."
"Hmm.. terus?"
"Ms. Em cinta pertama gue. Rasanya bener-bener beda, bukan kaya sebatas suka sama cewek-cewek seumuran kita. Makanya gue cuma berani cerita sama Arga, terus dia nyaranin buat kasih bunga mawar aja sebagai ungkapan perasaan gue."
"Pengecut lo bro."
"Gue nggak berani Ra. Beneran deh, yang ini beda. Waktu liat atau ketemu Ms. Em, gue deg-degan banget. Makanya gue berusaha nutupin dengan sikap gue yang malah jadi aktif gitu. Kalo gue diem aja mesti anak-anak banyak yang tau. Please Ra, jangan kasih tau Ms. Em." pinta Agung.
"Hmm.. gimana ya? Gue juga awalnya rada ragu, gue pikir si Arga, tapi tulisan puisi-puisinya itu tulisan tangan lo. Tanpa gue ngomong pun, suatu hari Mbak Nida bakalan tau. Apalagi kalo sambil ngoreksi essay Bahasa Inggris, tulisan lo jelas ketahuan lah."
"Ya ampuuuuuuuuuuuuuun.. Kenapa gue nggak mikir mpe situ sih?" Agung menjambak rambutnya sendiri.
"Harusnya lo pake ketik komputer aja bro."
"Terus gimana dong?" Agung bingung.
"Tenang aja ntar gue bantuin, lagian hampir semua bunga dan puisi yang lo kasih gue yang nyimpen. Mbak Nida nggak terlalu perhatiin."
"Gitu ya?" Agung kecewa.
"Maaf ya bro, gue ngerti lo kecewa. Tapi lo mesti realistis, masa iya dia mau ngembat muridnya sendiri, apa kata dunia?"
"Iya sih, gue juga mikir gitu. Makanya gue juga nggak berani terang-terangan ngungkapin perasaan gue."
"Gue sih cuma bisa ngasih saran, ya dikit-dikit lo kurangin deh perasaan suka lo itu. Ya walaupun susah, tapi pasti bisa. Dari pada lo lebih sakit lagi ntar."
"Udah nggak ada harapan ya buat gue? Katanya Ms. Em masih single?"
"Ya emang Mbak Nida masih single, tapi lo kan muridnya."
"Gitu ya?" raut wajah Agung terlihat sangat kecewa.
"Ya udah, pulang yuk bro. Move on man!" Dira menepuk bahu Agung sambil beranjak pergi. Agung tersenyum getir.
***
Handphone Emelly menjerit saat dia baru saja keluar kamar, handuk tersampir di bahu kiri. Di layar handphone tertera nama RAY.
"Hallo, assalamualaikum.
"Wa'alaikumsalam, Em."
"Ada apa Ray?"
"Em, kira-kira lo ada waktu minggu ini?" Ray bertanya pada Emelly.
"Gue palingan bisa malem Minggu atau hari Minggu nya Ray, emang kenapa?" Emelly melangkah menuju meja makan, membuka tudung saji.
"Lo mau nggak nemenin gue ke toko buku?"
"Ehh, sejak kapan lo suka baca buku?"
"Yaelaah.. bukan buat gue, tapi buat adik gue yang cewek. Dia minta kado ultahnya minggu depan, tapi gue nggak tau mesti kasih apa. Gue cuma tau kalo dia suka baca novel. Nah, gue mau minta lo bantuin pilih."
"Oh." Emelly mencomot perkedel tahu sisa sarapan tadi pagi.
"Tuh kan. Ekspresi lo dari dulu selalu ber-oh ria." wajah Ray merengut, sambil membetulkan posisi earphone di telinganya.
"Errr.. mau nyari kemana emang? Jam... berapa?" Emelly tersenyum sambil mengunyah perkedel, membayangkan wajah Ray yang cemberut.
"Ke toko buah." jawab Ray sekenanya. Terdengar suara tawa Emelly dari seberang. "Ya di toko buku lah. Sekalian kita jalan-jalan kemana gitu. Besok Minggu aja gimana?" Ray menawarkan.
"Boleh, mau jam berapa?"
"Gue jemput lo aja jam setengah satu, sekalian kita lunch. OK?"
"OK. Udah dulu ya Ray, gue mau mandi."
"OK, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam Ray."
Emelly menutup percakapan, handphone dia letakkan di meja makan. Kemudian melirik jam, sudah pukul 16.00.
"Fauzan kok belum pulang jam segini? Main kemana tuh anak?" Emelly masuk ke kamar mandi.
***
Emelly mematut diri di depan kaca, merapikan tatanan kerudung biru tuanya. Dia sematkan bros kupu-kupu biru muda di dada, serasi dengan warna blouse biru muda bermotif sulaman berbentuk lingkaran. Dengan bawahan celana kain berwarna hitam, dia akan padu padankan dengan sepatu teplek hitamnya. Sekali lagi dia mematut diri, membenarkan bajunya, menyapukan lipstik berwarna orange lembut di bibirnya. Hasilnya tidak mengecewakan, Emelly terlihat cantik, sederhana dan dewasa. Diliriknya jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul 12.15. Emelly bersiap menunggu Ray yang akan menjemputnya di teras rumah.
Tak lama kemudian, Ray datang mengendarai sepeda motor hitamnya, tulisan 86 berwarna merah glitter dengan format angka digital terlihat jelas di tankinya. Dia melepas helm, tersenyum pada Emelly yang duduk di teras rumah. Wajahnya sumringah, badannya terlihat tegap dan gagah mengenakan kaos bermotif belang-belang gradasi warna hitam, abu-abu dan putih. Serasi dengan celana jeans hitamnya, Ray mendekati Emelly.
"Kereta sudah siap mengantar kemanapun tuan puteri akan pergi." Ray tersenyum lebar.
"Apaan sih lo Ray, jayus tau nggak sih." Emelly tersipu malu.
"Hehe.. ayo berangkat." Ray mengulurkan tangan, berharap Emelly akan menyambutnya.
"Ayo." Emelly hendak meletakkan tangannya di atas uluran tangan Ray, lalu kemudian menarik tangannya kembali. Emelly tersenyum jahil, meninggalkan Ray yang tersenyum geli melihat tingkah Emelly.
"Semoga aja Mas Ray bisa bahagiain Mbak Nida." Tak disadari, Dira memperhatikan mereka berdua di teras tadi dari dalam rumah.
***
Drrt...drrrt...
Handphone Ray bergetar, saat dia dan Emelly sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji dekat toko buku. Dia segera membuka pesan, tertera nama AIPTU FAUZI. Ray mengerutkan dahi, berpikir ada apa ayah Emelly mengirim pesan padanya.
From: AIPTU FAUZI
segera ke kantor.
To: AIPTU FAUZI
86
"Ada apa Ray?" Emelly bertanya pada Ray saat mengetik balasan SMS entah dari siapa.
"Ehh.. nggak papa kok." Ray berbohong, meletakkan handphone di saku celananya.
"Lo yakin? Atau lo dipanggil karena ada tugas?" Emelly menyelidik.
"Ehmm.. iya." Ray akhirnya menjawab jujur.
"Ya udah, sana lo cepet balik ke kantor. Tugas lo lebih penting."
"Terus lo pulangnya gimana?"
"Tenang aja, gue bisa naik angkot."
"Beneran? Lo nggak papa gue tinggal?"
"Iya nggak papa, lo tenang aja Ray."
"Ya udah, gue balik dulu ya Em. Makasih banget udah nemenin gue, maaf lo jadi gue tinggal." Ray menyedot habis minumannya, disambut oleh anggukan Emelly. Emelly memandang Ray yang segera pergi meninggalkannya, membayar ke kasir, kemudian berlari ke parkiran dan berlalu dari pandangannya.
"Assalamualaikum." Emelly membuka pintu rumah, Dira menunggunya di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam mbak. Gimana tadi jalan-jalannya? cicuiiittt, hehe." ledek Dira.
"Apaan sih Zan, orang cuma nyari buku doang." Emelly beralih ke meja makan, menuang air putih dan segera meminumnya.
"Nggak cuma nyari buku juga nggak papa mbak. Gue nggak dibeliin oleh-oleh ya? Jahat banget lo sama adek sendiri." Dira menggerutu.
"Bawel lu.. nih." Emelly melempar sebatang cokelat dengan bungkus warna kuning pada Dira, lalu masuk ke kamarnya.
"Asiiik..." Dira langsung melahap cokelat yang baru saja dilempar Emelly.
***
"Mbak, kok Ayah udah jam segini belum pulang ya? Nggak biasanya." Dira mencemaskan ayahnya saat makan malam bersama Emelly.
"Baru jam 8 Zan, biasanya juga ayah bisa pulang lebih malem. Atau mungkin ayah lagi ada urusan." Emelly lanjut mengunyah suapannya.
"Tadi ayah cuma bilang kita suruh makan duluan aja, nggak usah nunggu ayah." Dira menyelesaikan suapan terakhirnya, lalu beranjak mencuci piring.
Saat Emelly hendak menuang minuman, handphone miliknya berdering. Nama RAY tertera di layar, Emelly segera menjawabnya.
"Halo, assalamualaikum. "
"Wa'alaikumsalam Em." suara Ray terdengar tidak bersemangat."
"Ada apa Ray? Tumben lo telpon lagi."
"Hmm.."
"Ada apa sih Ray?" Emelly penasaran.
"Gini Em, lo sama adik lo sekarang ke RSCM ya."
"Ehh, emang siapa yang sakit Ray?"
"Hmm..." Ray bingung akan mengatakannya atau tidak.
"Ray!! Ngomong dong." Emelly mendesak. Dira yang sedang menonton televisi melirik Emelly yang suaranya meninggi.
"Pak Fauzi, sekarang di RSCM. Beliau tertembak tadi siang. Cepetan Em, lo mesti kesini sekarang." Ray mengatakan semuanya.
Praaang....!!!
Gelas yang ada dalam genggaman Emelly meluncur jatuh.
Di dialog terakhir percakapan Emelly sama Ray di telepon, kok mereka nggak ngucapin salam yah? Agak gimana aja gitu padahal di awal kan ada salam. menurutku kurang mendramatisir bahasanya, tambah lagi deh kosakata yang bisa tambah greget gitu. Nice, tunggu sampe selesai. Keep writing.
BalasHapushmm... oke oke.. thanks for comment and suggestion.. :D
BalasHapusYosh, Fighting eonnie ya
Hapus