Mentari menyapa ramah penghuni bumi dengan kehangatan sinarnya, menyentuh lembut embun yang bergelayut manja di ujung dedaunan. Menguap, menebarkan aroma basah sisa hujan tadi malam. Hiruk pikuk jalanan mulai terasa, orang-orang segera memulai aktifitas paginya. Jalanan penuh sesak dengan metromini dan angkot, dijejali gerombolan remaja berseragam putih abu-abu, dan putih biru. Mobil-mobil seakan ingin meramaikan suasana, berjejal memadati jalanan yang macet oleh ribuan pengendara sepeda motor.
Emelly mulai harap-harap cemas, melirik ke arah jam di pergelangan tangan kirinya. Tangan kanannya masih bersiap untuk menarik gas, dan melaju ke sekolah tempat mengajarnya. Dia khawatir akan terlambat dihari pertamanya mengajar. Dengan sedikit gerakan tangan, dia menaikkan kecepatan sepeda motornya, dan mulai memasuki sebuah gerbang sekolah di kawasan Jl. Gatot Subroto. Di depan gerbang dia berhenti sejenak, antri bersama dengan murid-murid yang sedang berjejal memasuki sekolah. Dia mendongakan kepala, membaca sebuah tulisan SMA BINA KARYA di atas pintu gerbang sekolah.
"Selamat pagi Bu Emelly." sapa Pak Nardi, satpam sekolah.
"Selamat pagi Pak." Emelly membuka kaca helm, membalas sapaan dan tersenyum ramah. Dia melaju menuju parkiran sepeda motor di samping kanan lobi sekolah. Melepaskan helm, meletakkannya di bawah jok motornya. Dia tersenyum pada beberapa guru yang juga masih di area parkiran. Emelly menghembuskan nafas, dan melangkah menuju ruang guru.
"Siap dengan hari pertama mengajar Bu?" sapa Bu Rina, guru Fisika yang meja kerjanya persis di sebelah Emelly.
"Oh, sangat siap dong bu." jawab Emelly dengan penuh keyakinan, duduk dan merapikan meja kerjanya. Mulai mengeluarkan buku-buku yang dia siapkan dalam tas hitamnya, membuka buku silabus dan jadwal mengajarnya. Memeriksa kelas mana yang akan dia masuki, dan materi apa yang akan dia ajar.
Teeeng... Teeeng...!!
Lonceng sekolah berbunyi, Emelly melirik jam tangannya, tepat pukul 7. Dia beranjak dari tempat duduknya, melangkah bersama dengan guru-guru lain yang juga akan mengajar. Dia berjalan beriringan dengan Bu Rina, menyusuri koridor sekolah, menuju kelas XI IPA 2.
***
"Woooyyy!! Kita kedatangan guru Bahasa Inggris baru temen-temen." seru Arga, ketua kelas XI IPA 2.
"Jadi bukan Pak Desta lagi yang ngajar kita?" tanya Kinanti.
"Bukan, kemarin gue baru di kasih tau sama Pak Desta, kalo beliau nggak ngajar kita di semester 2 ini. Beliau mesti bolak balik ke Singapura buat pengobatan kankernya. Kita doain aja semoga beliau cepet sembuh dan bisa balik kumpul bareng kita lagi." Arga menjelaskan. "Amiiin.." seluruh murid mengucap hampir serempak.
"Guru barunya cewek apa cowok Arga?" celetuk Agung, remaja jangkung yang duduk di pojok kanan depan, di dekat pintu kelas.
"Cewek, cuma gue masih belum tau siapa namanya, katanya sih cantik..hehe." cengir Arga.
"Really?" celetuk Emelly didepan mulut pintu kelas XI IPA 2.
Arga menengok ke arah pintu, sejenak memandang guru baru yang baru saja dia katakan cantik, berdiri mematung, lalu berkata, "Definitely."
"Pardon me." jawab Emelly memasuki ruang kelas dan meletakkan buku-bukunya di meja guru.
"Eh.. I'm sorry Ma'am." jawab Arga tergagap, segera kembali ke bangkunya. Murid-murid lain hanya tersenyum geli melihat tingkah ketua kelas mereka itu.
Emelly memandang seluruh isi kelas berwarna biru langit itu, tersenyum menatap murid-murid barunya. Ingin memberi kesan pertama yang baik pada mereka.
"Beneran cantik Ar." celetuk Agung lagi, membuat seluruh isi kelas heboh.
Emelly tersenyum, melihat sekeliling lalu menyapa. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab seluruh isi kelas serempak.
"Well, who is the leader of this class?" tanya Emelly. Arga mengacungkan tangan, wajahnya sumringah. "Praying, please." kata Emelly.
"Let's pray together!" Arga memberi aba-aba. Seluruh murid menundukkan kepala, berdoa sebelum memulai aktifitas belajar mereka. "Finish." mereka menegakkan kembali kepala mereka.
"Thank you." Emelly menganggukkan kepala pada sang ketua kelas, yang dia masih belum tahu siapa namanya, remaja laki-laki itu tersenyum padanya. "Well, I'm your new English teacher. Have you known it?" Emelly membuka percakapan.
"Yes I have, Ma'am." jawab murid-murid.
"OK, don't waste the time. Lets start our lesson today." Emelly to the point, menunggu reaksi murid-muridnya.
"Kok nggak kenalan dulu Bu? Kan kita belum tau nama Ibu." seru Kinanti tiba-tiba.
"Iya Bu, masa langsung mulai pelajaran. Pemanasan dulu dong bu, kenalan gitu..hehe." Agung nyengir sambil menyenggol Arga yang duduk disebelahnya. Arga menganggukan kepala, mengiyakan.
"Baik, apa yang ingin kalian ketahui dari saya, silakan bertanya. Saya akan menjawabnya." jawab Emelly, sudah menduga bahwa murid-muridnya akan meminta kenalan lebih dulu. Dia memang sengaja tidak membuka perkenalan lebih dulu, dia lebih suka muridnya antusias terhadap dirinya.
"What's your name Ma'am?" tanpa membuang kesempatan, Arga bertanya.
"My name is Emelly Nida. You can call me Ms. Em." jawab Emelly sambil menuliskan namanya di white board.
"Ohh.." seisi kelas ber-oh ria.
"Any other?" Emelly bertanya lagi.
"How old are you Ms?" seorang murid laki-laki di belakang Arga bertanya. Emelly memandangnya sejenak, tersenyum penuh arti. Murid itu ternyata Dira, adiknya, nyengir jahil kepadanya. "Dasar anak nakal, mau bikin malu gue nih anak, biar gue keliatan tua didepan temen-temennya." gumamnya dalam hati.
"What do you think?" Emelly balik bertanya.
"Seems like seventeenth." Dira menjawab, seisi kelas geger. Emelly tertawa ringan. "Next." Emelly melanjutkan.
"Are you single?" tanya Agung. "Huuuuuuuuuu..."seisi kelas serempak.
"I think we can start our lesson today. Shall we?" jawab Emelly sambil tidak henti-hentinya menebar senyum manisnya.
"OK Ma'am." jawab murid-murid.
"Let me know you all first, Andira Fauzan." Emelly meraih daftar absen kelas, memanggil nama mereka satu persatu. Dira mengacungkan tangan saat namanya disebut, disusul oleh teman-temannya.
"Kinanti Ayu Larasati.. Lazuardi Arga Pamungkas." remaja perempuan yang duduk didepan white board dengan potongan rambut bob mengacungkan tangan, disusul si ketua kelas. "Oh, nama kamu Arga." kata Emelly, Arga menundukkan kepala, tersipu malu, entah apa yang sedang dia rasakan.
Emelly menyelesaikan daftar presensinya, kemudian memulai pelajaran yang di awali dengan materi Analytical Exposition.
***
Lonceng pulang sekolah berbunyi, Dira menghela nafas lega karena ingin segera pulang. Bersyukur mata pelajaran Fisika telah berakhir. Sambil memasukkan buku dan pulpennya, dia melirik Bu Rina tengah berjalan meninggalkan kelas. Tiba-tiba Arga yang juga sedang memasukkan buku ke dalam tas bertanya padanya. "Menurut lo, Ms. Emelly single nggak?"
"Emang kenapa? Sejak kapan lo tertarik sama yang lebih tua?hehe.." ledek Dira seraya melihat isi laci mejanya, memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Sialan lo! Tapi kan dia masih muda Ra, bener kata lo tadi, keliatan kaya tujuh belas tahun tuh orang. Pake obat apa tuh orang bisa awet muda gitu? Mungkin umurnya sekitar dua puluh empat kali ya?" Arga menerka, memakai tas slempangnya, beranjak dari bangkunya untuk segera keluar kelas.
"Apa nggak ketuaan? Gue malah ngira kalo Ms. Emelly tuh sekitar dua puluh dua tahun, mungkin." sahut Dira mengangkat bahu, menyusuri koridor sekolah berdampingan dengan Arga, menuju parkiran.
"Wah, muda banget kalo gitu ya? Baru jadi sarjana langsung ngajar, keren ya." ucap Arga menunjukkan rasa kagum, memakai helm, bersiap menaiki motor Ninja hitamnya.
"Kurang tahu juga gue, kan kita juga baru kenalan tadi. Gue pulang duluan sob." Dira sudah bersiap menggowes sepeda fixienya.
"Oke, jangan lupa ntar jam 4 futsal di Soccer!" Arga mengingatkan.
Dira mengacungkan jempol sambil mengayuh sepedanya, berlalu dari pandangan Arga. "Ada-ada aja tuh Arga, Mbak Nida nggak doyan lah sama brondong macem lo. hehe." gumam Dira dalam perjalanan pulangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar