My Read Lists

Sabtu, 20 Oktober 2012

Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 1

Bandung, Juli 2007

Sinar mentari sore menyeruak diantara pepohonan, dan menerobos di sela-sela sisa awan yang berarak di langit. Aroma basah masih dapat tercium, sepertinya jejak hujan masih tertinggal. Kabut mulai berangsur-angsur memudar, semakin memperjelas rupa danau yang airnya tenang berwarna kehijauan. Di sekitar danau tetes embun masih bergelayut di setiap ujung dedaunan dan rerumputan. Harmoni orkestra katak mulai bersahutan dengan suara tupai-tupai nakal yang asyik berkejaran di pepohonan.
Di tepi danau, seorang gadis berkerudung hitam berdiri tertunduk memandang sebuah gelang dalam genggamannya, terbuat dari bambu, bertuliskan nama RAY. Dia lalu memasukannya ke dalam saku jaketnya yang berwarna merah, kemudian menghembuskan nafas ke kedua telapak tangannya. Uap hangat muncul dari mulutnya, seketika dia gosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu dia masukkan lagi ke dalam saku jaket. Kembali dia merogoh dan mengeluarkan gelang itu, dia pandangi dengan seksama. Pikirannya menerawang, mengingat saat gelang itu pertama kali dibuat.

"Kita ukir pakai nama apa ya??" tanya gadis itu.
"Gimana kalo nama kita aja, terus ntar kita tukeran deh buat kenang-kenangan". jawab seorang laki-laki yang bahunya sama tinggi dengan si gadis. Mengenakan kaos putih, jeans biru dan topi hitam, laki-laki itu memilih gelang yang akan diukir. "Yang ini aja ya?" menyodorkan dua buah gelang terbuat dari bambu kepada si gadis sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Hhmm... oke deh." si gadis membalas senyumannya dan menerima gelang yang diberikan padanya."Pak, yang ini diukir pake nama Ray, terus yang satunya Emelly ya." pintanya pada si penjual gelang yang masih mengukir gelang milik pembeli lain.
Bapak penjual mengulurkan tangan menerima gelang, kemudian memberikan sebuah pulpen dan kertas. "Namanya ditulis disini aja neng, takut salah eja." katanya tersenyum ramah.
Si gadis menulis dua nama, melirik laki-laki disebelahnya yang ternyata masih asyik melihat-lihat kerajinan lain di meja stand ukir gelang tersebut. "Ray, sini." panggil si gadis, laki-laki itu menoleh dan mendekat.
"Apa lagi si bawel?" jawabnya. "Kaya gini aja apa diukirnya?" si gadis meminta pendapat sambil menunjukkan kertas  bertuliskan RAY dan EMELLY. "Painem sama Paijo juga boleh." laki-laki itu terkekeh.
Si gadis berpura-pura memasang wajah cemberut, tanpa menghiraukan jawaban si laki-laki selanjutnya dia langsung menyerahkan kertas di tangannya ke si penjual. Si laki-laki hanya tersenyum memandang si gadis. Dipandangnya setiap detail dari si gadis yang mengenakan kaos lengan panjang hitam, rompi abu-abu, rambutnya yang diikat satu, lalu poninya yang sering dia sibakkan ke belakang telinga.
"Nggak usah liatin gue kaya gitu deh Ray, ntar jatuh cinta lho." kata si gadis yang masih sibuk memegang kerajinan bambu tanpa menolehkan wajahnya.
"PD banget sih, siapa juga yang lagi liatin lo?" jawabnya agak gugup, langsung memegang sebuah celengan bambu. "Gue lagi liatin ini Emelly." sahutnya sambil menunjuk celengan.
Si gadis yang dipanggil Emelly itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, tanpa menghiraukan apa yang dikatakan laki-laki yang dia panggil Ray itu.
"Neng, ini udah jadi. Silakan diperiksa dulu, barangkali ada yang salah atau kurang sreg." suara bapak penjual membuat si gadis yang bernama Emelly itu meletakkan sebuah figura bambu. Kemudian dia menerima gelang yang disodorkan si penjual, mengamatinya dengan seksama.
"Iya pak, udah bener kok. Berapa pak?" katanya sambil mengambil dompet.
"Enam ribu aja neng." Emelly menyerahkan selembar lima ribuan dan seribuan kepada si bapak , lalu mengucapkan terimakasih. Dia menghampiri Ray yang masih asik melihat-lihat stand sketsa wajah, menarik lembut tangannya dan memakaikan gelang berukirkan tulisan EMELLY. Ray agak kaget menerima perlakuan Emelly tersebut.
"Coba lihat punya lo." katanya sambil dengan halus melepas pergelangan tangannya dari tangan Emelly, kemudian menerima gelang berukirkan RAY. Ray memakaikan gelang tersebut pada Emelly.
"Jangan sampai ilang ya!" tanpa diduga mereka mengatakan hal yang sama secara bersamaan. Mereka saling tersenyum, dan berlalu meninggalkan pameran karya seni disebuah gedung serbaguna dekat rumah Ray.

Gadis itu terisak, menggenggam gelang ditangannya dengan sekuat tenaga, lalu melemparkannya ke arah danau. "Lo udah tinggalin gue Ray, jadi gue nggak akan tunggu lo lagi." Gadis itu memandang air danau sejenak, menghapus air matanya, lalu berbalik meninggalkan danau.

***

Jakarta, Januari 2012

Emelly mengerjapkan matanya, masih sangat mengantuk, menguap. Dia meraih handphone yang alarmnya masih menjerit dengan nyaring. Dia melihat pukul berapa sekarang, di layar tertera 4.30 a.m, kemudian mematikan alarmnya. Dengan ogah-ogahan dia beringsut menuju kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu. Suara adzan subuh bergema di langit. Emelly segera keluar kamar, ternyata ayah dan adik laki-lakinya, Dira, sudah menunggunya di ruang tamu.
"Cepetan Da, nanti kita ketinggalan jama'ah." kata ayahnya yang sudah rapi mengenakan sarung berwarna dominan hitam, dan baju koko merah marun. Rambut putih menyembul dari balik peci hitamnya, wajahnya teduh namun menenangkan.
"Iya, sabar Yah." jawab Emelly, yang dipanggil Nida oleh ayah dan adiknya, karena Emelly Nida adalah nama lengkapnya. Emelly segera mengenakan atasan mukena putihnya, sedang rok hitamnya masih belum ditutupi oleh bawahan mukenanya, dia akan mengenakannya jika sudah sampai di mushola depan rumahnya.
"Ayo mbak, cepetan! Bentar lagi iqamah." kata Dira sambil membuka kunci pintu, mengenakan sarung kotak-kotak biru dan baju koko putih, sajadah dia sampirkan di pundak kirinya. Mereka bertiga segera melangkah ke mushola Baitul Karim, tepat di depan rumah Emelly, melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama dengan warga kompleks perumahan Puri Dharmawangsa.

Jam 6.30 pagi, Pak Furqanul Fauzi, ayah Emelly tengah bersiap untuk sarapan. Beliau masih terlihat gagah mengenakan seragam POLRI di usianya yang tinggal 2 tahun lagi pensiun. Emelly sedang menyiapkan hidangan sarapan, aroma nasi goreng tercium sangat menggoda selera, Emelly pun segera menghidangkan nasi goreng dan tempe goreng kesukaan ayahnya.
"Nasi goreng lagi mbak?" Dira tiba-tiba muncul dari belakang Emelly, lengkap dengan seragam SMA dan tas slempang hitamnya, mencomot tempe goreng dan segera melahapnya.
"Iya, kenapa? Kamu bosen ya?" jawab Emelly sambil mengambilkan piring, menyendokkan nasi goreng, lalu memberikannya ke sang ayah.
"Bersyukur Zan, beruntung kita masih bisa sarapan. Masih banyak yang nggak bisa sarapan kaya kita, anget lagi." sahut ayahnya sambil mengambil tempe goreng, lalu berdoa sebelum menyendok nasinya.
"Iya Yah, maaf." jawab Dira sambil mengambil nasi goreng ke piringnya.
Dira dipanggil Fauzan oleh ayahnya, sesuai dengan namanya Andira Fauzan. Di keluarga Emelly, ayah dan almarhum ibunya memanggil Emelly dan Dira dengan nama belakang mereka. Sedang dilingkungan luar, mereka dipanggil dengan nama depannya.
"Emang kamu mau sarapan apa Zan?" tanya Emelly pada Dira di sela-sela mengunyah sarapan.
"Hmm.. apa sih ya mbak yang enak buat sarapan? Nasi putih aja sama telur dadar juga boleh, biar nggak bosen nasi goreng terus.. hehe." jawab Dira sambil menyendokkan nasinya.
"Ya udah, besok mbak bikinin itu. Kalo ayah mau sarapan apa?" tanya Emelly pada sang ayah.
"Kalo ayah si apa aja mbak yang penting tempe goreng nggak boleh ketinggalan." sahut Dira yang menjawab pertanyaan Emelly, nyengir sambil meminum air putihnya. Sang ayah hanya tersenyum membenarkan ucapan anak bungsunya.
"Pamit dulu Yah, mbak." Kata Dira sambil mencium tangan ayahnya yang sedang menyendok suapan terakhirnya, lalu menyentuh pundak Emelly yang hanya setinggi dadanya.
"Hati-hati Zan." kata Emelly hampir bersamaan dengan ayahnya. Dira keluar rumah dan segera menggowes sepeda fixienya yang berwarna hijau lumut, berlalu dari pandangan Emelly dan ayahnya.
"Ayah berangkat dulu ya Da, kamu hati-hati nanti berangkat ke sekolahnya. Bismillah jangan lupa, hari ini hari perdanamu mengajar kan?". kata ayah Emelly.
"Iya yah, insya Allah Nida bisa. Kan Nida juga udah pernah praktek ngajar." jawab Emelly. "Ya barangkali nanti kamu gugup. Ya udah, ayah berangkat dulu." Emelly mencium tangan ayahnya yang segera menyusul Dira meninggalkan rumah, berangkat ke kantor Polsek tidak jauh dari rumahnya.
Setelah ayah dan adik laki-lakinya berlalu, Emelly segera membereskan piring-pring dan gelas sisa sarapan di meja, kemudian mencucinya. Lalu dia mematut diri sebentar di cermin lemari kamarnya, membenarkan letak kerudung biru mudanya yang senada dengan seragam biru tua yang dia kenakan.
"Jadi keliatan kaya bu guru." gumamnya sembari menyapukan bedak ke wajah putihnya. Kemudian dia mengambil buku yang akan dia gunakan untuk mengajar, lalu memasukannya ke dalam tas hitam yang biasa dia bawa di pundak kanannya dan keluar rumah mengunci pintu.
"Bismillah." kata Emelly sambil menyetater motor matic hitamnya menuju SMA Bina Karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar