My Read Lists

Minggu, 21 Oktober 2012

Kehilangan Rasa Kehilangan Bagian 3

Emelly mengemasi buku-buku di meja kerjanya, memasukkannya ke dalam tas. Dia bergegas meninggalkan ruang guru yang mulai sepi ditinggalkan penghuninya, hanya terlihat Pak Hadi dan Bu Titi yang terlihat sibuk mengoreksi tugas siswanya. Emelly berpamitan dan menyalami keduanya, tersenyum dan mengangguk takzim. Kemudian dia menuju pelataran parkir, memakai helm dan menyetater motornya. Motor matic hitamnya mulai melaju meninggalkan area SMA Bina Karya, menyusuri sepanjang Jl. Gatot Subroto, dan menuju Jl. Jend. Soedirman. Dalam benaknya ingin segera sampai ke toko yang menjual bahan membuat roti, lalu membeli segala keperluannya untuk membuat brownies. Sampai di perempatan lampu merah, kira-kira 250 meter tidak jauh dari toko yang dia tuju, Emelly berhenti menunggu lampu hijau menyala. Pandanganya dia sapukan ke segala arah, seperti pengendara motor berjaket kulit gelap di sebelah kanannya, lalu pos polisi di samping kiri jalan. Emelly seketika terhenyak dengan apa yang dilihatnya.

"Astaghfirullah, Ray." Emelly terkejut bukan main saat melihat sosok polisi lalu lintas yang terlihat sedang berdiri di samping pos polisi, mengawasi lalu lintas jalan. Polisi itu terlihat sangat lelah dan kepanasan, untuk kesekian kalinya dia mengusap keringat di keningnya. Dia sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya. "Nggak mungkin Ray kembali, nggak mungkin." kata Emelly dalam hati.

Tiiiiiiiiiiinnn....!!!!!

Suara klakson mengagetkan Emelly yang masih menatap lekat sosok polisi itu. Dia tersadar, melihat ke arah lampu hijau yang menyala, kemudian dengan buru-buru menarik gas. Dia tidak enak pada pengguna jalan yang lain karena sempat mematung di jalan tadi. Emelly segera memarkirkan motornya di area parkir toko yang dia tuju tadi. Kemudian segera membeli apa yang dia butuhkan, dan berlalu meninggalkan toko itu menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah, Emelly meletakkan barang belanjaanya di meja ruang tamu, lalu bergerak menuju kamarnya. Dia berganti pakaian, di pilihnya kaos lengan pendek berwarna cokelat dan celana hitam selutut. Pikirannya masih saja menampilkan bayangan wajah polisi yang dia lihat di jalan tadi. Dia merebahkan diri di tempat tidurnya. Perasaan senang menyeruak di hatinya, namun akal sehatnya cepat bereaksi.

"Nggak mungkin Ray kembali lagi. Dia udah pergi jauh dan bahagia dengan orang lain. Ray juga nggak mungkin jadi polisi." Emelly bergumam sendiri dalam kamarnya.

Kamar berukuran 3 x 4 meter, berwarna hijau pupus, dengan jendela yang terbuka separuh. Di dekat jendela terpampang rapi foto-foto di atas sebuah meja kecil. Fotonya bersama Dira, bersama ayah dan almarhum ibunya, serta foto mereka berempat semasa ibunya masih hidup. Ibunya meninggal satu tahun yang lalu karena penyakit kanker serviks. Saat itu Emelly masih semester 7, dia dikabari ibunya meninggal setelah selesai melaksanakan ujian praktek mengajar. Emelly tentu saja sangat kehilangan ibunya, tapi dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dia sadar tugasnya menggantikan sosok ibu dalam rumahnya, untuk mengurus ayahnya dan Dira. Dia bukan gadis belasan tahun yang harus menangis terus-terusan saat kematian menjemput ibunya, walaupun hal tersebut tetap saja meninggalkan luka yang mendalam di hati.

"Mbak, udah pulang belum?" suara Dira yang mengetuk pintu kamarnya membangunkan Emelly yang tidak sadar sejenak tertidur. Dia terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya, membuka pintu.
"Kenapa Zan?" jawabnya sambil mengikat rambutnya yang panjang sepinggang, Dira masih berdiri di depan pintu kamarnya. Mengenakan kaos berwarna orange-hitam dominan, dengan warna orange bertuliskan X.1 DIRA di dada kirinya.
"Gue berangkat futsal dulu ya, udah ditunggu temen-temen." jawabnya sambil memasukkan sepatu bola dan botol air mineral kedalam tas slempangnya.
"Main berapa jam emang? Lo udah makan?" Emelly berjalan keluar kamar, melangkah ke meja makan, menuangkan air putih kemudian meminumnya.
"Dua jam, kaya biasa. Ntar magrib juga udah nyampe rumah. Gue udah makan nasi goreng sisa sarapan tadi kok. Gue berangkat ya." kata Dira bersiap keluar rumah, menaiki sepeda kesayangannya.
"Lo nggak mau pake motor gue aja? Lumayan panas, kasian lo belum main udah kecapekan gara-gara naik sepeda." Emelly menawarkan.
"Aduuuhh... kakak gue pengertian banget si. Ya udah gih sono ambilin kontak motor lu." kata Dira senang, mengembalikan sepedanya ke garasi. Emelly masuk ke kamar, mengambil kontak motor lalu memberikannya ke Dira.
"Ati-ati di jalan ya, inget, lu belum punya SIM. Jadi lewat jalan yang sepi aja, ntar ketilang lagi." Emelly mengingatkan.
"Iya bawel, hehe." kata Dira menyetater motor, "Assalamualaikum." dan berlalu meninggalkan Emelly yang masih berdiri di teras rumah.
"Wa'alaikumsalam." jawab Emelly.
Adzan shalat ashar terdengar dari mushola depan rumah, Emelly segera masuk dan mengambil air wudhu, lalu bergegas menuju mushola dan melaksanakan shalat ashar berjamaah.

***

Selepas pulang shalat magrib berjamaah bersama ayahnya, Emelly mulai mengkhawatirkan Dira yang tidak kunjung menujukkan batang hidungnya. Tak henti-hentinya dia menghubungi Dira, karena SMSnya tak dibalas-balas.
"Sabar Da, bentar lagi mungkin Fauzan pulang. Lagi dijalan kali." kata ayahnya yang membaca buku di ruang tamu.
"Dia bilang magrib juga udah nyampe rumah Yah, ini udah mau isya juga belum keliatan." jawab Emelly cemas.
"Mungkin main dulu sama temen-temennya, dia kan cowok Da. Wajar kan nongkrong dulu, kamu nggak usah berlebihan gitu." ayahnya coba menenangkan.
"Iya juga ya Yah. Nida cuma takut Fauzan kenapa-napa." ucap Emelly.

Tak lama berselang, handphone Emelly menjerit, layarnya menampilkan sebuah nomor yang asing. Emelly mengerutkan keningnya, lalu menjawab telpon.
"Halo."
"Halo, bisa bicara dengan orang tua wali Andira Fauzan?" suara lawan bicara Emelly. Suaranya terdengar familiar. Emelly memandang ayahnya, lalu memberikan handphone.
"Ya dengan saya sendiri, ayahnya." jawab ayah Emelly.
"Begini pak, putra bapak mengalami kecelakaan. Sekarang sedang bersama kami di Kantor Satlantas Pusat." suara diseberang memberitahukan.
"Terus bagaimana keadaanya pak?" tanya ayah Emelly, namun dengan intonasi yang tenang.
"Alhamdulillah putra bapak hanya terkilir kakinya saja, silakan kami tunggu untuk dijemput."
"Baik pak, kami segera kesana. Terimakasih." ayah Emelly menutup percakapan di telpon.
"Ada apa Yah dengan Fauzan?" tanya Emelly cemas.
"Fauzan kecelakaan, sekarang di kantor Satlantas. Tapi alhamdulillah cuma terkilir kakinya. Kamu mau ikut kesana?" jawab ayahnya.
"Astaghfirullah, iya Yah, Nida siap-siap ganti pakaian dulu."

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Emelly keluar dari kamarnya mengenakan celana jeans hitam, jaket merah abu-abu dan kerudung abu-abu. Ayahnya sudah menunggu di ruang tamu, mengenakan celana hitam dan jaket hijau army. Mereka bergegas ke Kantor Satlantas Pusat.

***

Motor bebek buatan pabrik kenamaan Jepang melaju menuju Kantor Satantas, Pak Fauzi memboncengkan Emelly. Memasuki area kantor Satlantas, Pak Fauzi disambut teman-teman polisi yang sedang berjaga.
"Wah Pak Fauzi, ada keperluan apa nih kesini, nggak biasanya." seorang polisi bertubuh tambun menyapa ayah Emelly, tingginya hampir sama dengan Emelly.
"Selamat malam Pak Gito, iya nih, barusan di telpon katanya Fauzan kecelakaan, terus suruh jemput kesini." jawab Pak Fauzi.
"Oh, anak laki-laki yang tadi itu apa mungkin ya? Mari masuk dulu, biar saya panggilkan Briptu Handika dulu, tadi dia yang ngurusin." jelas polisi yang dipanggil Pak Gito oleh ayah Emelly.
Kemudian Pak Fauzi, Pak Gito, disusul oleh Emelly masuk ke ruangan utama kantor Satlantas. Mereka melihat Dira sedang duduk di ruang tunggu, melihat ayah dan kakaknya, dia nyengir.

"Yah, Mbak." Dira memanggil.
Emelly segera mendekat dan duduk disamping Dira, melihat pergelangan kaki kanan dan tulang keringnya yang berwarna kebiruan. Sedang Pak Fauzi masih menunggu orang yang Pak Gito panggilkan.
"Lo nggak papa?" tanya Emelly pada Dira, sambil memeriksa tangan dan wajah Dira. Takut ada yang lecet.
"Aduuuh mbak, lo biasa aja kali. Gue nggak papa kok, nih cuma kaki kanan gue yang bengep, tadi kejatuhan motor lo." jelas Dira.
"Emang gimana ceritanya sih lo bisa jatuh gitu?" tanya Emelly.
"Gue tadi mau pulang mbak, pas lewat perempatan Jl. Jensud itu, gue kan mau belok ke kanan tuh mbak, eh ada yang main nyalip gue. Padahal gue udah nyalain lampu sent, ya udah gue jatuh deh. Untung bapak polisi yang jaga di deket situ liat, terus nolongin gue. Terus temennya ngejar orang yang nyalip tadi." Dira menjelaskan.
"Syukur deh lo nggak kenapa-napa, gue khawatir banget tadi lo nggak pulang-pulang. Eh, motornya gimana??" tanya Emelly.
"Yaelah mbak, disaat kaya gini masih aja mikirin motor. Jahat banget lo." Dira mrengut.
"Hehe, ya kan antisipasi aja."
"Motor lu cuma pecah lampu sent kanannya doang, sama bempernya kegores dikit. Tenang aja, masih bisa dipake kok." jawab Dira.
"Alhamdulillah kalo gitu jadi nggak perlu gue bawa ke..." belum sempat Emelly menyelesaikan ucapanya, Dira memotong.

"Tuh polisi yang nolongin gue mbak." Dira menunjuk ke arah seorang polisi yang berjabat tangan dengan ayahnya. Emelly terkejut. Ternyata polisi yang dia lihat tadi siang.
Polisi itu berbincang sebentar dengan Pak Fauzi lalu mendekati Dira dan Emelly, "Gimana dek Dira, masih sakit kakinya? Bisa jalan nggak kira-kira?" tanya polisi itu.
"Udah nggak papa mas, bisa kok kalo buat jalan doang mah. Oh ya kenalin, ini kakak saya, namanya mbak Nida." ucap Dira sambil memperkenalkan Emelly.
"Handika. Panggil saja Han." ucap polisi yang mengulurkan tangannya pada Emelly. Emelly beranjak dari duduknya, menatap lamat-lamat sosok yang ada didepanya. Dengan ekspresi tak percaya, melirik ke arah name tag polisi tersebut, bertuliskan HANDIKA PAMUJI.

"Mbak." Dira menyenggol lengan Emelly, matanya mengisyaratkan tangan kanan polisi yang masih menggantung di udara.
"Eh,, Nida." jawab Emelly gugup, membalas jabatan tangan Briptu Handika.
"Begini mbak, lain kali adiknya jangan dibolehin naik motor dulu ya, kan belum punya SIM. Walaupun kecelakaan ini bukan murni kesalahan dek Dira, tapi Dira tetap di tilang karena tidak memiliki SIM." ucap Han panjang lebar.
"I...iya Pak." Emelly masih gugup, belum bisa mengendalikan sikapnya.
"Ya sudah, saya permisi dulu. Hati-hati di jalan nanti pulangnya." Han berpamitan, tersenyum ramah pada Emelly dan Dira, bersalaman dengan ayah mereka. Kemudian berlalu pergi masuk ke sebuah ruangan di dalam kantor itu.

"Semuanya sama, wajah, tinggi, senyumnya, bahkan suaranya. Tapi bagaimana bisa namanya Handika Pamuji? Kenapa bukan Ray Wibisono?" ucap Emelly dalam hati.
Isi kepalanya berputar-putar, masih memunculkan berbagai pertanyaan seputar miripnya Briptu Handika dan Ray, sahabatnya waktu SMA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar