Tahukah kamu?
Kamulah yang menenangkanku disaat aku merasa gundah. Kamu yang menggenggam tanganku disaat aku goyah. Kamu pula yang mengingatkanku bahwa kamu tempat ku berkeluh kesah.
Kamu yang merengkuh ku dalam pelukanmu disaat aku lemah. Kamu yang menemaniku disaat aku merasa sendiri. Kamu lah tempat ku berbagi. Kamu pula tempat ku mencurahkan isi hati.
Kamu yang mengingatkanku, bahwa keadaan tak akan selamanya menyenangkan. Tapi aku harus merasa yakin bahwa hidup ini indah.
Kamu..
Yang berkata ingin hidup bersamaku. Disaat senang maupun susah..
Aku pun begitu. Ingin menemanimu, menghabiskan sisa waktu ku bersamamu.
Hanya kamu, tak ada yang lain.
P.S : I need you
My Read Lists
Senin, 26 November 2012
Rabu, 14 November 2012
Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 9
Oktober 2011
Emelly segera turun dari angkot di depan pintu masuk RS Gatot Subroto, panas terik begitu menyengat kulit. Tas ransel penuh dengan buku dan media mengajarnya tadi bahkan tidak terasa berat lagi baginya. Yang dia pikirkan adalah segera bertemu dengan ibunya, ibunya yang baru saja tadi pagi ditemuinya.
"Bu, Nida berangkat dulu. Doain Nida ujian ngajar nanti sukses ya bu." Emelly menggenggam erat tangan ibunya.
"Allah selalu bersamamu Da." tangan ibu yang satunya membelai lembut kepala Emelly, lalu tersenyum.
Koridor sepanjang rumah sakit tidak terlalu ramai, mungkin karena jam bezuk belum dibuka. Emelly melangkah cepat, melihat setiap papan nama ruangan rawat inap yang dia lewati. Setelah melihat papan bertuliskan Cendrawasih 17, Emelly memutar kenop pintu. Dilihatnya Dira yang masih memakai seragam putih abu-abu sedang berdiri disamping ayahnya. Beliau sedang mendekatkan wajahnya kepada sang ibu yang terbaring. Sisa air mata masih terlihat jelas di wajah Dira.
Nafas Emelly semakin memburu, peluh yang menetes di dahi tak dihiraukannya saat Pak Fauzi melambaikan tangan, memberi isyarat agar Emelly segera mendekat. Emelly mendekatkan wajahnya kepada sang ibu yang ternyata telah dipanggil menghadap-Nya. Pak Fauzi mengelus punggung Emelly, berbisik, "Tabahkan hatimu. Tawakal."
"Ibu." Emelly membelai lembut wajah ibunya yang tersenyum, terlihat bahagia diakhir menutup usia. Emelly tak sanggup membendung air matanya lagi, dipeluknya sang ibu dengan erat seolah tak ingin ibunya pergi.
"Ibuuuu... jangan tinggalin Nida buu.. Bangun buu, banguuuun..." Emelly mulai histeris, mengguncang-guncangkan tubuh ibunya. Dira memegang tubuh kakaknya yang mulai kalap. Emelly berusaha melepaskan tangan adiknya, memberontak.
"Da, ikhlaskan. Ibumu sudah tenang." Pak Fauzi mengambil alih tubuh Emelly yang tidak mau disentuh adiknya.
"Lepasin yah! Lepasin! Ayah jahat, kenapa nggak kasih tau Nida sebelum ibu pergi. Kenapa yah? Ibu jahat, ibu nggak nungguin Nida pulang dulu." Emelly kian lepas kendali, tak mau melepas pelukannya pada sang ibu.
"Mbak, jangan kaya gitu. Ini udah kehendak Allah, ikhlasin ibu mbak." Dira memeluk Emelly dari belakang. Emelly tak menghiraukannya, terus terisak sambil memeluk ibunya yang telah tutup usia.
***
Emelly berlarian menuju lobi RSCM, segera menghambur ke bagian resepsionis dan bertanya dimana ruang ayahnya sedang dirawat. Lalu Emelly menarik tangan Dira menuju lift dan segera ke lantai 11. Koridor rumah sakit yang berwarna putih, lampu neon berpendar dimana-mana menyilaukan mata. Pun terasa begitu sempit bagi Emelly saat dia menghambur keluar dari lift yang membuatnya susah untuk bernafas, seluruh pikirannya tadi kembali ke satu tahun yang lalu, saat ibunya meninggal. Dia mulai cemas, mulai khawatir. Dari kejauhan, dilihatnya Ray yang masih berseragam POLRI duduk di luar ruangan operasi.
"Ray, Ayah dimana?" Emelly bertanya dengan nafas terengah-engah. Dira mengangguk saat Ray memandangnya.
"Sabar Em, ayahmu sedang di ruang operasi." Ray membimbing Emelly untuk duduk, menenangkan diri.
"Mas, aku pergi beli air minum dulu buat mbak Nida bentar ya." Ray mengangguk saat Dira meminta izin padanya.
Ray memandang Emelly yang tidak melepaskan pandangannya dari pintu ruang operasi, berharap pintu itu segera terbuka. Emelly tidak henti-hentinya menggerakkan kaki seperti orang yang sedang menjahit, sedang tangannya dikepalkan di atas lutut. Wajah Emelly terlihat sangat cemas, kerudung abu-abunya terlihat sedikit berantakan, beberapa helai rambut menyembul keluar di bagian pipi. Ray berusaha akan membetulkannya, tapi saat baru akan menyentuh pipi Emelly, Emelly bangun dari duduknya. Pintu ruang operasi terbuka.
Emelly segera menghambur ke arah sang dokter, "Gimana keadaan ayah saya Dok?"
"Anda keluarga pasien?" tanya dokter.
"Ya Dok, saya putrinya."
"Kami kehabisan stok darah golongan AB rhesus positif, apa ada dari anggota keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama?"
"Golongan darah saya sama dengan ayah Dok, silakan bisa diperiksa." jawab Emelly dengan mantap.
"Baik, silakan ikuti saya, kita lakukan pemeriksaan dulu apakah darah saudara bisa didonorkan ke pasien atau tidak."
Emelly mengangguk, lalu menatap Ray. "Gue tunggu disini Em." Ray menyentuh bahu Emelly. Kemudian Emelly bergegas mengikuti sang dokter untuk menjalani pemeriksaan.
Tak lama berselang, Dira muncul membawa kantong plastik berisikan beberapa botol air mineral.
"Mas, mbak Nida kemana? Operasinya belum selesai?" Dira duduk disebelah Ray, memberikan sebotol air mineral.
"Tadi dokter udah keluar, tapi butuh donor darah AB positif. Mbak mu sedang menjalani pemeriksaan dulu, di cek dulu bisa didonorin atau nggak." jawab Ray sambil membuka tutup botol, menenggak hampir separuh dari isi botol.
"Hmm.. semoga keadaan ayah cepet membaik. Ehh mas, gimana ceritanya kok ayah bisa ketembak gitu?" tanya Dira penasaran.
"Uhuk..huk.." Ray tersedak, kaget mendengar pertanyaan Dira.
"Mas, ceritain dong. Gue pingin tau kronologinya." desak Dira.
"Ray..!!"
Belum sempat Ray menjawab pertanyaan Dira, tiba-tiba Han muncul bersama Kinanti. Menghampiri Ray yang beranjak dari duduknya, disusul oleh Dira.
"Lo nggak papa Ray?" tanya Han.
"Iya tenang aja Han, gue nggak papa." jawab Ray.
"Kinanti? Ngapain lo disini?" tanya Dira bersamaan saat Ray menjawab pertanyaan Han.
"Lho? Kalian saling kenal?" tanya Ray dan Han bersamaan, menuding Kinanti dan Dira.
"Iya mas, Anti sama Dira satu kelas. Nah kakak Dira itu yang guru Bahasa Inggris di kelas Anti ." Kinanti menjelaskan.
"Oh, jadi mas Ray dan Briptu Handika itu kakak lo?" tanya Dira.
"Iya Ra."
"Kamu... kayaknya saya pernah lihat, tapi dimana ya?" Han mengingat-ingat wajah Dira.
"Saya yang dulu pernah mas tolongin pas ada kecelakaan."
"Oh iya ya, inget saya. Anti juga cerita pernah nengokin temen sekelasnya, dia bilang saya yang nolongin pas kecelakaan. Ternyata kamu toh cowok yang di.."
Kinanti langsung mencengkeram lengan Han, "Mas Han!"
"Eh maap, hampir aja keceplosan.. hehe" Han terkekeh.
Sementara Kinanti dan Dira melanjutkan perbincangan mereka, Ray mengajak Han sedikit menjauh ke arah pintu keluar darurat, sepertinya ada hal yang ingin mereka bicarakan.
"Kronologinya gimana Ray?" Han mulai menginterogasi kakaknya.
"Tadi siang, Pak Fauzi kirim gue SMS, gue mesti segera ke kantor. Gue bingung, tumben banget beliau suruh gue segera ke kantor. Apalagi hari ini bukan giliran gue piket, gue juga masih jalan sama anaknya waktu itu."
"Oh, yang guru Bahasa Inggrisnya Anti?" Han memastikan.
"Iya, dia temen SMA gue. Gue langsung pulang dan ganti seragam, terus meluncur ke kantor. Ternyata ada laporan dari warga, ada rumah yang udah beberapa bulan terakhir ini digunakan orang-orang yang nggak dikenal. Kita langsung koordinasi sama Densus 88 buat gerebek tuh lokasi.
"Terus?" Han menunggu lanjutan cerita Ray. Tanpa disadari, dari balik tembok ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
"Semuanya bener-bener di luar dugaan gue Han. Lo tau kan, jaringan teroris yang akhir-akhir ini marak muncul. Mereka mulai berani menunjukkan diri secara terang-terangan, dan sasarannya aparat kepolisian. Kayaknya mereka dendam banget karena pemimpin-pemimpin mereka satu persatu udah masuk ketangkep, bahkan ada yang udah dihukum mati."
"Hmm.. gue rasa, pelakunya itu anggota rekrutan mereka yang baru. Beberapa komplotan mereka yang notabene masih buron, kayaknya mulai nyiapin bibit baru." Han berspekulasi.
"Mungkin. Setelah kita datengin lokasinya, ya ternyata bener itu sarang teroris baru. Baku tembak sama mereka nggak terhindarkan lagi, mereka berani melawan Han. Persenjataan mereka lengkap, beberapa bom rakitan dan senjata juga udah diamankan."
"Kok bisa Pak Fauzi ketembak gitu?"
"Gue.. waktu itu gue hampir aja ketembak. Pak Fauzi nyoba buat nyelametin gue dan nembak tuh teroris duluan, tapi beliau kalah cepet. Beliau ketembak di dada kanan." Ray terlihat sangat merasa bersalah. Seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
"Astaghfirullah, terus gimana?"
"Ya gue langsung tembak tuh teroris lah, pas kena paha kiri. Sekarang dia lagi di interogasi."
Emelly tiba-tiba muncul dari arah belakang Ray dan Han, "Ray."
Ray terkejut bukan main, wajahnya terlihat bingung, takut Emelly mendengar semua pembicaraannya dengan Han barusan.
"Ehh, iya Em. Kenapa?" Ray berusaha menutupi kegugupannya.
"Tekanan darahku terlalu rendah, jadi nggak bisa didonorin ke ayah. Golongan darah Dira B. Gue mesti gimana Ray?" Emelly bingung, matanya mulai berkaca-kaca.
"Butuh golongan darah apa?" Han langsung bertanya.
"AB positif." Ray dan Emelly menjawab hampir bersamaan.
" Saya bisa bantu Miss." celetuk Kinanti yang muncul bersama Dira.
"Beneran kamu bisa?"
"Iya Miss, ayo cepetan kita periksain. Jangan buang waktu." desak Kinanti. Tanpa pikir panjang, Kinanti menggandeng Emelly untuk segera memeriksakan darahnya.
***
"Ra, ngapain lo disini?" Kinanti mendekati Dira yang sedang duduk sendiri di lobi lantai 11.
Dira memandang Kinanti dengan tatapan tajam, dingin. "Duduk, lo liatnya gue lagi ngapain?" ucap Dira ketus. Kinanti kaget dengan apa yang baru saja Dira ucapkan. "Dira kenapa jadi ketus gini sama gue?" ucap Kinanti dalam hati.
"Kalo nggak ada yang lo mau omongin, mending lo pulang aja deh An." usir Dira setelah Kinanti lama berdiam diri disebelahnya.
"Lo kenapa jadi berubah gini Ra? Padahal gue nggak bikin salah sama lo. Malahan gue donorin darah buat ayah lo."
"Ohh, jadi karena lo udah donorin darah buat ayah gue, gue mesti gimana? Gue mesti bilang 'makasih ya Anti, lo udah nolongin ayah gue. Gue nggak tau mesti gimana ngebales semua kebaikan lo.' Iya?" perkataan Dira baru saja melukai perasaan Kinanti.
"Lo.. kenapa tiba-tiba jadi berubah gini Ra? Tadi juga lo baik-baik aja." Kinanti berusaha sabar, menyentuh lengan Dira.
Dira menepis tangan Kinanti dengan kasar lalu berdiri dari duduknya, "Iya! Sebelum gue tau penyebab ayah gue sampe ketembak kaya gitu gara-gara kakak lo!!" mata Dira menatap tajam, api kemarahan terpancar sangat jelas dimatanya.
"Maksud lo apa?" mata Kinanti mulai berkaca-kaca.
"Tanya sendiri sana sama si brengsek Ray!!"
Plaakkk!!
Kinanti menampar Dira. Dia tidak tahan lagi dengan semua ucapan kasar Dira. Beberapa suster yang bertugas dan orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.
"Lo boleh marah sama gue Ra, tapi lo nggak perlu sampe ngomong kaya gitu tentang Mas Ray. Gue nggak ngerti apa maksud lo ngomong kaya gitu." air mata mulai membasahi wajah Kinanti.
"Nggak usah deh lo nangis gitu, air mata buaya. Lo sama Ray tuh sama aja, munafik. Gue tau lo naksir gue kan? Terus lo pikir, setelah lo donorin darah buat ayah, gue bakal suka sama lo? Nggak usah mimpi deh lo!"
"....." Kinanti tercekat mendengar perkataan Dira, hatinya terluka dalam.
"Sampe kapanpun gue nggak bakalan maafin abang lo yang brengsek itu, dan jangan harap gue bakal suka sama lo. Ngerti...!!" mata Dira menyala-nyala, penuh kebencian.
"Zan... Ayah..." Emelly tiba-tiba muncul, dengan wajah penuh kesedihan. Air mata membanjiri wajahnya.
Dira menghambur mencengkeram lengan Emelly, "Ayah kenapa mbak?"
Emelly tak mampu berkata-kata lagi, hanya terisak. Dira berlari menuju ruangan dimana ayahnya dirawat. Saat Dira hendak membuka pintu, bersamaan dengan Ray yang membuka pintu dari dalam.
"Minggir lo...!!" ucap Dira kasar, menabrak bahu Ray.
Emelly menangis tertunduk, Kinanti mendekati dan mengenggam tangannya. Emelly memeluknya, menangis sejadi-jadinya. Ray memandang mereka dari depan kamar rawat Pak Fauzi. Dia merasa sangat bersalah.
Emelly segera turun dari angkot di depan pintu masuk RS Gatot Subroto, panas terik begitu menyengat kulit. Tas ransel penuh dengan buku dan media mengajarnya tadi bahkan tidak terasa berat lagi baginya. Yang dia pikirkan adalah segera bertemu dengan ibunya, ibunya yang baru saja tadi pagi ditemuinya.
"Bu, Nida berangkat dulu. Doain Nida ujian ngajar nanti sukses ya bu." Emelly menggenggam erat tangan ibunya.
"Allah selalu bersamamu Da." tangan ibu yang satunya membelai lembut kepala Emelly, lalu tersenyum.
Koridor sepanjang rumah sakit tidak terlalu ramai, mungkin karena jam bezuk belum dibuka. Emelly melangkah cepat, melihat setiap papan nama ruangan rawat inap yang dia lewati. Setelah melihat papan bertuliskan Cendrawasih 17, Emelly memutar kenop pintu. Dilihatnya Dira yang masih memakai seragam putih abu-abu sedang berdiri disamping ayahnya. Beliau sedang mendekatkan wajahnya kepada sang ibu yang terbaring. Sisa air mata masih terlihat jelas di wajah Dira.
Nafas Emelly semakin memburu, peluh yang menetes di dahi tak dihiraukannya saat Pak Fauzi melambaikan tangan, memberi isyarat agar Emelly segera mendekat. Emelly mendekatkan wajahnya kepada sang ibu yang ternyata telah dipanggil menghadap-Nya. Pak Fauzi mengelus punggung Emelly, berbisik, "Tabahkan hatimu. Tawakal."
"Ibu." Emelly membelai lembut wajah ibunya yang tersenyum, terlihat bahagia diakhir menutup usia. Emelly tak sanggup membendung air matanya lagi, dipeluknya sang ibu dengan erat seolah tak ingin ibunya pergi.
"Ibuuuu... jangan tinggalin Nida buu.. Bangun buu, banguuuun..." Emelly mulai histeris, mengguncang-guncangkan tubuh ibunya. Dira memegang tubuh kakaknya yang mulai kalap. Emelly berusaha melepaskan tangan adiknya, memberontak.
"Da, ikhlaskan. Ibumu sudah tenang." Pak Fauzi mengambil alih tubuh Emelly yang tidak mau disentuh adiknya.
"Lepasin yah! Lepasin! Ayah jahat, kenapa nggak kasih tau Nida sebelum ibu pergi. Kenapa yah? Ibu jahat, ibu nggak nungguin Nida pulang dulu." Emelly kian lepas kendali, tak mau melepas pelukannya pada sang ibu.
"Mbak, jangan kaya gitu. Ini udah kehendak Allah, ikhlasin ibu mbak." Dira memeluk Emelly dari belakang. Emelly tak menghiraukannya, terus terisak sambil memeluk ibunya yang telah tutup usia.
***
Emelly berlarian menuju lobi RSCM, segera menghambur ke bagian resepsionis dan bertanya dimana ruang ayahnya sedang dirawat. Lalu Emelly menarik tangan Dira menuju lift dan segera ke lantai 11. Koridor rumah sakit yang berwarna putih, lampu neon berpendar dimana-mana menyilaukan mata. Pun terasa begitu sempit bagi Emelly saat dia menghambur keluar dari lift yang membuatnya susah untuk bernafas, seluruh pikirannya tadi kembali ke satu tahun yang lalu, saat ibunya meninggal. Dia mulai cemas, mulai khawatir. Dari kejauhan, dilihatnya Ray yang masih berseragam POLRI duduk di luar ruangan operasi.
"Ray, Ayah dimana?" Emelly bertanya dengan nafas terengah-engah. Dira mengangguk saat Ray memandangnya.
"Sabar Em, ayahmu sedang di ruang operasi." Ray membimbing Emelly untuk duduk, menenangkan diri.
"Mas, aku pergi beli air minum dulu buat mbak Nida bentar ya." Ray mengangguk saat Dira meminta izin padanya.
Ray memandang Emelly yang tidak melepaskan pandangannya dari pintu ruang operasi, berharap pintu itu segera terbuka. Emelly tidak henti-hentinya menggerakkan kaki seperti orang yang sedang menjahit, sedang tangannya dikepalkan di atas lutut. Wajah Emelly terlihat sangat cemas, kerudung abu-abunya terlihat sedikit berantakan, beberapa helai rambut menyembul keluar di bagian pipi. Ray berusaha akan membetulkannya, tapi saat baru akan menyentuh pipi Emelly, Emelly bangun dari duduknya. Pintu ruang operasi terbuka.
Emelly segera menghambur ke arah sang dokter, "Gimana keadaan ayah saya Dok?"
"Anda keluarga pasien?" tanya dokter.
"Ya Dok, saya putrinya."
"Kami kehabisan stok darah golongan AB rhesus positif, apa ada dari anggota keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama?"
"Golongan darah saya sama dengan ayah Dok, silakan bisa diperiksa." jawab Emelly dengan mantap.
"Baik, silakan ikuti saya, kita lakukan pemeriksaan dulu apakah darah saudara bisa didonorkan ke pasien atau tidak."
Emelly mengangguk, lalu menatap Ray. "Gue tunggu disini Em." Ray menyentuh bahu Emelly. Kemudian Emelly bergegas mengikuti sang dokter untuk menjalani pemeriksaan.
Tak lama berselang, Dira muncul membawa kantong plastik berisikan beberapa botol air mineral.
"Mas, mbak Nida kemana? Operasinya belum selesai?" Dira duduk disebelah Ray, memberikan sebotol air mineral.
"Tadi dokter udah keluar, tapi butuh donor darah AB positif. Mbak mu sedang menjalani pemeriksaan dulu, di cek dulu bisa didonorin atau nggak." jawab Ray sambil membuka tutup botol, menenggak hampir separuh dari isi botol.
"Hmm.. semoga keadaan ayah cepet membaik. Ehh mas, gimana ceritanya kok ayah bisa ketembak gitu?" tanya Dira penasaran.
"Uhuk..huk.." Ray tersedak, kaget mendengar pertanyaan Dira.
"Mas, ceritain dong. Gue pingin tau kronologinya." desak Dira.
"Ray..!!"
Belum sempat Ray menjawab pertanyaan Dira, tiba-tiba Han muncul bersama Kinanti. Menghampiri Ray yang beranjak dari duduknya, disusul oleh Dira.
"Lo nggak papa Ray?" tanya Han.
"Iya tenang aja Han, gue nggak papa." jawab Ray.
"Kinanti? Ngapain lo disini?" tanya Dira bersamaan saat Ray menjawab pertanyaan Han.
"Lho? Kalian saling kenal?" tanya Ray dan Han bersamaan, menuding Kinanti dan Dira.
"Iya mas, Anti sama Dira satu kelas. Nah kakak Dira itu yang guru Bahasa Inggris di kelas Anti ." Kinanti menjelaskan.
"Oh, jadi mas Ray dan Briptu Handika itu kakak lo?" tanya Dira.
"Iya Ra."
"Kamu... kayaknya saya pernah lihat, tapi dimana ya?" Han mengingat-ingat wajah Dira.
"Saya yang dulu pernah mas tolongin pas ada kecelakaan."
"Oh iya ya, inget saya. Anti juga cerita pernah nengokin temen sekelasnya, dia bilang saya yang nolongin pas kecelakaan. Ternyata kamu toh cowok yang di.."
Kinanti langsung mencengkeram lengan Han, "Mas Han!"
"Eh maap, hampir aja keceplosan.. hehe" Han terkekeh.
Sementara Kinanti dan Dira melanjutkan perbincangan mereka, Ray mengajak Han sedikit menjauh ke arah pintu keluar darurat, sepertinya ada hal yang ingin mereka bicarakan.
"Kronologinya gimana Ray?" Han mulai menginterogasi kakaknya.
"Tadi siang, Pak Fauzi kirim gue SMS, gue mesti segera ke kantor. Gue bingung, tumben banget beliau suruh gue segera ke kantor. Apalagi hari ini bukan giliran gue piket, gue juga masih jalan sama anaknya waktu itu."
"Oh, yang guru Bahasa Inggrisnya Anti?" Han memastikan.
"Iya, dia temen SMA gue. Gue langsung pulang dan ganti seragam, terus meluncur ke kantor. Ternyata ada laporan dari warga, ada rumah yang udah beberapa bulan terakhir ini digunakan orang-orang yang nggak dikenal. Kita langsung koordinasi sama Densus 88 buat gerebek tuh lokasi.
"Terus?" Han menunggu lanjutan cerita Ray. Tanpa disadari, dari balik tembok ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
"Semuanya bener-bener di luar dugaan gue Han. Lo tau kan, jaringan teroris yang akhir-akhir ini marak muncul. Mereka mulai berani menunjukkan diri secara terang-terangan, dan sasarannya aparat kepolisian. Kayaknya mereka dendam banget karena pemimpin-pemimpin mereka satu persatu udah masuk ketangkep, bahkan ada yang udah dihukum mati."
"Hmm.. gue rasa, pelakunya itu anggota rekrutan mereka yang baru. Beberapa komplotan mereka yang notabene masih buron, kayaknya mulai nyiapin bibit baru." Han berspekulasi.
"Mungkin. Setelah kita datengin lokasinya, ya ternyata bener itu sarang teroris baru. Baku tembak sama mereka nggak terhindarkan lagi, mereka berani melawan Han. Persenjataan mereka lengkap, beberapa bom rakitan dan senjata juga udah diamankan."
"Kok bisa Pak Fauzi ketembak gitu?"
"Gue.. waktu itu gue hampir aja ketembak. Pak Fauzi nyoba buat nyelametin gue dan nembak tuh teroris duluan, tapi beliau kalah cepet. Beliau ketembak di dada kanan." Ray terlihat sangat merasa bersalah. Seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
"Astaghfirullah, terus gimana?"
"Ya gue langsung tembak tuh teroris lah, pas kena paha kiri. Sekarang dia lagi di interogasi."
Emelly tiba-tiba muncul dari arah belakang Ray dan Han, "Ray."
Ray terkejut bukan main, wajahnya terlihat bingung, takut Emelly mendengar semua pembicaraannya dengan Han barusan.
"Ehh, iya Em. Kenapa?" Ray berusaha menutupi kegugupannya.
"Tekanan darahku terlalu rendah, jadi nggak bisa didonorin ke ayah. Golongan darah Dira B. Gue mesti gimana Ray?" Emelly bingung, matanya mulai berkaca-kaca.
"Butuh golongan darah apa?" Han langsung bertanya.
"AB positif." Ray dan Emelly menjawab hampir bersamaan.
" Saya bisa bantu Miss." celetuk Kinanti yang muncul bersama Dira.
"Beneran kamu bisa?"
"Iya Miss, ayo cepetan kita periksain. Jangan buang waktu." desak Kinanti. Tanpa pikir panjang, Kinanti menggandeng Emelly untuk segera memeriksakan darahnya.
***
"Ra, ngapain lo disini?" Kinanti mendekati Dira yang sedang duduk sendiri di lobi lantai 11.
Dira memandang Kinanti dengan tatapan tajam, dingin. "Duduk, lo liatnya gue lagi ngapain?" ucap Dira ketus. Kinanti kaget dengan apa yang baru saja Dira ucapkan. "Dira kenapa jadi ketus gini sama gue?" ucap Kinanti dalam hati.
"Kalo nggak ada yang lo mau omongin, mending lo pulang aja deh An." usir Dira setelah Kinanti lama berdiam diri disebelahnya.
"Lo kenapa jadi berubah gini Ra? Padahal gue nggak bikin salah sama lo. Malahan gue donorin darah buat ayah lo."
"Ohh, jadi karena lo udah donorin darah buat ayah gue, gue mesti gimana? Gue mesti bilang 'makasih ya Anti, lo udah nolongin ayah gue. Gue nggak tau mesti gimana ngebales semua kebaikan lo.' Iya?" perkataan Dira baru saja melukai perasaan Kinanti.
"Lo.. kenapa tiba-tiba jadi berubah gini Ra? Tadi juga lo baik-baik aja." Kinanti berusaha sabar, menyentuh lengan Dira.
Dira menepis tangan Kinanti dengan kasar lalu berdiri dari duduknya, "Iya! Sebelum gue tau penyebab ayah gue sampe ketembak kaya gitu gara-gara kakak lo!!" mata Dira menatap tajam, api kemarahan terpancar sangat jelas dimatanya.
"Maksud lo apa?" mata Kinanti mulai berkaca-kaca.
"Tanya sendiri sana sama si brengsek Ray!!"
Plaakkk!!
Kinanti menampar Dira. Dia tidak tahan lagi dengan semua ucapan kasar Dira. Beberapa suster yang bertugas dan orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.
"Lo boleh marah sama gue Ra, tapi lo nggak perlu sampe ngomong kaya gitu tentang Mas Ray. Gue nggak ngerti apa maksud lo ngomong kaya gitu." air mata mulai membasahi wajah Kinanti.
"Nggak usah deh lo nangis gitu, air mata buaya. Lo sama Ray tuh sama aja, munafik. Gue tau lo naksir gue kan? Terus lo pikir, setelah lo donorin darah buat ayah, gue bakal suka sama lo? Nggak usah mimpi deh lo!"
"....." Kinanti tercekat mendengar perkataan Dira, hatinya terluka dalam.
"Sampe kapanpun gue nggak bakalan maafin abang lo yang brengsek itu, dan jangan harap gue bakal suka sama lo. Ngerti...!!" mata Dira menyala-nyala, penuh kebencian.
"Zan... Ayah..." Emelly tiba-tiba muncul, dengan wajah penuh kesedihan. Air mata membanjiri wajahnya.
Dira menghambur mencengkeram lengan Emelly, "Ayah kenapa mbak?"
Emelly tak mampu berkata-kata lagi, hanya terisak. Dira berlari menuju ruangan dimana ayahnya dirawat. Saat Dira hendak membuka pintu, bersamaan dengan Ray yang membuka pintu dari dalam.
"Minggir lo...!!" ucap Dira kasar, menabrak bahu Ray.
Emelly menangis tertunduk, Kinanti mendekati dan mengenggam tangannya. Emelly memeluknya, menangis sejadi-jadinya. Ray memandang mereka dari depan kamar rawat Pak Fauzi. Dia merasa sangat bersalah.
Selasa, 13 November 2012
Di Berlalunya 22 Tahun Usiaku
Ehh.. hari ini aku ultah ya??
Waaah.. aku lupa... #muka cengo :D
Tepat hari ini usiaku berkurang 22 tahun.
Benar-benar tak menyangka, aku sudah setua ini. Sepertinya baru saja kemarin aku mengenakan seragam merah putih. Lalu aku beralih mengenakan seragam putih biru. Kemudian, 7 tahun yang lalu aku merasakan bangku putih abu-abu yang begitu penuh warna persahabatan, cinta pertama, dan pengkhianatan..
Semuanya terasa cepat berlalu, walaupun dulu aku ingin segera mencapai titik ini. Titik dimana:
1. Aku sudah pantas memakai baju yang terkesan lebih dewasa daripada wajahku yang sebenarnya masih pantas mengenakan seragam SMA #ini ciyuuus loh!
2. Aku tidak lagi meminjam kosmetik milik ibuku yang digunakan hanya sekedar untuk main-main saja, melainkan karena emang udah butuh untuk menciptakan kesan dewasa pada wajahku yang imut nan unyu ini
3. Aku bisa memakai sepatu yang udah nggak rata lagi alias rada tinggi (belum berani pake heels diatas 10 cm)
4. Aku mulai sering menghadiri pernikahan teman-temanku #yang ini bikin mupeng
5. Aku telah mengubah statusku dari mahasiswa menjadi pengangguran #nyesek
Udah 22 tahun ya ternyata? Tapi, di hari lahirku kali ini biasa aja menurutku mah.
"No more celebration, tart, candle, even more gift. I've been 22nd now."
Kalimat diatas benar-benar terjadi dan berlaku padaku saat ini. Hari lahir yang dulu-dulu sering dirayakan bersama teman dan keluarga, tidak lupa dengan acara tiup lilin dan potong kue, lalu begitu banyak kado yang aku dapatkan, sekarang semua itu nggak ada lagi. Ulang tahun bukan sesuatu yang pantas dirayakan lagi, karena umurku sedang dikurangi. Ya, sisa hidupku didunia ini semakin berkurang, dan tentu saja aku tidak tahu berapa banyak lagi sisa yang masih aku miliki. Bisa setahun, setengah tahun, satu bulan, satu hari, atau mungkin satu jam lagi.
Namun begitu, aku berharap di 22 tahun berlalunya hari-hariku ini, semoga saja aku sudah sedikit memberikan manfaat untuk agamaku, orang-orang disekelilingku, orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku, sekolahku, lingkunganku, dan juga negaraku. Aku sadar banyak hal yang sudah aku perbuat selama ini yang ternyata tidak memberikan manfaat, atau bahkan menyakiti dan melukai orang-orang disekelilingku. Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini, tapi sungguh aku menyesal dan berusaha ingin mengurangi semua tabiat burukku itu. :(
Ya, di berlalunya 22 tahun usiaku ini banyak hal yang harus aku lakukan dan mimpi-mimpi ingin aku wujudkan. Tak perlu muluk-muluk lah, segala keinginan yang berbau materi insya Allah bisa dicari dan didapatkan asal rajin menabung. Tapi, untuk urusan kepribadian dan membahagiakan orang-orang yang kusayangi sepertinya akan sedikit membutuhkan waktu. Never mind, I'll do my best.
Hmm... yang jelas, di berlalunya 22 tahun usiaku ini, banyak sekali yang sudah aku lalui. Banyak hal yang membuatku semakin menyadari betapa sering aku tidak bersyukur atas segala yang telah diberikanNya, dan nikmat sehat dan sempat yang diberikan Allah swt padaku hingga saat ini tak ternilai harganya. Dan juga banyak orang yang baru aku temui, atau orang-orang lama yang sampai saat ini masih bertahan dan setia menemaniku. Aku ingin berterimakasih pada:
1. Allah swt yang masih mengizinkanku untuk bernafas hingga saat ini.
2. Ayah & Ibuku, yang sudah memberikan begitu banyak hal yang sudah pasti tidak akan bisa aku ganti.
3. Keluarga ku yang jelas tak mungkin aku sebutkan satu persatu, terimakasih atas semua dukungan dan doa kalian.
4. Sahabat-sahabatku: Devina a.k.a Diphi, Intan Rosza a.k.a Budhe, Tutus Eshananda a.k.a Nanda, Siska Andriyani a.k.a Tita, M. Ridlo Nur Ar-Rofi a.k.a Warjo, Fitri Setyaningsih a.k.a Mamah Pipit, Nawangi Dahlia a.k.a Ni Naw, Aurora Rizka HP a.k.a Bebeb, Annis Fitri Z a.k.a Farhan, Heru Pramono, M.Ridlo Nur Ar-Rozzaq a.k.a Kodok, dan Mega Mareta Ngalih a.k.a Meg. Terimakasih kalian sudah memberikan begitu banyak warna dalam hari-hariku dulu, kini dan nanti.
5. Semua teman-teman yang aku kenal dan mengenalku, semua orang yang ku sayang dan menyayangiku. Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
8. Guru dan dosenku, terimakasih atas semua ilmu dan pengalaman yang sudah kalian berikan padaku,
Tanpa kalian semua, aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Untuk orang-orang yang menyakitiku dan membenciku, terimakasih karena kalian aku jadi bisa lebih bersyukur dan menyadari segala kekuranganku.
Waaahh... udah deh sesi melow-nya. Sekarang saatnya menatap kedepan, bersiap menjadi seorang wanita seutuhnya (yang kata Annis Fitri Zamzami gue itu nggak utuh sebelumnya #puas lo?) yang berpikir dan bertindak dewasa. Nggak ada lagi tuh yang namanya perilaku yang kekanak-kanakan. Malu ah sama muka yang kian lama semakin menua #aarrgh.. keriput.
Well, udah dulu kali ya.. Semoga aja masih diberi kesempatan buat nulis postingan "Di Berlalunya 23 Tahun Usiaku" tahun depan. Amiiin..
Waaah.. aku lupa... #muka cengo :D
| My 22nd Birthday |
Tepat hari ini usiaku berkurang 22 tahun.
Benar-benar tak menyangka, aku sudah setua ini. Sepertinya baru saja kemarin aku mengenakan seragam merah putih. Lalu aku beralih mengenakan seragam putih biru. Kemudian, 7 tahun yang lalu aku merasakan bangku putih abu-abu yang begitu penuh warna persahabatan, cinta pertama, dan pengkhianatan..
Semuanya terasa cepat berlalu, walaupun dulu aku ingin segera mencapai titik ini. Titik dimana:
1. Aku sudah pantas memakai baju yang terkesan lebih dewasa daripada wajahku yang sebenarnya masih pantas mengenakan seragam SMA #ini ciyuuus loh!
2. Aku tidak lagi meminjam kosmetik milik ibuku yang digunakan hanya sekedar untuk main-main saja, melainkan karena emang udah butuh untuk menciptakan kesan dewasa pada wajahku yang imut nan unyu ini
3. Aku bisa memakai sepatu yang udah nggak rata lagi alias rada tinggi (belum berani pake heels diatas 10 cm)
4. Aku mulai sering menghadiri pernikahan teman-temanku #yang ini bikin mupeng
5. Aku telah mengubah statusku dari mahasiswa menjadi pengangguran #nyesek
Udah 22 tahun ya ternyata? Tapi, di hari lahirku kali ini biasa aja menurutku mah.
"No more celebration, tart, candle, even more gift. I've been 22nd now."
Kalimat diatas benar-benar terjadi dan berlaku padaku saat ini. Hari lahir yang dulu-dulu sering dirayakan bersama teman dan keluarga, tidak lupa dengan acara tiup lilin dan potong kue, lalu begitu banyak kado yang aku dapatkan, sekarang semua itu nggak ada lagi. Ulang tahun bukan sesuatu yang pantas dirayakan lagi, karena umurku sedang dikurangi. Ya, sisa hidupku didunia ini semakin berkurang, dan tentu saja aku tidak tahu berapa banyak lagi sisa yang masih aku miliki. Bisa setahun, setengah tahun, satu bulan, satu hari, atau mungkin satu jam lagi.
Namun begitu, aku berharap di 22 tahun berlalunya hari-hariku ini, semoga saja aku sudah sedikit memberikan manfaat untuk agamaku, orang-orang disekelilingku, orang-orang yang ku sayangi dan menyayangiku, sekolahku, lingkunganku, dan juga negaraku. Aku sadar banyak hal yang sudah aku perbuat selama ini yang ternyata tidak memberikan manfaat, atau bahkan menyakiti dan melukai orang-orang disekelilingku. Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini, tapi sungguh aku menyesal dan berusaha ingin mengurangi semua tabiat burukku itu. :(
Ya, di berlalunya 22 tahun usiaku ini banyak hal yang harus aku lakukan dan mimpi-mimpi ingin aku wujudkan. Tak perlu muluk-muluk lah, segala keinginan yang berbau materi insya Allah bisa dicari dan didapatkan asal rajin menabung. Tapi, untuk urusan kepribadian dan membahagiakan orang-orang yang kusayangi sepertinya akan sedikit membutuhkan waktu. Never mind, I'll do my best.
Hmm... yang jelas, di berlalunya 22 tahun usiaku ini, banyak sekali yang sudah aku lalui. Banyak hal yang membuatku semakin menyadari betapa sering aku tidak bersyukur atas segala yang telah diberikanNya, dan nikmat sehat dan sempat yang diberikan Allah swt padaku hingga saat ini tak ternilai harganya. Dan juga banyak orang yang baru aku temui, atau orang-orang lama yang sampai saat ini masih bertahan dan setia menemaniku. Aku ingin berterimakasih pada:
1. Allah swt yang masih mengizinkanku untuk bernafas hingga saat ini.
2. Ayah & Ibuku, yang sudah memberikan begitu banyak hal yang sudah pasti tidak akan bisa aku ganti.
3. Keluarga ku yang jelas tak mungkin aku sebutkan satu persatu, terimakasih atas semua dukungan dan doa kalian.
4. Sahabat-sahabatku: Devina a.k.a Diphi, Intan Rosza a.k.a Budhe, Tutus Eshananda a.k.a Nanda, Siska Andriyani a.k.a Tita, M. Ridlo Nur Ar-Rofi a.k.a Warjo, Fitri Setyaningsih a.k.a Mamah Pipit, Nawangi Dahlia a.k.a Ni Naw, Aurora Rizka HP a.k.a Bebeb, Annis Fitri Z a.k.a Farhan, Heru Pramono, M.Ridlo Nur Ar-Rozzaq a.k.a Kodok, dan Mega Mareta Ngalih a.k.a Meg. Terimakasih kalian sudah memberikan begitu banyak warna dalam hari-hariku dulu, kini dan nanti.
5. Semua teman-teman yang aku kenal dan mengenalku, semua orang yang ku sayang dan menyayangiku. Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
8. Guru dan dosenku, terimakasih atas semua ilmu dan pengalaman yang sudah kalian berikan padaku,
Tanpa kalian semua, aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Untuk orang-orang yang menyakitiku dan membenciku, terimakasih karena kalian aku jadi bisa lebih bersyukur dan menyadari segala kekuranganku.
Waaahh... udah deh sesi melow-nya. Sekarang saatnya menatap kedepan, bersiap menjadi seorang wanita seutuhnya (yang kata Annis Fitri Zamzami gue itu nggak utuh sebelumnya #puas lo?) yang berpikir dan bertindak dewasa. Nggak ada lagi tuh yang namanya perilaku yang kekanak-kanakan. Malu ah sama muka yang kian lama semakin menua #aarrgh.. keriput.
Well, udah dulu kali ya.. Semoga aja masih diberi kesempatan buat nulis postingan "Di Berlalunya 23 Tahun Usiaku" tahun depan. Amiiin..
Senin, 12 November 2012
Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 8
"Ternyata selama ini lo yang sering kasih bunga buat kakak gue?"
Dira memergoki seseorang yang sangat dikenalnya sedang bersiap menaruh setangkai bunga mawar merah di atas jok motor matic milik kakaknya.
"Gu..gue..." laki-laki itu tergagap, salah tingkah. Bunga mawar merah yang dipegangnya terjatuh.
"Gue kira malah Arga dibalik semua ini, ternyata lo." Dira tersenyum mengambil bunga mawar dan menyerahkannya kembali pada sosok yang dia kenal sebagai Agung, teman yang duduk sebangku dengan Arga, di depan bangkunya.
"Gue.. gue bisa jelasin sama lo Ra." Agung benar-benar terkejut, tak menyangka Dira memergokinya. Dari kejauhan Dira melihat Emelly menuju parkiran, hendak pulang.
"Sini lo." Dira cepat menarik Agung untuk bersembunyi, sebelum Emelly memergoki mereka berdua. Setelah kepergian Emelly, Agung mengajak Dira ke lapangan basket, dia ingin menjelaskan semuanya.
"Gu..gue..." laki-laki itu tergagap, salah tingkah. Bunga mawar merah yang dipegangnya terjatuh.
"Gue kira malah Arga dibalik semua ini, ternyata lo." Dira tersenyum mengambil bunga mawar dan menyerahkannya kembali pada sosok yang dia kenal sebagai Agung, teman yang duduk sebangku dengan Arga, di depan bangkunya.
"Gue.. gue bisa jelasin sama lo Ra." Agung benar-benar terkejut, tak menyangka Dira memergokinya. Dari kejauhan Dira melihat Emelly menuju parkiran, hendak pulang.
"Sini lo." Dira cepat menarik Agung untuk bersembunyi, sebelum Emelly memergoki mereka berdua. Setelah kepergian Emelly, Agung mengajak Dira ke lapangan basket, dia ingin menjelaskan semuanya.
"Ra, ini nggak seperti yang lo pikirkan." Agung memulai percakapan, wajah tirusnya terlihat tegang, walaupun begitu dia tetap rupawan, mirip Chef Juna di Master Chef Indonesia.
"Biasa aja kali bro, lo nggak usah tegang gitu. Gue ngerti kok, gue cuma nggak nyangka aja kalo ternyata itu lo. Gue sempet mikir kalo yang kasih bunga buat kakak gue tuh si Arga." Dira mencoba menenangkan Agung yang masih terlihat cemas.
"Gue... gue..." Agung bingung mencari kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Dira.
"Lo suka sama kakak gue?" pertanyaan Dira langsung menohok hati Agung, dia terkesiap.
"Love at the first sight mungkin lebih tepatnya. Waktu Ms. Em pertama kali masuk ke kelas kita." Agung menunduk, tak berani memandang Dira.
"Tapi, sikap lo waktu itu biasa aja kayaknya. Malah justru sikap si Arga yang bikin gue curiga. Dia tuh pernah senyum-senyum gitu waktu tanya Mbak Nida."
"Dia... gue yang suruh. Gue nggak berani nanya langsung sama lo. Gue emang berusaha nutupin, biar sikap gue terlihat biasa aja."
"Hmm.. terus?"
"Ms. Em cinta pertama gue. Rasanya bener-bener beda, bukan kaya sebatas suka sama cewek-cewek seumuran kita. Makanya gue cuma berani cerita sama Arga, terus dia nyaranin buat kasih bunga mawar aja sebagai ungkapan perasaan gue."
"Pengecut lo bro."
"Gue nggak berani Ra. Beneran deh, yang ini beda. Waktu liat atau ketemu Ms. Em, gue deg-degan banget. Makanya gue berusaha nutupin dengan sikap gue yang malah jadi aktif gitu. Kalo gue diem aja mesti anak-anak banyak yang tau. Please Ra, jangan kasih tau Ms. Em." pinta Agung.
"Hmm.. gimana ya? Gue juga awalnya rada ragu, gue pikir si Arga, tapi tulisan puisi-puisinya itu tulisan tangan lo. Tanpa gue ngomong pun, suatu hari Mbak Nida bakalan tau. Apalagi kalo sambil ngoreksi essay Bahasa Inggris, tulisan lo jelas ketahuan lah."
"Ya ampuuuuuuuuuuuuuun.. Kenapa gue nggak mikir mpe situ sih?" Agung menjambak rambutnya sendiri.
"Harusnya lo pake ketik komputer aja bro."
"Terus gimana dong?" Agung bingung.
"Tenang aja ntar gue bantuin, lagian hampir semua bunga dan puisi yang lo kasih gue yang nyimpen. Mbak Nida nggak terlalu perhatiin."
"Gitu ya?" Agung kecewa.
"Maaf ya bro, gue ngerti lo kecewa. Tapi lo mesti realistis, masa iya dia mau ngembat muridnya sendiri, apa kata dunia?"
"Iya sih, gue juga mikir gitu. Makanya gue juga nggak berani terang-terangan ngungkapin perasaan gue."
"Gue sih cuma bisa ngasih saran, ya dikit-dikit lo kurangin deh perasaan suka lo itu. Ya walaupun susah, tapi pasti bisa. Dari pada lo lebih sakit lagi ntar."
"Udah nggak ada harapan ya buat gue? Katanya Ms. Em masih single?"
"Ya emang Mbak Nida masih single, tapi lo kan muridnya."
"Gitu ya?" raut wajah Agung terlihat sangat kecewa.
"Ya udah, pulang yuk bro. Move on man!" Dira menepuk bahu Agung sambil beranjak pergi. Agung tersenyum getir.
***
Handphone Emelly menjerit saat dia baru saja keluar kamar, handuk tersampir di bahu kiri. Di layar handphone tertera nama RAY.
"Hallo, assalamualaikum.
"Wa'alaikumsalam, Em."
"Ada apa Ray?"
"Em, kira-kira lo ada waktu minggu ini?" Ray bertanya pada Emelly.
"Gue palingan bisa malem Minggu atau hari Minggu nya Ray, emang kenapa?" Emelly melangkah menuju meja makan, membuka tudung saji.
"Lo mau nggak nemenin gue ke toko buku?"
"Ehh, sejak kapan lo suka baca buku?"
"Yaelaah.. bukan buat gue, tapi buat adik gue yang cewek. Dia minta kado ultahnya minggu depan, tapi gue nggak tau mesti kasih apa. Gue cuma tau kalo dia suka baca novel. Nah, gue mau minta lo bantuin pilih."
"Oh." Emelly mencomot perkedel tahu sisa sarapan tadi pagi.
"Tuh kan. Ekspresi lo dari dulu selalu ber-oh ria." wajah Ray merengut, sambil membetulkan posisi earphone di telinganya.
"Errr.. mau nyari kemana emang? Jam... berapa?" Emelly tersenyum sambil mengunyah perkedel, membayangkan wajah Ray yang cemberut.
"Ke toko buah." jawab Ray sekenanya. Terdengar suara tawa Emelly dari seberang. "Ya di toko buku lah. Sekalian kita jalan-jalan kemana gitu. Besok Minggu aja gimana?" Ray menawarkan.
"Boleh, mau jam berapa?"
"Gue jemput lo aja jam setengah satu, sekalian kita lunch. OK?"
"OK. Udah dulu ya Ray, gue mau mandi."
"OK, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam Ray."
Emelly menutup percakapan, handphone dia letakkan di meja makan. Kemudian melirik jam, sudah pukul 16.00.
"Fauzan kok belum pulang jam segini? Main kemana tuh anak?" Emelly masuk ke kamar mandi.
***
Emelly mematut diri di depan kaca, merapikan tatanan kerudung biru tuanya. Dia sematkan bros kupu-kupu biru muda di dada, serasi dengan warna blouse biru muda bermotif sulaman berbentuk lingkaran. Dengan bawahan celana kain berwarna hitam, dia akan padu padankan dengan sepatu teplek hitamnya. Sekali lagi dia mematut diri, membenarkan bajunya, menyapukan lipstik berwarna orange lembut di bibirnya. Hasilnya tidak mengecewakan, Emelly terlihat cantik, sederhana dan dewasa. Diliriknya jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul 12.15. Emelly bersiap menunggu Ray yang akan menjemputnya di teras rumah.
Tak lama kemudian, Ray datang mengendarai sepeda motor hitamnya, tulisan 86 berwarna merah glitter dengan format angka digital terlihat jelas di tankinya. Dia melepas helm, tersenyum pada Emelly yang duduk di teras rumah. Wajahnya sumringah, badannya terlihat tegap dan gagah mengenakan kaos bermotif belang-belang gradasi warna hitam, abu-abu dan putih. Serasi dengan celana jeans hitamnya, Ray mendekati Emelly.
"Kereta sudah siap mengantar kemanapun tuan puteri akan pergi." Ray tersenyum lebar.
"Apaan sih lo Ray, jayus tau nggak sih." Emelly tersipu malu.
"Hehe.. ayo berangkat." Ray mengulurkan tangan, berharap Emelly akan menyambutnya.
"Ayo." Emelly hendak meletakkan tangannya di atas uluran tangan Ray, lalu kemudian menarik tangannya kembali. Emelly tersenyum jahil, meninggalkan Ray yang tersenyum geli melihat tingkah Emelly.
"Semoga aja Mas Ray bisa bahagiain Mbak Nida." Tak disadari, Dira memperhatikan mereka berdua di teras tadi dari dalam rumah.
***
Drrt...drrrt...
Handphone Ray bergetar, saat dia dan Emelly sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji dekat toko buku. Dia segera membuka pesan, tertera nama AIPTU FAUZI. Ray mengerutkan dahi, berpikir ada apa ayah Emelly mengirim pesan padanya.
From: AIPTU FAUZI
segera ke kantor.
To: AIPTU FAUZI
86
"Ada apa Ray?" Emelly bertanya pada Ray saat mengetik balasan SMS entah dari siapa.
"Ehh.. nggak papa kok." Ray berbohong, meletakkan handphone di saku celananya.
"Lo yakin? Atau lo dipanggil karena ada tugas?" Emelly menyelidik.
"Ehmm.. iya." Ray akhirnya menjawab jujur.
"Ya udah, sana lo cepet balik ke kantor. Tugas lo lebih penting."
"Terus lo pulangnya gimana?"
"Tenang aja, gue bisa naik angkot."
"Beneran? Lo nggak papa gue tinggal?"
"Iya nggak papa, lo tenang aja Ray."
"Ya udah, gue balik dulu ya Em. Makasih banget udah nemenin gue, maaf lo jadi gue tinggal." Ray menyedot habis minumannya, disambut oleh anggukan Emelly. Emelly memandang Ray yang segera pergi meninggalkannya, membayar ke kasir, kemudian berlari ke parkiran dan berlalu dari pandangannya.
"Assalamualaikum." Emelly membuka pintu rumah, Dira menunggunya di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam mbak. Gimana tadi jalan-jalannya? cicuiiittt, hehe." ledek Dira.
"Apaan sih Zan, orang cuma nyari buku doang." Emelly beralih ke meja makan, menuang air putih dan segera meminumnya.
"Nggak cuma nyari buku juga nggak papa mbak. Gue nggak dibeliin oleh-oleh ya? Jahat banget lo sama adek sendiri." Dira menggerutu.
"Bawel lu.. nih." Emelly melempar sebatang cokelat dengan bungkus warna kuning pada Dira, lalu masuk ke kamarnya.
"Asiiik..." Dira langsung melahap cokelat yang baru saja dilempar Emelly.
***
"Mbak, kok Ayah udah jam segini belum pulang ya? Nggak biasanya." Dira mencemaskan ayahnya saat makan malam bersama Emelly.
"Baru jam 8 Zan, biasanya juga ayah bisa pulang lebih malem. Atau mungkin ayah lagi ada urusan." Emelly lanjut mengunyah suapannya.
"Tadi ayah cuma bilang kita suruh makan duluan aja, nggak usah nunggu ayah." Dira menyelesaikan suapan terakhirnya, lalu beranjak mencuci piring.
Saat Emelly hendak menuang minuman, handphone miliknya berdering. Nama RAY tertera di layar, Emelly segera menjawabnya.
"Halo, assalamualaikum. "
"Wa'alaikumsalam Em." suara Ray terdengar tidak bersemangat."
"Ada apa Ray? Tumben lo telpon lagi."
"Hmm.."
"Ada apa sih Ray?" Emelly penasaran.
"Gini Em, lo sama adik lo sekarang ke RSCM ya."
"Ehh, emang siapa yang sakit Ray?"
"Hmm..." Ray bingung akan mengatakannya atau tidak.
"Ray!! Ngomong dong." Emelly mendesak. Dira yang sedang menonton televisi melirik Emelly yang suaranya meninggi.
"Pak Fauzi, sekarang di RSCM. Beliau tertembak tadi siang. Cepetan Em, lo mesti kesini sekarang." Ray mengatakan semuanya.
Praaang....!!!
Gelas yang ada dalam genggaman Emelly meluncur jatuh.
Sabtu, 27 Oktober 2012
Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 7
Bandung, April 2006
"Em.....!!"
Emelly menoleh, dia berdiri di lobi sekolah, baru saja akan pulang setelah mengikuti rapat OSIS. Ray berlari menghampirinya, seragam OSIS yang dipakainya berantakan, keluar disana sini. Tangannya mencengkeram lengan Emelly, berusaha untuk mencari pegangan agar tidak jatuh, tas ranselnya melorot ke lengan kanannya. Keringat menetes dari dahinya, terlihat lelah. Dia terengah-engah, mengatur nafas, seperti akan mengucapkan sesuatu. Emelly masih menatap Ray, rambut hitam ikalnya yang panjang melebihi bahu tertiup angin.
"Lo kenapa sih? Kaya abis dikejar anjing gitu?" tanya Emelly sambil merapikan poni yang sedikit mengganggu pandangannya.
"Hhh... gue..gue...hhh..." Ray masih sibuk mengatur nafas.
"Sini deh, lo duduk dulu." kata Emelly sambil membimbing Ray duduk di kursi lobi, memberikan bekal air mineralnya. Suasana sekolah siang itu mulai sepi, hampir seluruh siswa SMA 7 Bandung sudah pulang, hanya tersisa beberapa yang masih mengikuti ekstrakurikuler basket dan akan pulang setelah mengikuti rapat OSIS.
"Gue.... Fira." kata Ray, masih berusaha mengatur nafas setelah meminum air yang diberikan Emelly.
"Tenang dulu ngapa Ray." Emelly mengelus-elus punggung Ray.
"Gue... udah jadian sama Fira." ucap Ray, tersenyum senang.
"Oh." wajah Emelly datar.
"Cuma oh doang?"
"Terus gue mesti ngapain dong?" Emelly tidak paham respon seperti apa yang Ray harapkan.
"Ya ampuuun. Lo jahat banget sih Em, sahabat lo jadian gini ya kasih selamat kek. Minimal kasih ekspresi seneng apa gimana, malah cuma 'oh' doang yang gue dapet." Ray menggerutu.
"Ehh, iya iya. Selamat ya." Emelly tersenyum.
"Nah gitu dong. Aduh gue seneng banget deh sekarang udah jadian sama Fira." Ray tak henti-hentinya menebar senyum bahagianya sambil memeluk botol air mineral Emelly. Beberapa siswa yang melewatinya tertawa geli melihat tingkah Ray. Emelly menunduk malu, malu akan tingkah Ray.
"Gue nggak kenal lo." Emelly ngeloyor pergi.
"Ehh, Em.. lo mau kemana??" Ray mengejar Emelly, meraih lengan kirinya.
"Pulang lah Ray, udah sore nih, ntar nggak ada angkot lagi." Emelly berbalik.
"Gue anterin deh, kaya nggak biasanya aja lo nebeng gue."
"Bukannya lo mesti anterin Fira pulang? Emang dia nggak nungguin lo?"
"Dia udah gue suruh pulang duluan tadi, soalnya gue mesti ngomong kabar bahagia ini sama lo dulu."
"Jahat banget lo sama pacar sendiri. Ehh, ini tangan ngapain masih disini?" kata Emelly sambil menunjuk tangan Ray yang masih mencengkeram erat lengannya.
"Eh,, ni tangan nakal banget ya?" Ray nyengir sambil melepas lengan Emelly, lalu tangan kirinya memukuli tangan kanan.
"Hhh.. dasar somplak. Udah ah, gue mau pulang."
"Ehhh.. udah gue bilang lo pulang sama gue, ya sama gue. Ngeyel banget nih anak." Ray menarik tangan Emelly, menyeretnya ke parkiran motor, Emelly tak bisa berbuat apa-apa.
***
Keesokan harinya..
"Em....!!" Ray memanggil Emelly yang sendirian saat di kantin sekolah. Emelly menghentikan kunyahannya, melihat ke arah Ray yang menggandeng seorang gadis, berseragam OSIS. Putih, cantik, rambut panjangnya dibiarkan terurai indah.
"Kamu duduk sama Emelly dulu ya, aku pesen makan dulu." ucap Ray pada gadis itu, gadis itu mengangguk. Ray pergi memesan makanan. Emelly tersenyum, lalu kembali menikmati mie ayamnya yang masih separuh.
"Maaf ya lama, minumnya ntar katanya mau dianterin." Ray kembali membawa dua piring somay. "Em, lo udah kenal Fira kan?" kata Ray memulai suapannya.
"Ya cuma tau kalo Fira anak kelas XII IPA 3, tapi belum pernah ngobrol. Ya nggak Fir?" jawab Emelly, menoleh ke arah gadis yang dikenalkan Ray sebagai Fira.
"Iya." Fira menjawab singkat.
"Oh ya udah. Sayang, Emelly ini sahabat aku. Kita tuh dari dulu susah seneng bareng. Ehh, makasih bu." tiba-tiba ibu kantin mengantarkan dua es jeruk saat Ray berbicara pada Fira.
"Iya." Fira tak banyak berkomentar, lalu tersenyum pada Emelly.
"Bagus deh kalo gitu, kalo kalian jadi akrab kan gue jadi seneng Em. Apalagi kalian juga ntar bisa bersahabat kaya gue sama lo."
"Tenang aja Ray." Emelly meyakinkan, lalu menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Thanks ya Em." Ray tersenyum senang.
"Cantik sih, tapi kok kaya nggak suka gitu ya liatin gue? Hmm.. mungkin perasaan gue aja kali ya?" ucap Emelly dalam hati saat meminum soft drink, sambil memandang Ray dan Fira yang sedang ngobrol. "Eh, gue duluan yah Ray, gue belum ngerjain PR Bahasa Inggris nih, mana jam terakhir pula." Emelly beranjak dari duduknya.
"Ya udah gih sono, ntar gue nyontek ya, hehe." Ray nyengir.
"Hmm.. tapi makan gue barusan lo yang bayar ya?" tawar Emelly.
"Hhh.. dasar. Ya udah gih sono cepet kerjain." Ray cemberut.
"Hahaha.. ya udah, gue ke kelas dulu ya. Daah Fira." Emelly melambaikan tangan, meninggalkan kantin. Fira tersenyum lalu melambaikan tangan.
***
Dua bulan kemudian..
"Em, gue boleh minta tolong sama lo?" ucap Ray di parkiran sepulang sekolah.
"Tinggal ngomong aja, emang kenapa?"
"Kita sekarang jangan terlalu sering keliatan bareng ya, Fira cemburu sama lo."
"Hmm.. gitu ya. Ya udah deh, tapi kita masih sahabatan kan?."
"Ya lah, kita bakal jadi sahabat terus. Gue cuma minta tolong pengertian lo aja, lo pasti tau lah gimana perasaan cewek. Walaupun gue udah berulang kali jelasin ke Fira kalo kita ini sahabatan doang, tapi tetep aja dia cemburu sama lo."
"Iya gue ngerti Ray." Emelly melirik tangan kiri Ray, gelang bambu bertuliskan EMELLY sudah tidak ada.
"Makasih banget ya Em. Ya udah, gue jemput Fira dulu ke kelasnya ya, dia masih nungguin." pamit Ray.
"Gue udah tau bakal kaya gini Ray. Apa mungkin setelah ini lo jadi jauhin gue?" ucap Emelly menatap punggung Ray yang semakin lama menjauh.
***
Satu minggu kemudian..
"Ray...!!" Emelly memanggil Ray saat melihatnya di parkiran. Ray hanya memandang sekilas, lalu buru-buru memakai helm. "Ray.. tunggu Ray!!" Emelly berlari menghampiri Ray."
"Ada apa?" jawab Ray singkat, membuka kaca helm.
"Gue boleh nebeng nggak, gue.."
"Sory gue udah ditunggu Fira di depan sekolah Em. Sory banget ya." potong Ray saat Emelly akan menyelesaikan ucapannya, kemudian segera menyetater motornya. Emelly kembali menatap kepergian Ray dengan tersenyum getir.
Malam harinya, Emelly mulai merasa ada yang berbeda dari Ray beberapa hari terakhir ini. Dia tak tahan lagi, segera meraih handphone. Karena satu-satunya jalan hanya mengirim SMS, sebab Ray selalu menghindar dan menjauhi Emelly saat ini.
Emelly menunggu balasan SMS dari Ray. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Emelly mulai resah, tidak biasanya Ray lama membalas SMSnya. Emelly mulai beringsut menuju meja belajar, berusaha melupakan hal yang sangat mengganggu pikirannya itu dengan mengerjakan PR Matematika. Baru setengah soal dia kerjakan, Emelly memandang fotonya bersama Ray yang dia taruh di meja belajar. Di foto itu terlihat tangan Ray memiting leher Emelly, tangannya mengepal seperti hendak menjitak kepala Emelly. Sedang ekspresi wajah tak berdaya Emelly terlihat sangat alami. Foto tersebut diambil saat mereka sedang menghabiskan waktu istirahat di depan perpustakaan. Tanti, teman sekelas mereka lah yang tidak sengaja memotretnya waktu akhir semester gasal kelas XI. Emelly meraih foto itu, tersenyum memandanginya.
"Apa mungkin kita bisa kaya gini lagi Ray?" ucap Emelly, dia mengusap foto pada bagian wajah Ray.
Setelah menyelesaikan PRnya, Emelly akan beranjak ke tempat tidurnya. Dia kembali memandang handphone, berharap handphone itu bergetar, dan balasan dari Ray bisa segera dia baca. Tapi handphone yang tergeletak di samping bantal tak bergetar, sunyi.
"Hhh..." Emelly menghela nafas. Dia mematikan lampu belajar, merebahkan badannya, memejamkan mata.
Ddrrrtt...drrtt...
Baru saja Emelly terlelap, dia dikagetkan oleh getar handphonenya. Dia meraih handphone, melihat SMS dari Ray tertera dilayar, ternyata sudah pukul 23.30. Dengan segera Emelly memencet pilihan 'Read'.
Emelly kecewa, sangat kecewa dengan balasan yang dia baca. Bukan balasan yang seperti itu yang dia harapkan. Dia meletakkan handphonenya, berusaha memejamkan matanya kembali. Setetes air mata menetes dari ujung matanya.
Selama hampir satu bulan Ray masih saja bersikap menghindar, atau bahkan lebih tepatnya menjauhi Emelly. Emelly benar-benar bingung dengan perubahan sikap Ray yang sangat drastis, sedang mereka tidak ada masalah apalagi bertengkar. Emelly merasa ini pasti ada hubungannya dengan Fira. Dia berniat untuk menemui Fira pulang ekstrakurikuler nanti, dia tau kalau hari ini jadwal latihan ekstra teater drama.
"Fira." panggil Emelly saat melihat Fira berjalan menuju lobi, dia sudah menunggu sekitar satu jam.
"Ya, ada apa Emelly?" jawab Fira.
"Boleh ngomong sebentar?"
"Boleh, ada apa ya?"
"Hmm.. gue to the point aja kali ya. Lo nggak suka ya gue sama Ray sahabatan?" pertanyaan Emelly tepat sasaran, perubahan wajah Fira sangat terlihat.
"Maksudnya apa ya?"
"Yaa, lo cemburu kan sama gue?"
"Gue.."
"Udah lo jujur aja Fir, biar kita sama-sama enak."
"Gue.. gue tau kalo lo dan Ray udah sahabatan lama. Ray juga cerita kalo kalian susah seneng bareng, intinya lo itu sahabat yang paling ngertiin dia. Walaupun berulang kali Ray yakinin gue kalo kalian cuma sahabatan, tapi gue nggak bisa bohongin perasaan gue. Gue nggak suka dengan kedekatan kalian." Fira tak bertele-tele lagi.
"OK, gue paham. Gue ngerti, tapi apa nggak bisa sih lo percaya sama Ray, sama gue juga kalo kita emang cuma sahabatan, NGGAK LEBIH." Emelly memberi penekanan.
"Gue udah coba, tapi rasanya sulit Em. Ray sering cerita dulu begini lah, dulu begitu lah sama lo. Kalo lo jadi gue, gimana perasaan lo waktu pacar lo lebih sering cerita tentang cewek lain didepan lo?" pertanyaan Fira membungkam Emelly. "Lo nggak bisa jawab kan? Tapi gue juga nggak mau ngrusak persahabatan kalian. Kayaknya gue lebih baik mundur."
"Maksud lo apa Fir?"
"Lo pasti tau lah apa maksud gue. Gue bakal ninggalin Ray, gue nggak mau ngrusak persahabatan kalian."
"Nggak! Lo nggak boleh ninggalin Ray. Ray sayang banget sama lo Fir, gue yang bakal jauhin Ray."
"Ray juga butuh lo Em, lo sahabatnya."
"Ray bisa tanpa gue, tapi kalo lo ninggalin dia.."
"Dia bakal baik-baik aja. Sebaliknya, kalo dia nggak ada sahabat kaya lo, dia pasti kehilangan." Fira memotong ucapan Emelly. "Udah ya Em, gue pikir obrolan kita udah selesai. Tolong jagain Ray." Fira pergi meninggalkan Emelly.
"Fir... Fira!! Kita belum selesai bicara. Firaaa!!" Emelly berteriak memanggil Fira yang tetap berlalu meninggalkannya.
Hari-hari berikutnya sikap Ray masih sama, menjauhi Emelly. Bahkan Ray sudah sangat jarang untuk mau berbicara dengan Emelly, padahal mereka satu kelas. Tatapan mata Ray pun tak sehangat dulu lagi, saat bertemu atau berpapasan dengan Emelly dia hanya menatap sekilas kemudian membuang muka. Ray tetap bersama Fira, Emelly pun cukup tahu diri dan tidak berani mendekati Ray lagi. Di sisi lain, dia senang Ray bahagia bersama Fira. Namun, di sisi lain dia merasa sakit harus menjauhi dan dijauhi Ray seperti itu. Dia merasa sakit sekali, apalagi Ray berubah tanpa ada satupun penjelasan keluar dari mulutnya.
Gelang bambu bertuliskan RAY pun telah dia lepas dan tidak dipakai lagi. Dia hanya mampu menyimpan barang-barang yang memiliki kenangan tentang Ray seperti gelang, sketsa-sketsa buatan Ray, dan beberapa barang yang lainnya.
Sampai mendekati kelulusan SMA, Emelly dan Ray semakin jauh. Hingga akhirnya setelah kelulusan, mereka tak sempat mengucapkan kata perpisahan.
***
Pagi ini Emelly sangat bersemangat, dia akan mengawasi UlanganTengah Semester di SMA Bina Karya. Merasa bahwa seminggu kedepan kegiatanya tidak terlalu melelahkan, karena dia hanya perlu mengawasi dan mengoreksi hasil ulangan kelas yang diampu olehnya.
Seperti biasa, sebelum memulai aktifitasnya, Emelly harus menyiapkan sarapan dulu untuk Pak Fauzi dan Dira. Kali ini dia memasak mie goreng, cah kangkung, dan tidak ketinggalan tempe goreng. Saat Emelly mengiris tempe, handphonenya menjerit, ada sms.
Emelly tersenyum menyudahi SMSan singkatnya dengan Ray, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat jam yang tertera di layar handphone, sudah pukul 05.50 dan dia belum mandi. Emelly segera menyelesaikan masakannya, kemudian pergi mandi dan bersiap untuk sarapan.
Ket:
kode kepolisian 813 : selamat bertugas
kode kepolisian 86 : dimengerti
"Em.....!!"
Emelly menoleh, dia berdiri di lobi sekolah, baru saja akan pulang setelah mengikuti rapat OSIS. Ray berlari menghampirinya, seragam OSIS yang dipakainya berantakan, keluar disana sini. Tangannya mencengkeram lengan Emelly, berusaha untuk mencari pegangan agar tidak jatuh, tas ranselnya melorot ke lengan kanannya. Keringat menetes dari dahinya, terlihat lelah. Dia terengah-engah, mengatur nafas, seperti akan mengucapkan sesuatu. Emelly masih menatap Ray, rambut hitam ikalnya yang panjang melebihi bahu tertiup angin.
"Lo kenapa sih? Kaya abis dikejar anjing gitu?" tanya Emelly sambil merapikan poni yang sedikit mengganggu pandangannya.
"Hhh... gue..gue...hhh..." Ray masih sibuk mengatur nafas.
"Sini deh, lo duduk dulu." kata Emelly sambil membimbing Ray duduk di kursi lobi, memberikan bekal air mineralnya. Suasana sekolah siang itu mulai sepi, hampir seluruh siswa SMA 7 Bandung sudah pulang, hanya tersisa beberapa yang masih mengikuti ekstrakurikuler basket dan akan pulang setelah mengikuti rapat OSIS.
"Gue.... Fira." kata Ray, masih berusaha mengatur nafas setelah meminum air yang diberikan Emelly.
"Tenang dulu ngapa Ray." Emelly mengelus-elus punggung Ray.
"Gue... udah jadian sama Fira." ucap Ray, tersenyum senang.
"Oh." wajah Emelly datar.
"Cuma oh doang?"
"Terus gue mesti ngapain dong?" Emelly tidak paham respon seperti apa yang Ray harapkan.
"Ya ampuuun. Lo jahat banget sih Em, sahabat lo jadian gini ya kasih selamat kek. Minimal kasih ekspresi seneng apa gimana, malah cuma 'oh' doang yang gue dapet." Ray menggerutu.
"Ehh, iya iya. Selamat ya." Emelly tersenyum.
"Nah gitu dong. Aduh gue seneng banget deh sekarang udah jadian sama Fira." Ray tak henti-hentinya menebar senyum bahagianya sambil memeluk botol air mineral Emelly. Beberapa siswa yang melewatinya tertawa geli melihat tingkah Ray. Emelly menunduk malu, malu akan tingkah Ray.
"Gue nggak kenal lo." Emelly ngeloyor pergi.
"Ehh, Em.. lo mau kemana??" Ray mengejar Emelly, meraih lengan kirinya.
"Pulang lah Ray, udah sore nih, ntar nggak ada angkot lagi." Emelly berbalik.
"Gue anterin deh, kaya nggak biasanya aja lo nebeng gue."
"Bukannya lo mesti anterin Fira pulang? Emang dia nggak nungguin lo?"
"Dia udah gue suruh pulang duluan tadi, soalnya gue mesti ngomong kabar bahagia ini sama lo dulu."
"Jahat banget lo sama pacar sendiri. Ehh, ini tangan ngapain masih disini?" kata Emelly sambil menunjuk tangan Ray yang masih mencengkeram erat lengannya.
"Eh,, ni tangan nakal banget ya?" Ray nyengir sambil melepas lengan Emelly, lalu tangan kirinya memukuli tangan kanan.
"Hhh.. dasar somplak. Udah ah, gue mau pulang."
"Ehhh.. udah gue bilang lo pulang sama gue, ya sama gue. Ngeyel banget nih anak." Ray menarik tangan Emelly, menyeretnya ke parkiran motor, Emelly tak bisa berbuat apa-apa.
***
Keesokan harinya..
"Em....!!" Ray memanggil Emelly yang sendirian saat di kantin sekolah. Emelly menghentikan kunyahannya, melihat ke arah Ray yang menggandeng seorang gadis, berseragam OSIS. Putih, cantik, rambut panjangnya dibiarkan terurai indah.
"Kamu duduk sama Emelly dulu ya, aku pesen makan dulu." ucap Ray pada gadis itu, gadis itu mengangguk. Ray pergi memesan makanan. Emelly tersenyum, lalu kembali menikmati mie ayamnya yang masih separuh.
"Maaf ya lama, minumnya ntar katanya mau dianterin." Ray kembali membawa dua piring somay. "Em, lo udah kenal Fira kan?" kata Ray memulai suapannya.
"Ya cuma tau kalo Fira anak kelas XII IPA 3, tapi belum pernah ngobrol. Ya nggak Fir?" jawab Emelly, menoleh ke arah gadis yang dikenalkan Ray sebagai Fira.
"Iya." Fira menjawab singkat.
"Oh ya udah. Sayang, Emelly ini sahabat aku. Kita tuh dari dulu susah seneng bareng. Ehh, makasih bu." tiba-tiba ibu kantin mengantarkan dua es jeruk saat Ray berbicara pada Fira.
"Iya." Fira tak banyak berkomentar, lalu tersenyum pada Emelly.
"Bagus deh kalo gitu, kalo kalian jadi akrab kan gue jadi seneng Em. Apalagi kalian juga ntar bisa bersahabat kaya gue sama lo."
"Tenang aja Ray." Emelly meyakinkan, lalu menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Thanks ya Em." Ray tersenyum senang.
"Cantik sih, tapi kok kaya nggak suka gitu ya liatin gue? Hmm.. mungkin perasaan gue aja kali ya?" ucap Emelly dalam hati saat meminum soft drink, sambil memandang Ray dan Fira yang sedang ngobrol. "Eh, gue duluan yah Ray, gue belum ngerjain PR Bahasa Inggris nih, mana jam terakhir pula." Emelly beranjak dari duduknya.
"Ya udah gih sono, ntar gue nyontek ya, hehe." Ray nyengir.
"Hmm.. tapi makan gue barusan lo yang bayar ya?" tawar Emelly.
"Hhh.. dasar. Ya udah gih sono cepet kerjain." Ray cemberut.
"Hahaha.. ya udah, gue ke kelas dulu ya. Daah Fira." Emelly melambaikan tangan, meninggalkan kantin. Fira tersenyum lalu melambaikan tangan.
***
Dua bulan kemudian..
"Em, gue boleh minta tolong sama lo?" ucap Ray di parkiran sepulang sekolah.
"Tinggal ngomong aja, emang kenapa?"
"Kita sekarang jangan terlalu sering keliatan bareng ya, Fira cemburu sama lo."
"Hmm.. gitu ya. Ya udah deh, tapi kita masih sahabatan kan?."
"Ya lah, kita bakal jadi sahabat terus. Gue cuma minta tolong pengertian lo aja, lo pasti tau lah gimana perasaan cewek. Walaupun gue udah berulang kali jelasin ke Fira kalo kita ini sahabatan doang, tapi tetep aja dia cemburu sama lo."
"Iya gue ngerti Ray." Emelly melirik tangan kiri Ray, gelang bambu bertuliskan EMELLY sudah tidak ada.
"Makasih banget ya Em. Ya udah, gue jemput Fira dulu ke kelasnya ya, dia masih nungguin." pamit Ray.
"Gue udah tau bakal kaya gini Ray. Apa mungkin setelah ini lo jadi jauhin gue?" ucap Emelly menatap punggung Ray yang semakin lama menjauh.
***
Satu minggu kemudian..
"Ray...!!" Emelly memanggil Ray saat melihatnya di parkiran. Ray hanya memandang sekilas, lalu buru-buru memakai helm. "Ray.. tunggu Ray!!" Emelly berlari menghampiri Ray."
"Ada apa?" jawab Ray singkat, membuka kaca helm.
"Gue boleh nebeng nggak, gue.."
"Sory gue udah ditunggu Fira di depan sekolah Em. Sory banget ya." potong Ray saat Emelly akan menyelesaikan ucapannya, kemudian segera menyetater motornya. Emelly kembali menatap kepergian Ray dengan tersenyum getir.
Malam harinya, Emelly mulai merasa ada yang berbeda dari Ray beberapa hari terakhir ini. Dia tak tahan lagi, segera meraih handphone. Karena satu-satunya jalan hanya mengirim SMS, sebab Ray selalu menghindar dan menjauhi Emelly saat ini.
To: Ray
Lo knp sih Ray?
Skrg beda bgt ma gw?
Sorry kalo gw punya salah.
Emelly menunggu balasan SMS dari Ray. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Emelly mulai resah, tidak biasanya Ray lama membalas SMSnya. Emelly mulai beringsut menuju meja belajar, berusaha melupakan hal yang sangat mengganggu pikirannya itu dengan mengerjakan PR Matematika. Baru setengah soal dia kerjakan, Emelly memandang fotonya bersama Ray yang dia taruh di meja belajar. Di foto itu terlihat tangan Ray memiting leher Emelly, tangannya mengepal seperti hendak menjitak kepala Emelly. Sedang ekspresi wajah tak berdaya Emelly terlihat sangat alami. Foto tersebut diambil saat mereka sedang menghabiskan waktu istirahat di depan perpustakaan. Tanti, teman sekelas mereka lah yang tidak sengaja memotretnya waktu akhir semester gasal kelas XI. Emelly meraih foto itu, tersenyum memandanginya.
"Apa mungkin kita bisa kaya gini lagi Ray?" ucap Emelly, dia mengusap foto pada bagian wajah Ray.
Setelah menyelesaikan PRnya, Emelly akan beranjak ke tempat tidurnya. Dia kembali memandang handphone, berharap handphone itu bergetar, dan balasan dari Ray bisa segera dia baca. Tapi handphone yang tergeletak di samping bantal tak bergetar, sunyi.
"Hhh..." Emelly menghela nafas. Dia mematikan lampu belajar, merebahkan badannya, memejamkan mata.
Ddrrrtt...drrtt...
Baru saja Emelly terlelap, dia dikagetkan oleh getar handphonenya. Dia meraih handphone, melihat SMS dari Ray tertera dilayar, ternyata sudah pukul 23.30. Dengan segera Emelly memencet pilihan 'Read'.
From: Ray
Gw gak knpa-napa.
Biasa aja kok.
Emelly kecewa, sangat kecewa dengan balasan yang dia baca. Bukan balasan yang seperti itu yang dia harapkan. Dia meletakkan handphonenya, berusaha memejamkan matanya kembali. Setetes air mata menetes dari ujung matanya.
Selama hampir satu bulan Ray masih saja bersikap menghindar, atau bahkan lebih tepatnya menjauhi Emelly. Emelly benar-benar bingung dengan perubahan sikap Ray yang sangat drastis, sedang mereka tidak ada masalah apalagi bertengkar. Emelly merasa ini pasti ada hubungannya dengan Fira. Dia berniat untuk menemui Fira pulang ekstrakurikuler nanti, dia tau kalau hari ini jadwal latihan ekstra teater drama.
"Fira." panggil Emelly saat melihat Fira berjalan menuju lobi, dia sudah menunggu sekitar satu jam.
"Ya, ada apa Emelly?" jawab Fira.
"Boleh ngomong sebentar?"
"Boleh, ada apa ya?"
"Hmm.. gue to the point aja kali ya. Lo nggak suka ya gue sama Ray sahabatan?" pertanyaan Emelly tepat sasaran, perubahan wajah Fira sangat terlihat.
"Maksudnya apa ya?"
"Yaa, lo cemburu kan sama gue?"
"Gue.."
"Udah lo jujur aja Fir, biar kita sama-sama enak."
"Gue.. gue tau kalo lo dan Ray udah sahabatan lama. Ray juga cerita kalo kalian susah seneng bareng, intinya lo itu sahabat yang paling ngertiin dia. Walaupun berulang kali Ray yakinin gue kalo kalian cuma sahabatan, tapi gue nggak bisa bohongin perasaan gue. Gue nggak suka dengan kedekatan kalian." Fira tak bertele-tele lagi.
"OK, gue paham. Gue ngerti, tapi apa nggak bisa sih lo percaya sama Ray, sama gue juga kalo kita emang cuma sahabatan, NGGAK LEBIH." Emelly memberi penekanan.
"Gue udah coba, tapi rasanya sulit Em. Ray sering cerita dulu begini lah, dulu begitu lah sama lo. Kalo lo jadi gue, gimana perasaan lo waktu pacar lo lebih sering cerita tentang cewek lain didepan lo?" pertanyaan Fira membungkam Emelly. "Lo nggak bisa jawab kan? Tapi gue juga nggak mau ngrusak persahabatan kalian. Kayaknya gue lebih baik mundur."
"Maksud lo apa Fir?"
"Lo pasti tau lah apa maksud gue. Gue bakal ninggalin Ray, gue nggak mau ngrusak persahabatan kalian."
"Nggak! Lo nggak boleh ninggalin Ray. Ray sayang banget sama lo Fir, gue yang bakal jauhin Ray."
"Ray juga butuh lo Em, lo sahabatnya."
"Ray bisa tanpa gue, tapi kalo lo ninggalin dia.."
"Dia bakal baik-baik aja. Sebaliknya, kalo dia nggak ada sahabat kaya lo, dia pasti kehilangan." Fira memotong ucapan Emelly. "Udah ya Em, gue pikir obrolan kita udah selesai. Tolong jagain Ray." Fira pergi meninggalkan Emelly.
"Fir... Fira!! Kita belum selesai bicara. Firaaa!!" Emelly berteriak memanggil Fira yang tetap berlalu meninggalkannya.
Hari-hari berikutnya sikap Ray masih sama, menjauhi Emelly. Bahkan Ray sudah sangat jarang untuk mau berbicara dengan Emelly, padahal mereka satu kelas. Tatapan mata Ray pun tak sehangat dulu lagi, saat bertemu atau berpapasan dengan Emelly dia hanya menatap sekilas kemudian membuang muka. Ray tetap bersama Fira, Emelly pun cukup tahu diri dan tidak berani mendekati Ray lagi. Di sisi lain, dia senang Ray bahagia bersama Fira. Namun, di sisi lain dia merasa sakit harus menjauhi dan dijauhi Ray seperti itu. Dia merasa sakit sekali, apalagi Ray berubah tanpa ada satupun penjelasan keluar dari mulutnya.
Gelang bambu bertuliskan RAY pun telah dia lepas dan tidak dipakai lagi. Dia hanya mampu menyimpan barang-barang yang memiliki kenangan tentang Ray seperti gelang, sketsa-sketsa buatan Ray, dan beberapa barang yang lainnya.
Sampai mendekati kelulusan SMA, Emelly dan Ray semakin jauh. Hingga akhirnya setelah kelulusan, mereka tak sempat mengucapkan kata perpisahan.
***
Pagi ini Emelly sangat bersemangat, dia akan mengawasi UlanganTengah Semester di SMA Bina Karya. Merasa bahwa seminggu kedepan kegiatanya tidak terlalu melelahkan, karena dia hanya perlu mengawasi dan mengoreksi hasil ulangan kelas yang diampu olehnya.
Seperti biasa, sebelum memulai aktifitasnya, Emelly harus menyiapkan sarapan dulu untuk Pak Fauzi dan Dira. Kali ini dia memasak mie goreng, cah kangkung, dan tidak ketinggalan tempe goreng. Saat Emelly mengiris tempe, handphonenya menjerit, ada sms.
From: Ray
Good morning Em..
Lagi ngpain lo?
To: Ray
Morning Ray..
Bikin breakfast nih
From: Ray
Emang sejak kpn lo bisa masak?
To: Ray
Sialan lo..!
Gw masak dulu ya, sambung ntar lagi.
813 Ray :)
From: Ray
Hahaha.. okay..
86 Em :)
Emelly tersenyum menyudahi SMSan singkatnya dengan Ray, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat jam yang tertera di layar handphone, sudah pukul 05.50 dan dia belum mandi. Emelly segera menyelesaikan masakannya, kemudian pergi mandi dan bersiap untuk sarapan.
Ket:
kode kepolisian 813 : selamat bertugas
kode kepolisian 86 : dimengerti
Selasa, 23 Oktober 2012
Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 6
Suasana malam kompleks Puri Dharmawangsa sepi, hanya terlihat sekumpulan bapak-bapak yang sedang berkumpul di pos kampling ujung jalan Blok B. Walaupun baru pukul delapan malam, mereka sedang nonton bareng pertandingan bola Arsenal VS Manchester United yang kedudukannya masih kosong sama di menit ke tiga puluh sembilan. Salah satu warga yang rumahnya dekat dengan pos kampling dengan sukarela memindahkan televisinya ke pos kampling, agar agenda nobar tetap terlaksana. Mereka tersenyum pada Emelly yang sedang berjalan menuju taman kompleks, disebelahnya berjalan Ray dengan tangan kiri di saku celana. Lencana POLRI berwarna emas mengkilat menempel di dada kirinya, bet dikanan dan kiri bahunya menunjukkan pangkatnya sebagai seorang Ajun Inspektur Dua atau AIPDA, sedang name tag RAY WIBISONO berada di dada kanan.
"Errr... lo sekarang pake kerudung Em?" Ray memecah keheningan malam. Mereka cukup lama terdiam saat duduk bersama di bangku taman, kali ini di sebelah kanan sisi taman, dekat dengan ayunan.
"Iya, setelah lulus SMA. Lo juga. Gimana bisa jadi polisi gitu?" jawab Emelly memandang ayunan, kedua tangan ditangkupkan di atas lutut.
"Ceritanya panjang." Ray menyandarkan tubuhnya ke bangku.
"Oh."
"Cuma oh doang?" Ray memandang ekspresi datar Emelly, disamping kirinya. Mengharapkan respon Emelly yang lebih.
"Terus gue mesti ngapain?" matanya masih menatap ayunan. Dia masih tidak percaya, baru saja semalam dia berbincang dengan bayangan Ray di taman itu. Lalu sekarang dia benar-benar berbincang Ray, Ray yang mengenakan seragam polisi, bukan dengan kaos dan topi yang dia biasa kenakan saat masih SMA.
"Ya tanya dong, gimana ceritanya gue bisa jadi polisi." gerutu Ray. Dia berusaha menghilangkan semua perasaan canggungnya. Padahal sudah sekitar enam tahun dia tidak berbicara akrab dengan Emelly. Emelly terdiam.
"Em, kok diem aja?"
"Lo bagus pake seragam polisi kaya gitu, nggak kurus kaya waktu SMA dulu."
"Oh ya? Keren nggak?" Ray tertawa. Emelly tersenyum, lalu meliriknya.
"Gue boleh tanya sesuatu Ray?" Emelly sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu yang dari kemarin mengganggu pikirannya.
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu gue habis ke kantor Satlantas buat jemput adik gue yang kecelakaan, terus disana gue ketemu sama.."
"Han." Ray memotong ucapan Emelly. "Lo ketemu sama kembaran gue."
"Kembar? Jadi selama ini lo kembar?" ucap Emelly tak percaya.
"Han sama gue tuh kembar identik. Dia lahir dua menit setelah gue lahir." Ray menjelaskan.
"Kok waktu SMA dia nggak sekolah bareng kita? Lo juga nggak pernah cerita kalo lo kembar, lo cuma cerita kalo lo punya satu adik cowok dan adik cewek."
"Han kan emang adik gue, ya walaupun kita kembar. Waktu umur enam bulan, Han dibawa sama budhe gue yang tinggal di Semarang. Mereka udah lama nggak punya anak. Terus gue sama adik cewek gue yang tinggal sama ortu di Bandung."
"Terus, gimana bisa sekarang lo sama Han disini?"
"Han sekolah taruna polisi di Ambarawa. Ortu minta gue juga daftar jadi polisi, biar bareng sama Han. Ya udah, gue nurut aja walaupun sebenernya gue pingin jadi arsitek. Setelah lulus SMA gue nyusul Han ke Semarang, dan ikut pendidikan taruna polisi bareng dia. Selesai pendidikan, Han ditempatin di Polres Wonosobo, dan gue di Polres Magelang. Karena suatu hal, dia di mutasi ke bagian Lantas." jelas Ray panjang lebar.
"Terus?" Emelly menunggu kelanjutan cerita Ray.
"Setahun lalu dia di mutasi ke Satlantas Pusat, ya karena gue masih di Magelang, dia ajak ibu dan adik gue pindah dari Bandung ke sini. Kasian kalo mereka berdua mesti berdua doang di Bandung."
"Ayah lo?"
"Ayah meninggal karena kecelakaan 3 tahun yang lalu Em."
"Oh, maaf. Gue ikut berduka cita Ray."
"Iya, makasih."
"Ehh, kok bisa nama lo sama Han beda banget gitu? Bukannya kalo kembar biasanya namanya mirip gitu ya? Barusan lo juga bilang kalo Han dibawa sama budhe lo umur enam bulan, berarti yang ngasih nama ortu lo dong?" cerocos Emelly penasaran.
"Jadi gini, ortu gue pingin kasih nama anaknya dengan nama Raihan, yang artinya angin surga. Nah ternyata kita lahir kembar, yang satu dikasih nama Ray dan yang satunya Han. Kayak gabungan gitu."
"Ohh." Emelly mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
"Sekitar enam bulan yang lalu Han nikah sama orang Bandung, gue kesana. Gue sempet ke rumah lo, tapi kata tetangga lo, lo udah lama pindah."
"Iya, gue pindah ke sini ikut ayah yang pindah tugas, sekitar empat tahun yang lalu."
"Oh, jadi setelah lulus SMA, ayah lo pindah tugas kesini?"
"Iya."
"Gimana kabar lo sama Fira?" tanya Emelly setelah cukup lama mereka kembali terdiam.
"Gue belum lama putus sama dia, ya sekitar setengah tahun yang lalu."
"Kenapa?"
"Dia selingkuh. Nggak tahan kali gue tinggal kelamaan di Magelang."
"Gue kira lo malah udah nikah sama Fira."
"Pacaran lama nggak menjamin bisa sampe pelaminan Em."
"Gitu ya?"
"Yaa gitu lah. Kalo lo sendiri, sekarang calon lo siapa?"
"Gue... gue masih single."
"Oh.." Ray terdiam sebentar, lalu berkata, "Maafin gue Em."
"Maaf kenapa?" Emelly menoleh ke arah Ray, setelah lama berbicara tanpa memandang Ray.
"Maaf karena gue nggak bisa nolak permintaan Fira buat jauhin lo. Dia cemburu sama persahabatan kita dulu."
"Iya gue ngerti Ray. Gue ngerti banget posisi lo dan Fira saat itu, apalagi waktu itu kita masih kelas 3 SMA. Ya, masih labil-labilnya." mata Emelly berkaca-kaca. "Gue cuma kecewa aja lo tiba-tiba jauhin gue, lo nggak ngomong sama gue kalo Fira nggak suka sama persahabatan kita. Waktu itu gue bingung Ray, awalnya kita masih baik-baik aja. Terus tiba-tiba lo main jauhin gue, nggak mau ngomong sama gue, bahkan tatapan lo ke gue dingin banget."
"Maafin gue Em." kata Ray, meraih tangan Emelly. Emelly terkesiap, berhadapan dengan Ray. Air matanya menetes tak tertahankan lagi. Ray mengusap air mata Emelly. Emelly melepaskan genggaman tangan Ray, berpaling.
Setelah Emelly cukup lama mengurai air mata, terkenang waktu dijauhi oleh Ray, dia berusaha mengendalikan perasaannya.
"Lo juga jahat Ray, setelah lo jauhin gue, no hp lo ganti. Sedih rasanya waktu inget lo, tapi gue nggak bisa hubungin lo."
"Iya gue salah, gue minta maaf. Dulu Fira minta gue buat ganti no, dia sengaja biar temen-temen gue nggak bisa hubungin gue lagi. Makanya waktu gue di pindahin ke Polsek Jatibarang, terus gue ketemu sama ayah lo, gue seneng banget. Gue langsung tanya kabar lo sama Pak Fauzi, terus gue minta alamat lo."
"Lo nggak tau kan gimana kaget dan bingungnya gue waktu ketemu sama kembaran lo itu? Gue kira itu lo, tapi kenapa dia nggak kenalin gue. Waktu liat nametag di seragamnya pun bukan nama lo." cerocos Emelly dengan intonasi tinggi.
"Maafin gue Em."
"Maaf.. maaf. Kalo minta maaf berguna, buat apa ada polisi?" jawab Emelly masih kesal. Ray tersenyum.
"Lo nggak berubah ya, selalu ngomong kayak gitu kalo ada orang yang minta maaf." Emelly tidak menanggapi. "Please maafin gue ya, jangan marah lagi dong Em. Kaya anak kecil aja lo main ngambek gitu." ledek Ray.
"Ya udah, lo gue maafin. Asal lo nggak tinggalin gue lagi, ehh.." kata Emelly keceplosan, lalu menutup mulutnya.
"Hahahaha.... iya iya, tenang aja Em. Gue bakal nebus semua kesalahan gue dulu. Gue yang udah jauhin lo, gue yang udah tinggalin lo tanpa kabar." kata Ray.
Emelly menatap Ray, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ray tersenyum. Rambutnya yang cepak sangat berbeda dengan potongan rambutnya saat SMA. Dia terlihat sangat gagah, dan tentu saja tampan.
"Udah malem Em, yuk pulang. Ntar lo dimarahin Pak Fauzi lagi, gue juga mesti udah ditungguin ibu."
"Loh? Katanya ibu lo sama Han dan adik cewek lo."
"Han sekarang tinggal bareng sama istrinya lah, lo lupa ya sama cerita gue tadi?"
"Oh iya gue lupa, hehe. Ya udah yuk pulang." jawab Emelly yang sudah bisa kembali mengakrabkan diri pada Ray, dia sudah memaafkan semua kejadian di masa lalu.
Di jalan pulang menuju rumah Emelly, tak lupa Ray meminta nomor handphone Emelly. Lalu mereka bercanda dan mengenang saat mereka bermain bersama dulu SMA.
***
Emelly bingung, menoleh kesana kemari. Di area parkiran sekolah sudah sepi, hanya tersisa motornya dan motor Pak Nardi, satpam sekolah. Dia meraih setangkai mawar merah yang diletakkan di atas jok motornya. Lalu membuka kertas yang disematkan di plastik pembungkusnya.
Bunga mawar itu ibarat kamu..
Jika berupa kuncup aku penasaran karenanya
Setelah mekar aku tau bahwa cantiknya dirimu
Dan bau harum yang kau tebarkan
Menandakan baiknya dirimu
Yang selalu membawa kedamaian
P.S I Love You
Jika berupa kuncup aku penasaran karenanya
Setelah mekar aku tau bahwa cantiknya dirimu
Dan bau harum yang kau tebarkan
Menandakan baiknya dirimu
Yang selalu membawa kedamaian
P.S I Love You
"Siapa sih? Hari gini masih sok misterius gini." Emelly memasukkan bunga itu ke dalam tas yang disampirkan ke bahunya. Meraih helm dan memakainya, menyetater motor lalu berlalu meninggalkan area SMA Bina Karya.
Sedang dari kejauhan, tepatnya di parkiran khusus siswa, seorang remaja laki-laki, mengenakan seragam Pramuka, tersenyum menyaksikan kepergian Emelly. Dia senang bisa mengutarakan perasaannya pada orang yang disukainya, walaupun harus dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia tidak cukup berani untuk mengekspresikan rasa sukanya secara terang-terangan.
***
"Assalamualaikum." Emelly membuka pintu rumahnya.
"Wa...alaikum...sss..alam.." jawab Dira dengan mulut penuh, mengunyah makan siangnya.
"Makan apa lo?" tanya Emelly mencopot sepatu pantofel hitamnya, melangkah ke rak sepatu di sebelah kanan meja makan, di bawah tangga menuju loteng jemur pakaian.
"Lo tadi masak apa coba? Adanya capcay sama ayam goreng ya gue makan aja. Laper mbak." jawab Dira melangkah ke tempat cuci piring, masih terpincang-pincang.
Emelly masuk ke kamar, mengganti pakaian batiknya dengan kaos biru tua dan celana panjang training warna hitam. Dia membuka ikat rambutnya, menyisir rambutnya yang panjang sepinggang, mematut diri di cermin.
"Kayaknya mesti di potong deh, biar nggak kepanjangan nih." ujar Emelly di depan cermin, menyanggul rambutnya dengan sumpit rambut. Dia keluar kamar membawa bunga mawar merah yang dia temukan tadi disekolah, memberikannya pada Dira yang menonton televisi.
"Dek, tadi ada yang naruh ini di jok motor gue."
"Emang dari siapa?" tanya Dira ingin tahu, membuka kertas yang tersemat. "Cieeeee.... Mbak Nida punya secret admirer nih yeeee..." ledek Dira, padahal Emelly baru saja akan menjawab pertanyaannya.
"Tau tuh dari siapa, hari gini masih jaman ya rahasia-rahasiaan gitu?" kata Emelly sambil memulai makan siangnya.
"Hahahaha.. jangan-jangan ini dari Pak Soni mbak, lumayan tuh guru olahraga. Masih muda kok." Dira terbahak, lanjut meledek Emelly.
"Apaan sih lo?" Emelly merengut, menyuapkan nasi.
"Atau jangan-jangan dari Pak Gunawan, dia belum nikah lo mbak." Dira tak henti-hentinya meledek Emelly.
"Ih,, amit-amit deh. Bujang lapuk kaya gitu. Ogah gue, kaya nggak ada bujangan yang lebih oke aja." Emelly bergidik. Dira terbahak lalu membaca kertas berisikan puisi yang tersemat di bunga, dia memutar otak. Mencoba mengingat-ingat tulisan siapa itu, namun tak kunjung diingatnya. Tulisan yang agak familiar baginya.
***
"Assalamualaikum." Emelly membuka pintu rumahnya.
"Wa...alaikum...sss..alam.." jawab Dira dengan mulut penuh, mengunyah makan siangnya.
"Makan apa lo?" tanya Emelly mencopot sepatu pantofel hitamnya, melangkah ke rak sepatu di sebelah kanan meja makan, di bawah tangga menuju loteng jemur pakaian.
"Lo tadi masak apa coba? Adanya capcay sama ayam goreng ya gue makan aja. Laper mbak." jawab Dira melangkah ke tempat cuci piring, masih terpincang-pincang.
Emelly masuk ke kamar, mengganti pakaian batiknya dengan kaos biru tua dan celana panjang training warna hitam. Dia membuka ikat rambutnya, menyisir rambutnya yang panjang sepinggang, mematut diri di cermin.
"Kayaknya mesti di potong deh, biar nggak kepanjangan nih." ujar Emelly di depan cermin, menyanggul rambutnya dengan sumpit rambut. Dia keluar kamar membawa bunga mawar merah yang dia temukan tadi disekolah, memberikannya pada Dira yang menonton televisi.
"Dek, tadi ada yang naruh ini di jok motor gue."
"Emang dari siapa?" tanya Dira ingin tahu, membuka kertas yang tersemat. "Cieeeee.... Mbak Nida punya secret admirer nih yeeee..." ledek Dira, padahal Emelly baru saja akan menjawab pertanyaannya.
"Tau tuh dari siapa, hari gini masih jaman ya rahasia-rahasiaan gitu?" kata Emelly sambil memulai makan siangnya.
"Hahahaha.. jangan-jangan ini dari Pak Soni mbak, lumayan tuh guru olahraga. Masih muda kok." Dira terbahak, lanjut meledek Emelly.
"Apaan sih lo?" Emelly merengut, menyuapkan nasi.
"Atau jangan-jangan dari Pak Gunawan, dia belum nikah lo mbak." Dira tak henti-hentinya meledek Emelly.
"Ih,, amit-amit deh. Bujang lapuk kaya gitu. Ogah gue, kaya nggak ada bujangan yang lebih oke aja." Emelly bergidik. Dira terbahak lalu membaca kertas berisikan puisi yang tersemat di bunga, dia memutar otak. Mencoba mengingat-ingat tulisan siapa itu, namun tak kunjung diingatnya. Tulisan yang agak familiar baginya.
Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 5
Dira meraih handphone, melihat pukul 14.00 tertera di layar. Dia menghela nafas, merasakan penat yang memenuhi dirinya. Bosan sekali rasanya seharian hanya menonton televisi, tidak ada yang bisa dia lakukan karena kakinya masih sakit. Untuk berjalan saja dia kesusahan, untuk kesekian kalinya dia mengoleskan gel pereda memar yang diberikan kakak perempuannya. Kemudian meraih remote control, mematikan televisi. Dia beranjak menuju ruang tamu, dibukanya pintu utama rumah. Angin menerpa wajahnya, terasa agak panas. Padahal Dira hanya memakai kaos tanpa lengan warna krem dengan celana training selutut, kulitnya yang sawo matang sedikit terlihat kering. Rambutnya yang lurus terpotong rapi dia acak-acak, kemudian dia benarkan lagi poninya yang sedikit mengganggu mata.
Dira duduk di kursi yang ada di teras rumah, melihat mushola yang sepi. Jalan depan rumahnya pun lengang, tidak ada satu pun penjual jajanan yang lewat. Biasanya tukang somay, bakso, bakpao, sampai es krim dengan logo gambar hati selalu lewat depan rumah. Tiba-tiba tiga sepeda motor lewat, kemudian berhenti di depan rumahnya. Enam remaja berseragam identitas SMA Bina Karya, atasan hijau alpukat dengan bawahan hijau lumut, yang sepertinya mencari alamat. Salah satu melepas helm hitamnya dan berkata, "Setau gue sih yang ini rumah Dira."
"Hei,, pada ngapain lo disini?" Dira beranjak dari kursinya, menyadari sosok yang melepas helm adalah Agung, teman sekelasnya. Lalu mendekati pintu gerbang, membukakan grendel dan menggeser gerbang.
"Ya ampun, kenapa lu sob?" tanya Agung turun dari motor, membonceng Arga yang kemudian membuka helmnya.
"Udah sini pada masuk dulu, daripada kepanasan. Ntar gue ceritain." kata Dira mempersilahkan teman-temannya.
Arga, Yogi, dan Yudha, masuk memarkirkan motor ke halaman rumah Dira yang terbuat dari paving blok, persis di depan garasi rumahnya yang tertutup. Lalu Kinanti dan Widya yang membonceng Yogi dan Yudha turun dari motor, mencopot helm.
Kinanti memandang rumah Dira yang tidak terlalu besar, terasnya yang sederhana, dengan dua kursi yang terbuat dari rotan. Lantainya berwarna putih bermotif, serasi dengan warna cat rumahnya yang berwarna abu-abu. Ada undak-undakan yang harus di lewati sebelum mencapai teras, karena memang rumah Dira tanahnya lebih tinggi dibanding garasinya yang seperti basement, tepat dibawah kamar Dira. Persis di depan rumah, rumput hijau terpotong rapi, dengan sekumpulan sansievera yang tumbuh berjejer di bawah jendela kamar ayah Dira. Lampu taman berbentuk bulat berdiri di pojok kanan menambah cantik halaman. Sederhana dan asri, itulah kesan yang teman-teman Dira tangkap saat pertama kali melihat-lihat tampak depan rumahnya.
"Silakan masuk temen-temen, ya gini lah keadaan gubuk gue." Dira mempersilakan teman-temannya masuk ke ruang tamu. Yogi, Yudha, Agung, dan Arga langsung duduk di kursi tamu. Sedang Kinanti dan Widya masih melepas sepatu di teras.
"Asyik kok Ra, sejuk dan nggak panas. Rumahnya menghadap ke timur sih." kata Kinanti yang baru saja memasuki ruang tamu. Dia melihat sekeliling yang kursinya sudah penuh dihuni semua teman laki-lakinya. Dengan segera Arga turun dan duduk lesehan, lalu mempersilakan Kinanti duduk. Kemudian disusul Yogi yang tubuhnya lebih besar dibanding yang lain, mempersilakan Widya yang memakai kerudung hijau lumut menggantikan tempatnya.
"Eh, mau minum apa nih. Gue bikinin dulu ya." kata Dira yang sedari tadi masih berdiri.
"Apa aja deh, yang penting dingin." kata Yudha, teman Dira yang kulitnya coklat eksotis, mirip Taylor Lautner pemeran Jacob di Twilight Saga.
"OK. Ar, bantuin gue." Dira beranjak ke dapur. Membuka lemari geser berisi gelas yang ada di bawah kompor gas. Arga menyusul Dira, yang kemudian membantu mengambilkan air dingin dari kulkas.
"Sini gue aja yang anterin ke temen-temen Ra, nampannya dimana?" kata Kinanti. Tiba-tiba muncul diantara Arga dan Dira yang sedang membuat sirup leci.
"Ehh, itu di lemari atas. Pintu kedua dari kiri. Buka aja." kata Dira.
Kinanti mengambil nampan ke tempat yang ditunjukkan Dira. Dia sengaja membantu Dira, sudah sejak awal pertama masuk kelas XI dia suka pada Dira. Oleh karena itu, saat mengetahui Dira absen masuk sekolah karena kecelakaan, Kinanti lah yang antusias mengajak Arga dan teman-teman untuk menengok Dira.
"Lo kecelakaan kapan sob? Bukannya lo kemaren terakhir futsal bareng gue?" Arga membuka percakapan setelah tidak berapa lama mereka menikmati minuman dan makanan ringan yang disuguhkan Dira.
"Kemaren malem Ar, pas gue balik dari futsal itu."
"Terus, ada yang luka sampe lo susah jalan gitu?"tanya Yogi.
"Nggak, cuma memar aja nih kaki gue kejatuhan motor."
"Ooh.. emang lo jatuh dimana si?" tanya Yogi lagi, menyeruput minumannya.
"Lo tau perempatan Jensud itu kan?" jawab Dira duduk dengan posisi kaki diluruskan.
"Iya.. (kraukk..kraauk...) gue tau." jawab Arga sambil mengunyah keripik singkong.
"Gue kan mau belok ke kanan tuh, padahal udah nyalain lampu sent. Eh tau-tau ada yang nyalip gue, ya gue ngindar lah. Jatuh deh akhirnya." Dira menceritakan.
"Yang nyalip lo ketangkep nggak?" tanya Yudha.
"Kurang tau gue, pas itu sih gue ditolongin polisi yang jaga deket situ. Terus polisi satunya ngejar yang nyalip gue." jawab Dira.
"Eh, bentar. Lo kecelakaan di perempatan Jensud semalem ya?" Kinanti bertanya.
"Iya, kenapa emang?" kata Dira sambil mencomot biskuit cokelat.
"Jangan-jangan polisi yang nolongin lo kakak gue. Akhir-akhir ini dia jaga di situ." kata Kinanti.
"Kakak kamu yang tugas jadi polisi lalu lintas itu ya?" tanya Widya yang akhirnya membuka suara, dia memang bicara seperlunya. Dira menyukainya, karena Widya orangnya kalem dan yang paling penting karena Widya memakai kerudung.
"Iya." jawab Kinanti singkat.
"Emang kakak lo itu siapa Nan?" tanya Dira.
" Namanya Handika, gue biasa manggil Mas Han."
"Oooohh.. ya. Bener banget, dia yang nolongin gue semalem. Sampein makasih gue yah Nan. Gue semalem lupa bilang makasih." kata Dira sambil tersenyum.
"Iya, Ra." Kinanti membalas senyuman Dira, hatinya senang.
Terdengar suara motor Emelly memasuki halaman rumah, dia sudah mengira teman-teman sekelas adiknya akan datang menengok. Dia memasukan motor ke garasi, lalu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." seluruh penghuni ruang tamu seketika menoleh ke arah pintu. Arga yang baru saja menyuapkan kripik singkong ke bibirnya, dia jatuhkan saat melihat Emelly. Dia sangat terkejut mendapati sosok guru Bahasa Inggris barunya ada disitu.
"Kok Miss ada disini?" Kinanti bertanya sambil menyalami Emelly. Emelly menyalami Widya, Agung, Yudha, serta Arga dan Yogi yang seketika bangun dari duduk lesehannya.
"Iya Miss."Agung mengiyakan dengan wajah bingung, menunggu jawaban Emelly. Arga masih berdiri memandang Emelly, tidak menyangka bisa bertemu Emelly disini.
"Hehe, jadi gini temen-temen. Maap nih yee sebelumnye.. Jadi, Ms. Emelly ini sebenernya kakak gue." Dira menjelaskan.
"Itu Dira udah kasih tau, saya masuk dulu ya. Silakan di terusin dulu ngobrol-ngobrolnya." Emelly tersenyum, berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Aduh..!!" Dira mengaduh karena dipukul lengannya oleh Arga.
"Kok lu nggak ngomong dari awal si kalo Ms. Em itu kakak lu?" seru Arga pada Dira.
"Iya Ra, pantesan aja kamu kemaren berani ngledekin beliau masih kaya tujuh belas tahun." kata Widya, yang kali ini buka suara lagi.
"Hehe, sory deh teman-temanku sebangsa dan setanah air. Masalahnya, ya biar profesional aja gitu, Mbak Nida ya guru gue kalo disekolah, terlepas kalo dia sebenernya kakak gue."
"OK, alasan lo gue terima." kata Arga tersenyum, dia senang. Benaknya merencanakan sesuatu.
***
"Oh ya Da, di kantor ayah ada anggota baru, mutasi dari Polres Magelang. Dia bilang dia teman SMA kamu, dia masih inget wajah ayah pas dulu ambil rapormu." kata Pak Fauzi membuka percakapan selepas makan malam.
"Oh ya? Emang siapa?" jawab Emelly tak begitu tertarik, menyelesaikan cuci piringnya.
"Gooooooooooollll...." suara Dira yang asyik menonton pertandingan bola mengagetkan Emelly dan ayahnya.
"Ntar katanya mau kesini, ayah udah kasih alamat kita." jawab Pak Fauzi tertarik dengan apa yang ditonton Dira. Beringsut mendekati televisi.
Tok..tok..tok...!!
Tak lama berselang, terdengar suara pintu rumah Emelly diketuk. Pak Fauzi dan Emelly di dalam kamarnya masing-masing, dengan terpaksa Dira beranjak dari depan televisi. Masih terpincang-pincang, membukakan pintu rumah. Tepat dihadapannya seorang polisi, yang memegang kertas kecil. Dira tersenyum, mengenal sosok didepannya sebagai Briptu Handika.
"Wah, mas udah tau rumah kita ternyata. Nyari Ayah ya mas? Silakan duduk dulu, saya panggilkan sebentar." cerocos Dira tanpa memperdulikan polisi didepannya yang ingin mengucapkan sesuatu.
"Yah, ada tamu tuh." seru Dira mendekati kamar ayahnya yang terletak di belakang tempat menonton televisi. "Oh ya mas, makasih ya udah nolongin saya kemarin." kata Dira mengucapkan terimakasih pada polisi yang duduk di ruang tamu. Dia diam, wajahnya sedikit bingung.
"Eh, udah sampe. Nggak nyasar kan?" kata Pak Fauzi keluar dari kamar, sudah berganti kemeja biru tua dengan celana kain hitam. Lalu menyalami polisi itu.
"Alhamdulillah nggak pak, tadi tanya sama satpam yang jaga di pintu masuk." jawab sang polisi.
"Nggak langsung pulang dulu apa? Kok masih pake seragam? Nggak ada piket kan hari ini?" tanya Pak Fauzi.
"Saya piket besok malem pak. Nanti sekalian pulang dari sini, baru saya pulang ke rumah. Emelly nya ada pak?" tanya si polisi lagi.
"Oh ya sebentar, saya panggilkan." Pak Fauzi mendekati pintu kamar Emelly. "Da, ini temen SMA mu yang tadi ayah ceritain udah dateng." kata Pak Fauzi sambil mengetuk pintu.
"Iya sebentar Yah." suara Emelly dari dalam kamar.
"Saya tunggu di teras ya pak." kata si polisi lagi.
"Eh iya, ditunggu dulu sebentar." jawab Pak Fauzi.
"Mana Yah orangnya?" kata Emelly keluar dari kamar, sudah memakai kerudung merah muda dan kaos lengan panjang berwarna abu-abu. Bawahannya rok dengan warna merah muda yang lebih lembut.
"Itu di teras." jawab Pak Fauzi melanjutkan menonton televisi.
"Cieeee... Mbak Nida ternyata udah lama kenal sama Briptu Handika. Kemaren pake pura-pura kenalan segala." seru Dira.
Emelly bingung, lalu berlalu ke teras, tidak menanggapi apa yang dikatakan Dira.
"Itu bukan Briptu Handika, Zan. Tapi kakaknya." kata Pak Fauzi, sayang Emelly tidak mendengarnya.
"Kakaknya?" Dira bingung.
"Hmm.. " Emelly berdehem, dia melihat seorang polisi yang duduk di teras depan rumah, memunggunginya.
"Hai Em, long time no see." polisi itu beranjak dari duduknya. Lalu berbalik memandang Emelly, tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rata.
Kornea mata Emelly melebar, wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya, lalu berkata lirih.
"RAY...".
Dira duduk di kursi yang ada di teras rumah, melihat mushola yang sepi. Jalan depan rumahnya pun lengang, tidak ada satu pun penjual jajanan yang lewat. Biasanya tukang somay, bakso, bakpao, sampai es krim dengan logo gambar hati selalu lewat depan rumah. Tiba-tiba tiga sepeda motor lewat, kemudian berhenti di depan rumahnya. Enam remaja berseragam identitas SMA Bina Karya, atasan hijau alpukat dengan bawahan hijau lumut, yang sepertinya mencari alamat. Salah satu melepas helm hitamnya dan berkata, "Setau gue sih yang ini rumah Dira."
"Hei,, pada ngapain lo disini?" Dira beranjak dari kursinya, menyadari sosok yang melepas helm adalah Agung, teman sekelasnya. Lalu mendekati pintu gerbang, membukakan grendel dan menggeser gerbang.
"Ya ampun, kenapa lu sob?" tanya Agung turun dari motor, membonceng Arga yang kemudian membuka helmnya.
"Udah sini pada masuk dulu, daripada kepanasan. Ntar gue ceritain." kata Dira mempersilahkan teman-temannya.
Arga, Yogi, dan Yudha, masuk memarkirkan motor ke halaman rumah Dira yang terbuat dari paving blok, persis di depan garasi rumahnya yang tertutup. Lalu Kinanti dan Widya yang membonceng Yogi dan Yudha turun dari motor, mencopot helm.
Kinanti memandang rumah Dira yang tidak terlalu besar, terasnya yang sederhana, dengan dua kursi yang terbuat dari rotan. Lantainya berwarna putih bermotif, serasi dengan warna cat rumahnya yang berwarna abu-abu. Ada undak-undakan yang harus di lewati sebelum mencapai teras, karena memang rumah Dira tanahnya lebih tinggi dibanding garasinya yang seperti basement, tepat dibawah kamar Dira. Persis di depan rumah, rumput hijau terpotong rapi, dengan sekumpulan sansievera yang tumbuh berjejer di bawah jendela kamar ayah Dira. Lampu taman berbentuk bulat berdiri di pojok kanan menambah cantik halaman. Sederhana dan asri, itulah kesan yang teman-teman Dira tangkap saat pertama kali melihat-lihat tampak depan rumahnya.
"Silakan masuk temen-temen, ya gini lah keadaan gubuk gue." Dira mempersilakan teman-temannya masuk ke ruang tamu. Yogi, Yudha, Agung, dan Arga langsung duduk di kursi tamu. Sedang Kinanti dan Widya masih melepas sepatu di teras.
"Asyik kok Ra, sejuk dan nggak panas. Rumahnya menghadap ke timur sih." kata Kinanti yang baru saja memasuki ruang tamu. Dia melihat sekeliling yang kursinya sudah penuh dihuni semua teman laki-lakinya. Dengan segera Arga turun dan duduk lesehan, lalu mempersilakan Kinanti duduk. Kemudian disusul Yogi yang tubuhnya lebih besar dibanding yang lain, mempersilakan Widya yang memakai kerudung hijau lumut menggantikan tempatnya.
"Eh, mau minum apa nih. Gue bikinin dulu ya." kata Dira yang sedari tadi masih berdiri.
"Apa aja deh, yang penting dingin." kata Yudha, teman Dira yang kulitnya coklat eksotis, mirip Taylor Lautner pemeran Jacob di Twilight Saga.
"OK. Ar, bantuin gue." Dira beranjak ke dapur. Membuka lemari geser berisi gelas yang ada di bawah kompor gas. Arga menyusul Dira, yang kemudian membantu mengambilkan air dingin dari kulkas.
"Sini gue aja yang anterin ke temen-temen Ra, nampannya dimana?" kata Kinanti. Tiba-tiba muncul diantara Arga dan Dira yang sedang membuat sirup leci.
"Ehh, itu di lemari atas. Pintu kedua dari kiri. Buka aja." kata Dira.
Kinanti mengambil nampan ke tempat yang ditunjukkan Dira. Dia sengaja membantu Dira, sudah sejak awal pertama masuk kelas XI dia suka pada Dira. Oleh karena itu, saat mengetahui Dira absen masuk sekolah karena kecelakaan, Kinanti lah yang antusias mengajak Arga dan teman-teman untuk menengok Dira.
"Lo kecelakaan kapan sob? Bukannya lo kemaren terakhir futsal bareng gue?" Arga membuka percakapan setelah tidak berapa lama mereka menikmati minuman dan makanan ringan yang disuguhkan Dira.
"Kemaren malem Ar, pas gue balik dari futsal itu."
"Terus, ada yang luka sampe lo susah jalan gitu?"tanya Yogi.
"Nggak, cuma memar aja nih kaki gue kejatuhan motor."
"Ooh.. emang lo jatuh dimana si?" tanya Yogi lagi, menyeruput minumannya.
"Lo tau perempatan Jensud itu kan?" jawab Dira duduk dengan posisi kaki diluruskan.
"Iya.. (kraukk..kraauk...) gue tau." jawab Arga sambil mengunyah keripik singkong.
"Gue kan mau belok ke kanan tuh, padahal udah nyalain lampu sent. Eh tau-tau ada yang nyalip gue, ya gue ngindar lah. Jatuh deh akhirnya." Dira menceritakan.
"Yang nyalip lo ketangkep nggak?" tanya Yudha.
"Kurang tau gue, pas itu sih gue ditolongin polisi yang jaga deket situ. Terus polisi satunya ngejar yang nyalip gue." jawab Dira.
"Eh, bentar. Lo kecelakaan di perempatan Jensud semalem ya?" Kinanti bertanya.
"Iya, kenapa emang?" kata Dira sambil mencomot biskuit cokelat.
"Jangan-jangan polisi yang nolongin lo kakak gue. Akhir-akhir ini dia jaga di situ." kata Kinanti.
"Kakak kamu yang tugas jadi polisi lalu lintas itu ya?" tanya Widya yang akhirnya membuka suara, dia memang bicara seperlunya. Dira menyukainya, karena Widya orangnya kalem dan yang paling penting karena Widya memakai kerudung.
"Iya." jawab Kinanti singkat.
"Emang kakak lo itu siapa Nan?" tanya Dira.
" Namanya Handika, gue biasa manggil Mas Han."
"Oooohh.. ya. Bener banget, dia yang nolongin gue semalem. Sampein makasih gue yah Nan. Gue semalem lupa bilang makasih." kata Dira sambil tersenyum.
"Iya, Ra." Kinanti membalas senyuman Dira, hatinya senang.
Terdengar suara motor Emelly memasuki halaman rumah, dia sudah mengira teman-teman sekelas adiknya akan datang menengok. Dia memasukan motor ke garasi, lalu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." seluruh penghuni ruang tamu seketika menoleh ke arah pintu. Arga yang baru saja menyuapkan kripik singkong ke bibirnya, dia jatuhkan saat melihat Emelly. Dia sangat terkejut mendapati sosok guru Bahasa Inggris barunya ada disitu.
"Kok Miss ada disini?" Kinanti bertanya sambil menyalami Emelly. Emelly menyalami Widya, Agung, Yudha, serta Arga dan Yogi yang seketika bangun dari duduk lesehannya.
"Iya Miss."Agung mengiyakan dengan wajah bingung, menunggu jawaban Emelly. Arga masih berdiri memandang Emelly, tidak menyangka bisa bertemu Emelly disini.
"Hehe, jadi gini temen-temen. Maap nih yee sebelumnye.. Jadi, Ms. Emelly ini sebenernya kakak gue." Dira menjelaskan.
"Itu Dira udah kasih tau, saya masuk dulu ya. Silakan di terusin dulu ngobrol-ngobrolnya." Emelly tersenyum, berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Aduh..!!" Dira mengaduh karena dipukul lengannya oleh Arga.
"Kok lu nggak ngomong dari awal si kalo Ms. Em itu kakak lu?" seru Arga pada Dira.
"Iya Ra, pantesan aja kamu kemaren berani ngledekin beliau masih kaya tujuh belas tahun." kata Widya, yang kali ini buka suara lagi.
"Hehe, sory deh teman-temanku sebangsa dan setanah air. Masalahnya, ya biar profesional aja gitu, Mbak Nida ya guru gue kalo disekolah, terlepas kalo dia sebenernya kakak gue."
"OK, alasan lo gue terima." kata Arga tersenyum, dia senang. Benaknya merencanakan sesuatu.
***
"Oh ya Da, di kantor ayah ada anggota baru, mutasi dari Polres Magelang. Dia bilang dia teman SMA kamu, dia masih inget wajah ayah pas dulu ambil rapormu." kata Pak Fauzi membuka percakapan selepas makan malam.
"Oh ya? Emang siapa?" jawab Emelly tak begitu tertarik, menyelesaikan cuci piringnya.
"Gooooooooooollll...." suara Dira yang asyik menonton pertandingan bola mengagetkan Emelly dan ayahnya.
"Ntar katanya mau kesini, ayah udah kasih alamat kita." jawab Pak Fauzi tertarik dengan apa yang ditonton Dira. Beringsut mendekati televisi.
Tok..tok..tok...!!
Tak lama berselang, terdengar suara pintu rumah Emelly diketuk. Pak Fauzi dan Emelly di dalam kamarnya masing-masing, dengan terpaksa Dira beranjak dari depan televisi. Masih terpincang-pincang, membukakan pintu rumah. Tepat dihadapannya seorang polisi, yang memegang kertas kecil. Dira tersenyum, mengenal sosok didepannya sebagai Briptu Handika.
"Wah, mas udah tau rumah kita ternyata. Nyari Ayah ya mas? Silakan duduk dulu, saya panggilkan sebentar." cerocos Dira tanpa memperdulikan polisi didepannya yang ingin mengucapkan sesuatu.
"Yah, ada tamu tuh." seru Dira mendekati kamar ayahnya yang terletak di belakang tempat menonton televisi. "Oh ya mas, makasih ya udah nolongin saya kemarin." kata Dira mengucapkan terimakasih pada polisi yang duduk di ruang tamu. Dia diam, wajahnya sedikit bingung.
"Eh, udah sampe. Nggak nyasar kan?" kata Pak Fauzi keluar dari kamar, sudah berganti kemeja biru tua dengan celana kain hitam. Lalu menyalami polisi itu.
"Alhamdulillah nggak pak, tadi tanya sama satpam yang jaga di pintu masuk." jawab sang polisi.
"Nggak langsung pulang dulu apa? Kok masih pake seragam? Nggak ada piket kan hari ini?" tanya Pak Fauzi.
"Saya piket besok malem pak. Nanti sekalian pulang dari sini, baru saya pulang ke rumah. Emelly nya ada pak?" tanya si polisi lagi.
"Oh ya sebentar, saya panggilkan." Pak Fauzi mendekati pintu kamar Emelly. "Da, ini temen SMA mu yang tadi ayah ceritain udah dateng." kata Pak Fauzi sambil mengetuk pintu.
"Iya sebentar Yah." suara Emelly dari dalam kamar.
"Saya tunggu di teras ya pak." kata si polisi lagi.
"Eh iya, ditunggu dulu sebentar." jawab Pak Fauzi.
"Mana Yah orangnya?" kata Emelly keluar dari kamar, sudah memakai kerudung merah muda dan kaos lengan panjang berwarna abu-abu. Bawahannya rok dengan warna merah muda yang lebih lembut.
"Itu di teras." jawab Pak Fauzi melanjutkan menonton televisi.
"Cieeee... Mbak Nida ternyata udah lama kenal sama Briptu Handika. Kemaren pake pura-pura kenalan segala." seru Dira.
Emelly bingung, lalu berlalu ke teras, tidak menanggapi apa yang dikatakan Dira.
"Itu bukan Briptu Handika, Zan. Tapi kakaknya." kata Pak Fauzi, sayang Emelly tidak mendengarnya.
"Kakaknya?" Dira bingung.
"Hmm.. " Emelly berdehem, dia melihat seorang polisi yang duduk di teras depan rumah, memunggunginya.
"Hai Em, long time no see." polisi itu beranjak dari duduknya. Lalu berbalik memandang Emelly, tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rata.
Kornea mata Emelly melebar, wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya, lalu berkata lirih.
"RAY...".
Langganan:
Postingan (Atom)