Dira meraih handphone, melihat pukul 14.00 tertera di layar. Dia menghela nafas, merasakan penat yang memenuhi dirinya. Bosan sekali rasanya seharian hanya menonton televisi, tidak ada yang bisa dia lakukan karena kakinya masih sakit. Untuk berjalan saja dia kesusahan, untuk kesekian kalinya dia mengoleskan gel pereda memar yang diberikan kakak perempuannya. Kemudian meraih remote control, mematikan televisi. Dia beranjak menuju ruang tamu, dibukanya pintu utama rumah. Angin menerpa wajahnya, terasa agak panas. Padahal Dira hanya memakai kaos tanpa lengan warna krem dengan celana training selutut, kulitnya yang sawo matang sedikit terlihat kering. Rambutnya yang lurus terpotong rapi dia acak-acak, kemudian dia benarkan lagi poninya yang sedikit mengganggu mata.
Dira duduk di kursi yang ada di teras rumah, melihat mushola yang sepi. Jalan depan rumahnya pun lengang, tidak ada satu pun penjual jajanan yang lewat. Biasanya tukang somay, bakso, bakpao, sampai es krim dengan logo gambar hati selalu lewat depan rumah. Tiba-tiba tiga sepeda motor lewat, kemudian berhenti di depan rumahnya. Enam remaja berseragam identitas SMA Bina Karya, atasan hijau alpukat dengan bawahan hijau lumut, yang sepertinya mencari alamat. Salah satu melepas helm hitamnya dan berkata, "Setau gue sih yang ini rumah Dira."
"Hei,, pada ngapain lo disini?" Dira beranjak dari kursinya, menyadari sosok yang melepas helm adalah Agung, teman sekelasnya. Lalu mendekati pintu gerbang, membukakan grendel dan menggeser gerbang.
"Ya ampun, kenapa lu sob?" tanya Agung turun dari motor, membonceng Arga yang kemudian membuka helmnya.
"Udah sini pada masuk dulu, daripada kepanasan. Ntar gue ceritain." kata Dira mempersilahkan teman-temannya.
Arga, Yogi, dan Yudha, masuk memarkirkan motor ke halaman rumah Dira yang terbuat dari paving blok, persis di depan garasi rumahnya yang tertutup. Lalu Kinanti dan Widya yang membonceng Yogi dan Yudha turun dari motor, mencopot helm.
Kinanti memandang rumah Dira yang tidak terlalu besar, terasnya yang sederhana, dengan dua kursi yang terbuat dari rotan. Lantainya berwarna putih bermotif, serasi dengan warna cat rumahnya yang berwarna abu-abu. Ada undak-undakan yang harus di lewati sebelum mencapai teras, karena memang rumah Dira tanahnya lebih tinggi dibanding garasinya yang seperti basement, tepat dibawah kamar Dira. Persis di depan rumah, rumput hijau terpotong rapi, dengan sekumpulan sansievera yang tumbuh berjejer di bawah jendela kamar ayah Dira. Lampu taman berbentuk bulat berdiri di pojok kanan menambah cantik halaman. Sederhana dan asri, itulah kesan yang teman-teman Dira tangkap saat pertama kali melihat-lihat tampak depan rumahnya.
"Silakan masuk temen-temen, ya gini lah keadaan gubuk gue." Dira mempersilakan teman-temannya masuk ke ruang tamu. Yogi, Yudha, Agung, dan Arga langsung duduk di kursi tamu. Sedang Kinanti dan Widya masih melepas sepatu di teras.
"Asyik kok Ra, sejuk dan nggak panas. Rumahnya menghadap ke timur sih." kata Kinanti yang baru saja memasuki ruang tamu. Dia melihat sekeliling yang kursinya sudah penuh dihuni semua teman laki-lakinya. Dengan segera Arga turun dan duduk lesehan, lalu mempersilakan Kinanti duduk. Kemudian disusul Yogi yang tubuhnya lebih besar dibanding yang lain, mempersilakan Widya yang memakai kerudung hijau lumut menggantikan tempatnya.
"Eh, mau minum apa nih. Gue bikinin dulu ya." kata Dira yang sedari tadi masih berdiri.
"Apa aja deh, yang penting dingin." kata Yudha, teman Dira yang kulitnya coklat eksotis, mirip Taylor Lautner pemeran Jacob di Twilight Saga.
"OK. Ar, bantuin gue." Dira beranjak ke dapur. Membuka lemari geser berisi gelas yang ada di bawah kompor gas. Arga menyusul Dira, yang kemudian membantu mengambilkan air dingin dari kulkas.
"Sini gue aja yang anterin ke temen-temen Ra, nampannya dimana?" kata Kinanti. Tiba-tiba muncul diantara Arga dan Dira yang sedang membuat sirup leci.
"Ehh, itu di lemari atas. Pintu kedua dari kiri. Buka aja." kata Dira.
Kinanti mengambil nampan ke tempat yang ditunjukkan Dira. Dia sengaja membantu Dira, sudah sejak awal pertama masuk kelas XI dia suka pada Dira. Oleh karena itu, saat mengetahui Dira absen masuk sekolah karena kecelakaan, Kinanti lah yang antusias mengajak Arga dan teman-teman untuk menengok Dira.
"Lo kecelakaan kapan sob? Bukannya lo kemaren terakhir futsal bareng gue?" Arga membuka percakapan setelah tidak berapa lama mereka menikmati minuman dan makanan ringan yang disuguhkan Dira.
"Kemaren malem Ar, pas gue balik dari futsal itu."
"Terus, ada yang luka sampe lo susah jalan gitu?"tanya Yogi.
"Nggak, cuma memar aja nih kaki gue kejatuhan motor."
"Ooh.. emang lo jatuh dimana si?" tanya Yogi lagi, menyeruput minumannya.
"Lo tau perempatan Jensud itu kan?" jawab Dira duduk dengan posisi kaki diluruskan.
"Iya.. (kraukk..kraauk...) gue tau." jawab Arga sambil mengunyah keripik singkong.
"Gue kan mau belok ke kanan tuh, padahal udah nyalain lampu sent. Eh tau-tau ada yang nyalip gue, ya gue ngindar lah. Jatuh deh akhirnya." Dira menceritakan.
"Yang nyalip lo ketangkep nggak?" tanya Yudha.
"Kurang tau gue, pas itu sih gue ditolongin polisi yang jaga deket situ. Terus polisi satunya ngejar yang nyalip gue." jawab Dira.
"Eh, bentar. Lo kecelakaan di perempatan Jensud semalem ya?" Kinanti bertanya.
"Iya, kenapa emang?" kata Dira sambil mencomot biskuit cokelat.
"Jangan-jangan polisi yang nolongin lo kakak gue. Akhir-akhir ini dia jaga di situ." kata Kinanti.
"Kakak kamu yang tugas jadi polisi lalu lintas itu ya?" tanya Widya yang akhirnya membuka suara, dia memang bicara seperlunya. Dira menyukainya, karena Widya orangnya kalem dan yang paling penting karena Widya memakai kerudung.
"Iya." jawab Kinanti singkat.
"Emang kakak lo itu siapa Nan?" tanya Dira.
" Namanya Handika, gue biasa manggil Mas Han."
"Oooohh.. ya. Bener banget, dia yang nolongin gue semalem. Sampein makasih gue yah Nan. Gue semalem lupa bilang makasih." kata Dira sambil tersenyum.
"Iya, Ra." Kinanti membalas senyuman Dira, hatinya senang.
Terdengar suara motor Emelly memasuki halaman rumah, dia sudah mengira teman-teman sekelas adiknya akan datang menengok. Dia memasukan motor ke garasi, lalu masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." seluruh penghuni ruang tamu seketika menoleh ke arah pintu. Arga yang baru saja menyuapkan kripik singkong ke bibirnya, dia jatuhkan saat melihat Emelly. Dia sangat terkejut mendapati sosok guru Bahasa Inggris barunya ada disitu.
"Kok Miss ada disini?" Kinanti bertanya sambil menyalami Emelly. Emelly menyalami Widya, Agung, Yudha, serta Arga dan Yogi yang seketika bangun dari duduk lesehannya.
"Iya Miss."Agung mengiyakan dengan wajah bingung, menunggu jawaban Emelly. Arga masih berdiri memandang Emelly, tidak menyangka bisa bertemu Emelly disini.
"Hehe, jadi gini temen-temen. Maap nih yee sebelumnye.. Jadi, Ms. Emelly ini sebenernya kakak gue." Dira menjelaskan.
"Itu Dira udah kasih tau, saya masuk dulu ya. Silakan di terusin dulu ngobrol-ngobrolnya." Emelly tersenyum, berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Aduh..!!" Dira mengaduh karena dipukul lengannya oleh Arga.
"Kok lu nggak ngomong dari awal si kalo Ms. Em itu kakak lu?" seru Arga pada Dira.
"Iya Ra, pantesan aja kamu kemaren berani ngledekin beliau masih kaya tujuh belas tahun." kata Widya, yang kali ini buka suara lagi.
"Hehe, sory deh teman-temanku sebangsa dan setanah air. Masalahnya, ya biar profesional aja gitu, Mbak Nida ya guru gue kalo disekolah, terlepas kalo dia sebenernya kakak gue."
"OK, alasan lo gue terima." kata Arga tersenyum, dia senang. Benaknya merencanakan sesuatu.
***
"Oh ya Da, di kantor ayah ada anggota baru, mutasi dari Polres Magelang. Dia bilang dia teman SMA kamu, dia masih inget wajah ayah pas dulu ambil rapormu." kata Pak Fauzi membuka percakapan selepas makan malam.
"Oh ya? Emang siapa?" jawab Emelly tak begitu tertarik, menyelesaikan cuci piringnya.
"Gooooooooooollll...." suara Dira yang asyik menonton pertandingan bola mengagetkan Emelly dan ayahnya.
"Ntar katanya mau kesini, ayah udah kasih alamat kita." jawab Pak Fauzi tertarik dengan apa yang ditonton Dira. Beringsut mendekati televisi.
Tok..tok..tok...!!
Tak lama berselang, terdengar suara pintu rumah Emelly diketuk. Pak Fauzi dan Emelly di dalam kamarnya masing-masing, dengan terpaksa Dira beranjak dari depan televisi. Masih terpincang-pincang, membukakan pintu rumah. Tepat dihadapannya seorang polisi, yang memegang kertas kecil. Dira tersenyum, mengenal sosok didepannya sebagai Briptu Handika.
"Wah, mas udah tau rumah kita ternyata. Nyari Ayah ya mas? Silakan duduk dulu, saya panggilkan sebentar." cerocos Dira tanpa memperdulikan polisi didepannya yang ingin mengucapkan sesuatu.
"Yah, ada tamu tuh." seru Dira mendekati kamar ayahnya yang terletak di belakang tempat menonton televisi. "Oh ya mas, makasih ya udah nolongin saya kemarin." kata Dira mengucapkan terimakasih pada polisi yang duduk di ruang tamu. Dia diam, wajahnya sedikit bingung.
"Eh, udah sampe. Nggak nyasar kan?" kata Pak Fauzi keluar dari kamar, sudah berganti kemeja biru tua dengan celana kain hitam. Lalu menyalami polisi itu.
"Alhamdulillah nggak pak, tadi tanya sama satpam yang jaga di pintu masuk." jawab sang polisi.
"Nggak langsung pulang dulu apa? Kok masih pake seragam? Nggak ada piket kan hari ini?" tanya Pak Fauzi.
"Saya piket besok malem pak. Nanti sekalian pulang dari sini, baru saya pulang ke rumah. Emelly nya ada pak?" tanya si polisi lagi.
"Oh ya sebentar, saya panggilkan." Pak Fauzi mendekati pintu kamar Emelly. "Da, ini temen SMA mu yang tadi ayah ceritain udah dateng." kata Pak Fauzi sambil mengetuk pintu.
"Iya sebentar Yah." suara Emelly dari dalam kamar.
"Saya tunggu di teras ya pak." kata si polisi lagi.
"Eh iya, ditunggu dulu sebentar." jawab Pak Fauzi.
"Mana Yah orangnya?" kata Emelly keluar dari kamar, sudah memakai kerudung merah muda dan kaos lengan panjang berwarna abu-abu. Bawahannya rok dengan warna merah muda yang lebih lembut.
"Itu di teras." jawab Pak Fauzi melanjutkan menonton televisi.
"Cieeee... Mbak Nida ternyata udah lama kenal sama Briptu Handika. Kemaren pake pura-pura kenalan segala." seru Dira.
Emelly bingung, lalu berlalu ke teras, tidak menanggapi apa yang dikatakan Dira.
"Itu bukan Briptu Handika, Zan. Tapi kakaknya." kata Pak Fauzi, sayang Emelly tidak mendengarnya.
"Kakaknya?" Dira bingung.
"Hmm.. " Emelly berdehem, dia melihat seorang polisi yang duduk di teras depan rumah, memunggunginya.
"Hai Em, long time no see." polisi itu beranjak dari duduknya. Lalu berbalik memandang Emelly, tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rata.
Kornea mata Emelly melebar, wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya, lalu berkata lirih.
"RAY...".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar