"Sini mbak obatin dulu kaki mu yang memar Zan." kata Emelly setelah sampai di rumah sepulang dari kantor Satlantas.
Emelly membuka pintu rumah, melihat jam dinding di atas daun pintu rumahnya yang menunjukkan pukul sembilan malam. Lantas bergerak menuju kotak obat yang menempel di ruang keluarga berwarna salem. Mengambil kapas, antiseptik, dan gel pereda memar. Dira memasuki rumah sambil dipapah Pak Fauzi, berjalan dengan sedikit terpincang-pincang, lalu didudukkan di kursi tamu. Pak Fauzi berlalu ke kamarnya sementara Emelly berjongkok di depan meja tamu, menuang antiseptik ke dalam mangkok berisi air bersih, mengoleskannya ke lutut kanan dan tulang kering Dira.
"Aduuuuh!! Pelan-pelan ngapa sih lo! Sakit tau nggak sih gue." Dira menjerit kesakitan.
"Fauzan... yang sopan. Sejak kapan kamu jadi ber gue-elo sama mbak mu?" Pak Fauzi tiba-tiba keluar dari kamar, telah berganti kaos abu-abu dan mengenakan sarung bermotif kotak-kotak, senada dengan warna atasannya. Duduk di ruang tamu, mengawasi Emelly yang mengobati adiknya.
"Sukurin." mulut Emelly bergerak-gerak tak bersuara, meledek Dira yang meringis kesakitan.
"Maaf yah, Fauzan kan reflek ngomong gitu, habis mbak Nida nggak pake perasaan gitu sih ngobatinnya. Kan sakit Yah." jawab Dira membela diri, lalu menjulurkan lidahnya ke Emelly.
"Memarnya lumayan lebar nih Zan, mbak kasih thrombo gel aja ya. Ntar kamu olesin lagi sendiri kalo tiap habis mandi, pokoknya tiap gelnya udah kering." kata Emelly sambil mengoleskan gel pereda memar.
"Iya mbak, sini aku olesin sendiri aja. Mbak istirahat aja sana." kata Dira seraya meminta gel yang ada di tangan Emelly. Emelly berdiri, menuju dapur. Hendak memasak sesuatu.
"Kita kan belum makan malam, mbak masakin fuyung hai aja ya." usul Emelly.
"Tempe goreng Da, jangan lupa." celetuk Pak Fauzi sambil membaca koran.
"Iya yah, tenang aja, itu kan menu wajib keluarga kita." jawab Emelly sambil mengambil beberapa buah telur dari kulkas kemudian mengiris kobis dan wortel.
"Sampe-sampe muka kita mirip tempe ya mbak?" kata Dira cengengesan, berjalan agak pincang menuju kamarnya yang tepat disamping kamar Emelly. Emelly hanya tertawa ringan, diiringi senyum simpul Pak Fauzi.
Emelly menghidangkan sepiring fuyung hai dan tempe goreng di meja makan, tak lupa saus asam manis yang penuh bawang bombay dan kacang polong kesukaan Dira. Biasanya dia guyurkan di atas fuyung hai. Pak Fauzi segera duduk dan menunggu Emelly mengambilkan nasi, sedang Dira masih belum keluar dari kamarnya.
"Raaaa!! Cepetan makan, udah malem. Ntar dingin loo." teriak Nida. Pak Fauzi memulai suapan pertamanya, tidak berkomentar.
Emelly mengambil nasi, mencomot tempe, lalu beranjak ke kamar Dira yang tidak menyahut. "Dek, makan dulu, kamu belum makan lo." kata Emelly di depan pintu kamar Dira.
Menunggu suara dari kamar Dira yang tak kunjung muncul, Emelly membuka kenop pintu. Ternyata tidak dikunci. Dira sudah terlelap.
"Hmm, belum makan malah udah tidur. Udah dibikinin makanan kesukaannya juga" gerutu Emelly melangkah ke meja makan, memulai makan malamnya.
"Udah biarin aja, dia mesti kecapekan Da. Besok kan bisa dimakan pas sarapan." Pak Fauzi menyendok dua suapan terakhirnya.
"Iya Yah." Emelly menyahut, sambil mengunyah, menyelesaikan makan malamnya. Sedang Pak Fauzi sudah selesai, kemudian duduk di ruang keluarga samping kanan meja makan. Berhadapan dengan ruang tamu, dengan latar belakang dapur dan lemari cokelat di atasnya, menempel di dinding. Beliau menyalakan televisi.
***
Emelly sulit memejamkan mata, padahal jam weker di meja samping kanan tempat tidurnya telah menunjukkan pukul 22.30. Setiap menutup mata, bayangan wajah Briptu Handika muncul, diselingi dengan bayangan-bayangan Ray waktu SMA. Emelly terbangun, lalu beranjak turun dari tempat tidurnya. Mengambil kerudung hitam langsungan, dan jaket merah abu-abu yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Dia segera memakainya, mematut diri di cermin sebentar lalu membuka pintu kamarnya.
Ternyata lampu di ruang tamu sudah dimatikan, baik ayahnya dan Dira sudah terlelap di kamar masing-masing. Emelly membuka pintu rumahnya, keluar dan kembali menguncinya. Dia membuka grendel pintu gerbang yang berwarna hitam mengkilat, lalu melangkah ke taman kecil masih dalam kompleks perumahan. Dia berjalan melewati beberapa rumah tetangganya, melewati pos kampling di ujung jalan blok B. Ternyata masih ramai di huni bapak-bapak yang asyik mengobrol di sela kegiatan ronda. Emelly menyapa mereka sejenak, berbasa-basi kemudian belok ke kiri. Tidak sampai sepuluh langkah, taman kecil di kompleks Puri Dharmawangsa sudah terlihat. Sepi, tanpa satu orang pun.
Taman berukuran sekitar 30 x 30 meter ini cukup cantik, dengan rumput hijau terhampar dan beberapa buah lampu taman berbentuk bulat telur di setiap sisinya. Bangku taman bercat hitam dengan sandaran pun tersedia di lima tempat, menyebar tak beraturan. Dua ayunan berwarna biru dan merah terletak berdampingan di sebelah kanan taman. Lalu sebuah perosotan dan papan jungkat-jungkit terletak berhadapan dengan ayunan. Taman ini sering dipakai warga kompleks rumah Emelly untuk bermain anak-anak di sore hari, tak jarang banyak juga tetangga Emelly yang mengajak anak mereka yang masih balita untuk bermain bersama kawan sebayanya.
Emelly menuju sebuah bangku di sebelah kiri taman, tidak terlalu jauh dari jalan utama kompleks perumahan yang terbuat dari paving blok. Dia menghela nafas, mendongakkan kepalanya, memandang langit yang hitam kelam tanpa ada satupun bintang. Teringat lagi olehnya peristiwa tadi di kantor Satlantas, bagaimana saat dia berhadapan dengan Briptu Handika. Lalu tiba-tiba bayangan bersama Ray muncul, saat mengunjungi sebuah pameran karya seni, dia dan Ray membuat sepasang gelang yang terbuat dari bambu berukirkan nama mereka.
"Coba lo sekarang ada disini Ray, gue pingin cerita." gumam Emelly.
"Cerita aja lagi, kaya nggak biasanya."
Emelly menoleh ke samping kanannya, Ray sudah berada disana. Mengenakan kaos putih dan topi hitam, persis sama dikenakannya saat mengunjungi pameran. Duduk bersandar disamping kanan Emelly, menghadap ke depan.
"Lo pergi kemana aja sih?" Emelly menatap sosok Ray didepannya.
"Gue nggak pernah pergi Em, gue selalu ada di hati lo." jawab Ray tersenyum. Emelly diam mengiyakan, hanya membalas senyuman Ray. Lalu melirik tangan Ray, gelang bambu bertuliskan EMELLY masih menghiasi pergelangan tangannya.
"Lo masih pake gelang itu?" tanya Emelly.
"Tentu aja, kan dulu kita udah janji, kalo gelang ini nggak boleh ilang." Ray mengubah posisi duduknya, menghadap Emelly.
Sejenak Emelly membalas tatapan Ray, lalu menghadap ke depan tak menghiraukan Ray yang masih menatapnya. Perasaan menyesal tiba-tiba muncul karena Emelly telah membuang gelang bambu bertuliskan RAY ke danau dekat tempat tinggalnya dulu di Bandung.
"Gue kangen lo Ray." ucap Emelly, matanya berkaca-kaca. "Gue pingin lo balik dan ada buat gue sekarang, lo mau ka...."
Belum sempat Emelly menyelesaikan kata-katanya, saat dia menoleh, Ray menghilang dari pandangannya. Ternyata tadi hanya pikirannya saja yang menghadirkan sosok Ray dihadapannya. Emelly menunduk, terisak. Dadanya sesak, hatinya terasa sakit sekali, rindu ibunya, rindu Ray.
***
Keesokan harinya, seperti biasa Emelly mengawali paginya dengan shalat shubuh berjama'ah bersama ayahnya di mushola Baitul Karim. Namun pagi ini Dira absen, karena dia masih susah untuk berjalan dan berlutut saat posisi sujud, sehingga dia shalat dengan cara duduk dan kakinya diselonjorkan di tempat tidur. Dira juga absen berangkat sekolah hari ini karena memar di tulang keringnya sedikit lebih parah dari kemarin.
"Ayah berangkat ke kantor dulu ya Da. Kamu hati-hati dijalan nanti ke sekolahnya. Oh ya, ini buat benerin lampu motormu." Pak Fauzi berpamitan setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, kemudian mengambil dompet dan memberikan selembar lima puluh ribuan.
"Hmm, nggak usah Yah. Nida masih ada uang kok." Emelly menolak dengan halus.
"Udah nggak papa, buat jajan kamu juga. Lama ayah nggak kasih kamu uang jajan." Pak Fauzi memaksa.
"Hehe, ya udah deh kalo ayah maksa. Makasih Yah." Emelly nyengir sambil menerima uang yang diberikan ayahnya.
"Buat jajan Dira mana Yah?" Dira tiba-tiba muncul dari kamarnya, masih terpincang-pincang.
"Halah... kamu kan hari ini istirahat di rumah, jadi nggak jajan kan? Ayah berangkat dulu." Pak Fauzi berpamitan, tak lama berselang terdengar suara motor yang berlalu dari rumah Emelly.
"Ah, ayah mah pilih kasih. Giliran sama lo aja dikasih uang jajan, kan lo udah punya duit ndiri mbak." gerutu Dira saat berjalan menuju meja makan untuk sarapan.
"Hahaha, gitu aja ngambek lo. Eh lagian ya..... kalo lo nggak jatuh, itu motor nggak perlu dibenerin kan?". jawab Emelly sambil mengunyah suapan terakhirnya.
"Gue kan nggak minta naik motor lu mbak, lu ndiri yang nawarin kan? Jadi bukan salah gue dong." Dira masih menggerutu. "Hmm,, lumayan nih bukan nasi goreng lagi." lanjut Dira mengambil fuyung hai sisa tadi malam, lalu mengguyurkan saus asam manis ke atasnya.
"Lo juga nerima tawaran gue kan? Hehe, iya iya, gue yang salah. Kalo aja lo nggak naik motor kemaren, lo nggak akan kecelakaan." ucap Emelly terdengar menyesal, kemudian menyuci piring.
"Eh biasa aja lah mbak, gu...gue nggak nyalahin lo lagi. Na...namanya aja kecela..kaan, gue aja... yang nggak ati-ati." jawab Dira dengan mulut penuh.
"Iya iya, ya udah, nih dua puluh ribu buat beli pulsa. Jaga rumah baik baik." kata Emelly meletakkan uang dua puluh ribu di meja makan, lalu masuk ke kamarnya.
"Makasih mbak, ati-ati lo di jalan." jawab Dira memasukkan uang yang diberikan Emelly ke saku celananya.
"Iya, gue berangkat dulu. Assalamualaikum." kata Emelly keluar dari kamar, lalu berangkat mengajar.
"Sendirian deh." gumam Dira menyelesaikan sarapannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar