Suasana malam kompleks Puri Dharmawangsa sepi, hanya terlihat sekumpulan bapak-bapak yang sedang berkumpul di pos kampling ujung jalan Blok B. Walaupun baru pukul delapan malam, mereka sedang nonton bareng pertandingan bola Arsenal VS Manchester United yang kedudukannya masih kosong sama di menit ke tiga puluh sembilan. Salah satu warga yang rumahnya dekat dengan pos kampling dengan sukarela memindahkan televisinya ke pos kampling, agar agenda nobar tetap terlaksana. Mereka tersenyum pada Emelly yang sedang berjalan menuju taman kompleks, disebelahnya berjalan Ray dengan tangan kiri di saku celana. Lencana POLRI berwarna emas mengkilat menempel di dada kirinya, bet dikanan dan kiri bahunya menunjukkan pangkatnya sebagai seorang Ajun Inspektur Dua atau AIPDA, sedang name tag RAY WIBISONO berada di dada kanan.
"Errr... lo sekarang pake kerudung Em?" Ray memecah keheningan malam. Mereka cukup lama terdiam saat duduk bersama di bangku taman, kali ini di sebelah kanan sisi taman, dekat dengan ayunan.
"Iya, setelah lulus SMA. Lo juga. Gimana bisa jadi polisi gitu?" jawab Emelly memandang ayunan, kedua tangan ditangkupkan di atas lutut.
"Ceritanya panjang." Ray menyandarkan tubuhnya ke bangku.
"Oh."
"Cuma oh doang?" Ray memandang ekspresi datar Emelly, disamping kirinya. Mengharapkan respon Emelly yang lebih.
"Terus gue mesti ngapain?" matanya masih menatap ayunan. Dia masih tidak percaya, baru saja semalam dia berbincang dengan bayangan Ray di taman itu. Lalu sekarang dia benar-benar berbincang Ray, Ray yang mengenakan seragam polisi, bukan dengan kaos dan topi yang dia biasa kenakan saat masih SMA.
"Ya tanya dong, gimana ceritanya gue bisa jadi polisi." gerutu Ray. Dia berusaha menghilangkan semua perasaan canggungnya. Padahal sudah sekitar enam tahun dia tidak berbicara akrab dengan Emelly. Emelly terdiam.
"Em, kok diem aja?"
"Lo bagus pake seragam polisi kaya gitu, nggak kurus kaya waktu SMA dulu."
"Oh ya? Keren nggak?" Ray tertawa. Emelly tersenyum, lalu meliriknya.
"Gue boleh tanya sesuatu Ray?" Emelly sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu yang dari kemarin mengganggu pikirannya.
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu gue habis ke kantor Satlantas buat jemput adik gue yang kecelakaan, terus disana gue ketemu sama.."
"Han." Ray memotong ucapan Emelly. "Lo ketemu sama kembaran gue."
"Kembar? Jadi selama ini lo kembar?" ucap Emelly tak percaya.
"Han sama gue tuh kembar identik. Dia lahir dua menit setelah gue lahir." Ray menjelaskan.
"Kok waktu SMA dia nggak sekolah bareng kita? Lo juga nggak pernah cerita kalo lo kembar, lo cuma cerita kalo lo punya satu adik cowok dan adik cewek."
"Han kan emang adik gue, ya walaupun kita kembar. Waktu umur enam bulan, Han dibawa sama budhe gue yang tinggal di Semarang. Mereka udah lama nggak punya anak. Terus gue sama adik cewek gue yang tinggal sama ortu di Bandung."
"Terus, gimana bisa sekarang lo sama Han disini?"
"Han sekolah taruna polisi di Ambarawa. Ortu minta gue juga daftar jadi polisi, biar bareng sama Han. Ya udah, gue nurut aja walaupun sebenernya gue pingin jadi arsitek. Setelah lulus SMA gue nyusul Han ke Semarang, dan ikut pendidikan taruna polisi bareng dia. Selesai pendidikan, Han ditempatin di Polres Wonosobo, dan gue di Polres Magelang. Karena suatu hal, dia di mutasi ke bagian Lantas." jelas Ray panjang lebar.
"Terus?" Emelly menunggu kelanjutan cerita Ray.
"Setahun lalu dia di mutasi ke Satlantas Pusat, ya karena gue masih di Magelang, dia ajak ibu dan adik gue pindah dari Bandung ke sini. Kasian kalo mereka berdua mesti berdua doang di Bandung."
"Ayah lo?"
"Ayah meninggal karena kecelakaan 3 tahun yang lalu Em."
"Oh, maaf. Gue ikut berduka cita Ray."
"Iya, makasih."
"Ehh, kok bisa nama lo sama Han beda banget gitu? Bukannya kalo kembar biasanya namanya mirip gitu ya? Barusan lo juga bilang kalo Han dibawa sama budhe lo umur enam bulan, berarti yang ngasih nama ortu lo dong?" cerocos Emelly penasaran.
"Jadi gini, ortu gue pingin kasih nama anaknya dengan nama Raihan, yang artinya angin surga. Nah ternyata kita lahir kembar, yang satu dikasih nama Ray dan yang satunya Han. Kayak gabungan gitu."
"Ohh." Emelly mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
"Sekitar enam bulan yang lalu Han nikah sama orang Bandung, gue kesana. Gue sempet ke rumah lo, tapi kata tetangga lo, lo udah lama pindah."
"Iya, gue pindah ke sini ikut ayah yang pindah tugas, sekitar empat tahun yang lalu."
"Oh, jadi setelah lulus SMA, ayah lo pindah tugas kesini?"
"Iya."
"Gimana kabar lo sama Fira?" tanya Emelly setelah cukup lama mereka kembali terdiam.
"Gue belum lama putus sama dia, ya sekitar setengah tahun yang lalu."
"Kenapa?"
"Dia selingkuh. Nggak tahan kali gue tinggal kelamaan di Magelang."
"Gue kira lo malah udah nikah sama Fira."
"Pacaran lama nggak menjamin bisa sampe pelaminan Em."
"Gitu ya?"
"Yaa gitu lah. Kalo lo sendiri, sekarang calon lo siapa?"
"Gue... gue masih single."
"Oh.." Ray terdiam sebentar, lalu berkata, "Maafin gue Em."
"Maaf kenapa?" Emelly menoleh ke arah Ray, setelah lama berbicara tanpa memandang Ray.
"Maaf karena gue nggak bisa nolak permintaan Fira buat jauhin lo. Dia cemburu sama persahabatan kita dulu."
"Iya gue ngerti Ray. Gue ngerti banget posisi lo dan Fira saat itu, apalagi waktu itu kita masih kelas 3 SMA. Ya, masih labil-labilnya." mata Emelly berkaca-kaca. "Gue cuma kecewa aja lo tiba-tiba jauhin gue, lo nggak ngomong sama gue kalo Fira nggak suka sama persahabatan kita. Waktu itu gue bingung Ray, awalnya kita masih baik-baik aja. Terus tiba-tiba lo main jauhin gue, nggak mau ngomong sama gue, bahkan tatapan lo ke gue dingin banget."
"Maafin gue Em." kata Ray, meraih tangan Emelly. Emelly terkesiap, berhadapan dengan Ray. Air matanya menetes tak tertahankan lagi. Ray mengusap air mata Emelly. Emelly melepaskan genggaman tangan Ray, berpaling.
Setelah Emelly cukup lama mengurai air mata, terkenang waktu dijauhi oleh Ray, dia berusaha mengendalikan perasaannya.
"Lo juga jahat Ray, setelah lo jauhin gue, no hp lo ganti. Sedih rasanya waktu inget lo, tapi gue nggak bisa hubungin lo."
"Iya gue salah, gue minta maaf. Dulu Fira minta gue buat ganti no, dia sengaja biar temen-temen gue nggak bisa hubungin gue lagi. Makanya waktu gue di pindahin ke Polsek Jatibarang, terus gue ketemu sama ayah lo, gue seneng banget. Gue langsung tanya kabar lo sama Pak Fauzi, terus gue minta alamat lo."
"Lo nggak tau kan gimana kaget dan bingungnya gue waktu ketemu sama kembaran lo itu? Gue kira itu lo, tapi kenapa dia nggak kenalin gue. Waktu liat nametag di seragamnya pun bukan nama lo." cerocos Emelly dengan intonasi tinggi.
"Maafin gue Em."
"Maaf.. maaf. Kalo minta maaf berguna, buat apa ada polisi?" jawab Emelly masih kesal. Ray tersenyum.
"Lo nggak berubah ya, selalu ngomong kayak gitu kalo ada orang yang minta maaf." Emelly tidak menanggapi. "Please maafin gue ya, jangan marah lagi dong Em. Kaya anak kecil aja lo main ngambek gitu." ledek Ray.
"Ya udah, lo gue maafin. Asal lo nggak tinggalin gue lagi, ehh.." kata Emelly keceplosan, lalu menutup mulutnya.
"Hahahaha.... iya iya, tenang aja Em. Gue bakal nebus semua kesalahan gue dulu. Gue yang udah jauhin lo, gue yang udah tinggalin lo tanpa kabar." kata Ray.
Emelly menatap Ray, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ray tersenyum. Rambutnya yang cepak sangat berbeda dengan potongan rambutnya saat SMA. Dia terlihat sangat gagah, dan tentu saja tampan.
"Udah malem Em, yuk pulang. Ntar lo dimarahin Pak Fauzi lagi, gue juga mesti udah ditungguin ibu."
"Loh? Katanya ibu lo sama Han dan adik cewek lo."
"Han sekarang tinggal bareng sama istrinya lah, lo lupa ya sama cerita gue tadi?"
"Oh iya gue lupa, hehe. Ya udah yuk pulang." jawab Emelly yang sudah bisa kembali mengakrabkan diri pada Ray, dia sudah memaafkan semua kejadian di masa lalu.
Di jalan pulang menuju rumah Emelly, tak lupa Ray meminta nomor handphone Emelly. Lalu mereka bercanda dan mengenang saat mereka bermain bersama dulu SMA.
***
Emelly bingung, menoleh kesana kemari. Di area parkiran sekolah sudah sepi, hanya tersisa motornya dan motor Pak Nardi, satpam sekolah. Dia meraih setangkai mawar merah yang diletakkan di atas jok motornya. Lalu membuka kertas yang disematkan di plastik pembungkusnya.
Bunga mawar itu ibarat kamu..
Jika berupa kuncup aku penasaran karenanya
Setelah mekar aku tau bahwa cantiknya dirimu
Dan bau harum yang kau tebarkan
Menandakan baiknya dirimu
Yang selalu membawa kedamaian
P.S I Love You
Jika berupa kuncup aku penasaran karenanya
Setelah mekar aku tau bahwa cantiknya dirimu
Dan bau harum yang kau tebarkan
Menandakan baiknya dirimu
Yang selalu membawa kedamaian
P.S I Love You
"Siapa sih? Hari gini masih sok misterius gini." Emelly memasukkan bunga itu ke dalam tas yang disampirkan ke bahunya. Meraih helm dan memakainya, menyetater motor lalu berlalu meninggalkan area SMA Bina Karya.
Sedang dari kejauhan, tepatnya di parkiran khusus siswa, seorang remaja laki-laki, mengenakan seragam Pramuka, tersenyum menyaksikan kepergian Emelly. Dia senang bisa mengutarakan perasaannya pada orang yang disukainya, walaupun harus dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia tidak cukup berani untuk mengekspresikan rasa sukanya secara terang-terangan.
***
"Assalamualaikum." Emelly membuka pintu rumahnya.
"Wa...alaikum...sss..alam.." jawab Dira dengan mulut penuh, mengunyah makan siangnya.
"Makan apa lo?" tanya Emelly mencopot sepatu pantofel hitamnya, melangkah ke rak sepatu di sebelah kanan meja makan, di bawah tangga menuju loteng jemur pakaian.
"Lo tadi masak apa coba? Adanya capcay sama ayam goreng ya gue makan aja. Laper mbak." jawab Dira melangkah ke tempat cuci piring, masih terpincang-pincang.
Emelly masuk ke kamar, mengganti pakaian batiknya dengan kaos biru tua dan celana panjang training warna hitam. Dia membuka ikat rambutnya, menyisir rambutnya yang panjang sepinggang, mematut diri di cermin.
"Kayaknya mesti di potong deh, biar nggak kepanjangan nih." ujar Emelly di depan cermin, menyanggul rambutnya dengan sumpit rambut. Dia keluar kamar membawa bunga mawar merah yang dia temukan tadi disekolah, memberikannya pada Dira yang menonton televisi.
"Dek, tadi ada yang naruh ini di jok motor gue."
"Emang dari siapa?" tanya Dira ingin tahu, membuka kertas yang tersemat. "Cieeeee.... Mbak Nida punya secret admirer nih yeeee..." ledek Dira, padahal Emelly baru saja akan menjawab pertanyaannya.
"Tau tuh dari siapa, hari gini masih jaman ya rahasia-rahasiaan gitu?" kata Emelly sambil memulai makan siangnya.
"Hahahaha.. jangan-jangan ini dari Pak Soni mbak, lumayan tuh guru olahraga. Masih muda kok." Dira terbahak, lanjut meledek Emelly.
"Apaan sih lo?" Emelly merengut, menyuapkan nasi.
"Atau jangan-jangan dari Pak Gunawan, dia belum nikah lo mbak." Dira tak henti-hentinya meledek Emelly.
"Ih,, amit-amit deh. Bujang lapuk kaya gitu. Ogah gue, kaya nggak ada bujangan yang lebih oke aja." Emelly bergidik. Dira terbahak lalu membaca kertas berisikan puisi yang tersemat di bunga, dia memutar otak. Mencoba mengingat-ingat tulisan siapa itu, namun tak kunjung diingatnya. Tulisan yang agak familiar baginya.
***
"Assalamualaikum." Emelly membuka pintu rumahnya.
"Wa...alaikum...sss..alam.." jawab Dira dengan mulut penuh, mengunyah makan siangnya.
"Makan apa lo?" tanya Emelly mencopot sepatu pantofel hitamnya, melangkah ke rak sepatu di sebelah kanan meja makan, di bawah tangga menuju loteng jemur pakaian.
"Lo tadi masak apa coba? Adanya capcay sama ayam goreng ya gue makan aja. Laper mbak." jawab Dira melangkah ke tempat cuci piring, masih terpincang-pincang.
Emelly masuk ke kamar, mengganti pakaian batiknya dengan kaos biru tua dan celana panjang training warna hitam. Dia membuka ikat rambutnya, menyisir rambutnya yang panjang sepinggang, mematut diri di cermin.
"Kayaknya mesti di potong deh, biar nggak kepanjangan nih." ujar Emelly di depan cermin, menyanggul rambutnya dengan sumpit rambut. Dia keluar kamar membawa bunga mawar merah yang dia temukan tadi disekolah, memberikannya pada Dira yang menonton televisi.
"Dek, tadi ada yang naruh ini di jok motor gue."
"Emang dari siapa?" tanya Dira ingin tahu, membuka kertas yang tersemat. "Cieeeee.... Mbak Nida punya secret admirer nih yeeee..." ledek Dira, padahal Emelly baru saja akan menjawab pertanyaannya.
"Tau tuh dari siapa, hari gini masih jaman ya rahasia-rahasiaan gitu?" kata Emelly sambil memulai makan siangnya.
"Hahahaha.. jangan-jangan ini dari Pak Soni mbak, lumayan tuh guru olahraga. Masih muda kok." Dira terbahak, lanjut meledek Emelly.
"Apaan sih lo?" Emelly merengut, menyuapkan nasi.
"Atau jangan-jangan dari Pak Gunawan, dia belum nikah lo mbak." Dira tak henti-hentinya meledek Emelly.
"Ih,, amit-amit deh. Bujang lapuk kaya gitu. Ogah gue, kaya nggak ada bujangan yang lebih oke aja." Emelly bergidik. Dira terbahak lalu membaca kertas berisikan puisi yang tersemat di bunga, dia memutar otak. Mencoba mengingat-ingat tulisan siapa itu, namun tak kunjung diingatnya. Tulisan yang agak familiar baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar